Category: Rumah Adat

Membangun Program untuk Guru TK dan PAUD di Malang Barat : Warung Bergulir

Kesejahteraan guru Taman Anak- anak sampai PAUD sampai saat ini masih memprihatinkan, terutama di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Jalinan Guru Taman Anak- anak Indonesia( IGTKI) mengatakan rata- rata dari mereka cuma menemukan bayaran Rp100 ribu per bulan.

Jumlah segitu hanya cukup dihabiskan dalam waktu satu hari. Melihat keadaan itu, Yayasan Janaka dari Janaka Indonesia Group membagikan pemecahan jangka panjang dengan Program Pinjaman Pemodalan Warung Bergulir.

Bagi Rino Lande sebagai pendiri Janaka Group, program itu lebih solutif daripada membagikan dorongan dana ataupun sembako yang bakal habis dalam sebulan. Rino lebih berpikir mencarikan pemecahan partisipatif.

Program ini setelah itu ditetapkan langsung pada Rabu( 5/ 10/ 2022) kemarin di TK Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Total terdapat dekat 90 guru yang tergabung di IGTKI Malang.

“Nanti anggota di kelompok itu ikut memonitoring penerimaan bantuan. Jadi kalau yang penerima awalnya tidak sukses, maka yang di bawahnya ini tidak kebagian. Sehingga kita bagi setiap kelompok terdiri dari 3-5 orang,” jelasnya.

Tidak menyudahi hingga di sana, 10 warung awal yang menerima dorongan itu diharuskan menabung sebesar Rp10 ribu per orang tiap hari. Dalam sebulan, hendak terkumpul Rp300 ribu per orang. Bila dikalikan 10 orang, hendak jadi Rp3 juta.

“Sehingga di bulan berikutnya, akan terbentuk warung-warung baru dari anggota yang ada di bawahnya. Kategori yang diterima program ini orangnya harus mau berwirausaha, bertanggung jawab, dan amanah,” paparnya.

Pengusaha Muda ingin Memajukan Malang dengan Warung Bergulir

Selaku pengusaha yang peduli pada pemberdayaan warga, Rino Lande berkomitmen meningkatkan lagi 5 kelompok Warung Bergulir. Dia menarangkan memiliki sasaran 90 ibu- ibu guru TK serta Paud di Kecamatan Ngantang dapat memperoleh pemasukan layak dalam setahun.

“Jika program ini berhasil dalam 3 bulan, maka saya berani untuk menerapkan program ini di kecamatan lain,” ujar Rino Lande.

Lebih Lanjut, perwakilan Janaka Fundation di Malang, Magi Yanto bersama Bunda Sumi Herni yang jadi pembina IGTKI Kecamatan Ngantang optimis, program yang secara partisipatif membagikan peluang kepada para guru buat membentuk 10 kelompok buat mengelola sokongan modal usaha yang diberikan ini hendak berjalan cocok rencana.

”Kami yakin program ini akan berjalan baik, karena keterlibatan dan tanggung jawab yang cakap,” kata dia.

Dalam peluang tersebut, Camat Ngantang, Sunardi berkata jika program ini sangat dibutuhkan kerjasama para guru- guru TK serta PAUD. Alasannya satu sama lain saling berkaitan supaya saling menerima keuntungan.

“Ini sangat penting karena dana ini sifatnya bergulir, karena kalau dananya diberikan semuanya tidak cukup soalnya terbatas. Ini sebagai stimulan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dia berkata jika program Warung Bergulir semacam ini memiliki kemungkinan kegagalan yang besar. Sehingga butuh terdapatnya kerjasama serta keterbukaan.

“Kita harus merasa satu keluarga, jangan merasa egois dan dipakai sendiri. Maka kasihan anggota yang lain. Kasihan juga Pak Rino Lande yang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk membantu masyarakat di sini,” pungkasnya.

Sumber Artikel : Membangun Program untuk Guru TK dan PAUD di Malang Barat : Warung Bergulir https://www.singalam.com/program-warung-bergulir-untuk-guru-tk-dan-paud-pengusaha-malang-rino-lande/

Read More

Budaya Jawa Barat

Tiap wilayah di Indonesia ini memiliki kebudayaan tiap- tiap serta jadi karakteristik khas tertentu. Begitu pula dengan Jawa barat ini yang populer dengan bermacam- macam kebudayaan serta kesenian yang banyak jumlahnya.

Kebudayaan Jawa Barat

Kebudayaan Jawa Barat didominasi 2 kebudayaan utama ialah kebudayaan Sunda serta kebudayaan Cirebon. Kebudayaan sunda tumbuh di Tataran Sunda, Tanah Pasundan, serta Tanah Priangan. Sebaliknya Kebudayaan Cirebon tumbuh di wilayah sisa karesidenan Cirebon kawasan bagian utara.

Ada pula kebudayaan yang lain yang tumbuh di Jawa Barat ialah budaya Betawi serta Pesisir serta tumbuh di daerah- daerah yang berbatasan dengan DKI Jakarta serta daerah- daerah pesisir tepi laut.

Nah, berikut ini hendak aku bahas secara pendek serta jelas Kebudayaan apa saja yang terdapat di Jawa Barat. Baca hingga berakhir ya!

Bahasa Wilayah Jawa Barat

Kebanyakan penduduk Jawa Barat ialah Suku Sunda, yang bertutur mengenakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon serta Kota Cirebon dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dengan dialek Brebes.

Warga asli Jawa Barat ialah suku Sunda serta Cirebon, sehingga bahasa yang digunakan tiap hari di Jawa Barat mayoritas bahasa Sunda serta Cirebon. Bahasa ini dipakai sebagian warga yang terletak di wilayah Priangan, Cirebon, serta daerah- daerah lain di sekitarnya.

Kebudayaan Sunda pula ialah salah satu kebudayaan yang tumbuh di Jawa Barat dengan bahasa utama ialah Bahasa Sunda.

Bagi sejarah akibat kekuasaan Kerajaan Mataram yang dahulu sempat menaklukkan daerah Jawa Barat pada abad XVII. Bahasa Sunda ini terbawa- bawa oleh bahasa Jawa. Akibat pengaruh ini dalam bahasa Sunda diketahui undak- usuk- basa.

Undak- usuk- basa merupakan metode konsumsi bahasa yang disesuaikan dengan tingkatan sosial pemakai bahasa dalam warga. Hingga timbullah sebutan bahasa:

  • Kasar
  • Lagi lemes( halus)
  • Cohag ataupun agresif pisan( sangat agresif)
  • Luhur ataupun lemes pisan( sangat halus)

Yang konsumsinya disesuaikan dengan orang yang diajak berdialog.

Dalam bahasa Sunda diketahui pula dengan sebagian dialek. antara lain:

  • Bogor( Karawang)
  • Priangan
  • Cerbon.

Tiap dialek tersebut memiliki karakteristik khas sendiri- sendiri.

Rumah Tradisional Jawa Barat

Berikut ini sebagian rumah adat tradisional Jawa Barat

  • Imah Badak Heauy: Rumah adat Jawa Barat yang satu ini mempunyai makna ataupun arti badak yang lagi menguap. Rumah adat Badak Heuay ini masih banyak ditemukan didaerah warga Sukabumi.
  • Rumah Togog Anjing: Rumah Togog Anjing memiliki makna selaku anjing yang lagi duduk. Desain rumah semacam ini ialah karakteristik khas rumah warga Garut.
  • Imah Julang Ngapak: Imah Julang Ngapak maknanya ialah burung yang lagi mengepakkan sayapnya. Desain rumah ini banyak dipakai didaerah Tasikmalaya
  • Imah Jolopong: Rumah adat Jolopong ini sangat banyak dibentuk oleh warga didaerah Garut.
  • Imah Parahu Kumereb: Ada di wilayah Ciamis
  • Imah Capit Gunting: Capit maksudnya mengambil suatu benda dengan dijepitkan. Sebaliknya Gunting sama maksudnya dengan pisau yang menyilang.
  • Lengkong: Ada di wilayah Garangwangi Kuningan.
  • Citalang: Ada di wilayah Kabupaten Purwakarta.

Arsitektur rumah merupakan perihal peting buat mencerminkan kebudayaan. Rumah tradisional yang rata- rata memiliki tempat ataupun ruang pertemuan yang luas. Mayoritas rumah adat suku Sunda asli ini berupa panggung. Hingga dikala ini rumah adat ini masih banyak di jumpai di sebagian tempat di Jawa Barat.

Rumah adat Sunda pada biasanya biasa dipecah jadi 3 bagian utama ialah:

  • Bagian depan merupakan teras.
  • Bagian tengah diucap tengah imah serta kamar tidur.
  • Bagian balik berbentuk dapur ataupun pawon serta pedaringan ataupun goah. Rumah adat ini umumnya memiliki taman depan& balik.

Wujud Rumah adat Sunda yaitu

  • Berupa segi 4 agak memanjang.
  • Kerangka rumahnya dibuat dari kayu.
  • Atap( hateup) rumahnya dibuat dari ijuk ataupun daun rumbia.
  • Bilik rumah adat tersebut dibuat dari dinding, ialah irisan bambu yang dianyam dengan pola kepang ataupun sasag.
  • Lantai rumah dibuat dari palupuh.
  • Tiang- tiang penyangga rumah beralaskan batu yang diucap tatapakan.
  • Lapisan rumah adat Jawa Barat ini memanjang dengan arah barat- timur, serta pintunya menghadap arah utara- selatan. Perihal ini bertujuan supaya tidak menentang arah ekspedisi matahari ataupun kehendak alam.

Baju Tradisional Jawa Barat

Pada biasanya yang diketahui warga Jawa Barat baju tradisional mereka di untuk jadi sebagian bagian serta bersumber pada kalangan warga semacam:

  • Pakaian pangsi serta kebaya sunda di tambah kain kebat( kalangan rakyat biasa)
  • Pakaian bedahan serta kebaya( kalangan rakyat menengah)
  • Jas beludru sulam benang emas( kalangan rakyat bangsawan)
  • Beskap( buat mojang serta jajaka)
  • Baju adat pengantin sunda
  • Pakaian adat sunda buat anak- anak

Baju adat Jawa Barat pada biasanya dikelompokkan jadi 2, ialah:

  • baju adat style Priangan
  • baju adat style Cirebon.

Baju adat Priangan serta Cirebon memiliki sebagian persamaan serta perbandingan. Berikut ini persamaan serta perbandingan baju adat dari ke 2 suku tersebut.

Baju Adat Perempuan

  • Wanita Priangan mengenakan kebaya surawe, namun kalangan wanita Cirebon mengenakan pakaian sorong ataupun pakaian kurung.
  • Kalangan wanita Priangan serta Cirebon mengenakan kain batik yang dililitkan di bagian dasar tubuh, dari pinggang sampai pergelangan kaki.
  • Wanita Priangan serta Cirebon dari kalangan rakyat mengenakan peralatan semacam gelang emas ataupun perak, gelang bahar, suweng pelenis emas ataupun perak, ali meneng, serta sandal.
  • Sebaliknya kalangan perempuan bangsawan Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam kalung emas, gelang emas, giwang emas, dan selop dengan hiasan manik- manik di bagian ujungnya.

Baju Adat Laki- Laki

  • Pria biasa Priangan serta Cirebon mengenakan kain sarung poleng ataupun polekat yang dikerudungkan serta diikatkan ataupun dililitkan pada pinggang.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan celana komprang yang berhiaskan pasmen.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan iket buat penutup kepala.
  • Pria rakyat biasa Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam cincin emas, rantai emas ataupun perak dengan liontin dari kuku harimau selaku hiasan jas pada bagian dada, serta sepatu ataupun selop.

Read More

Rumah Adat Tongkonan : Rumah Asli Toraja

Rumah Adat Tongkonan sebagai Rumah Adat yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan dengan filosofi Aluk Todolo. Rumah Tongkonan juga menjadi simbol martabat keluarga dari masyarakat Toraja sehingga pembangunannya tidak sembarangan. Dengan bentuk desain, hingga posisi rumah dan tiang-tiangnya rumah adat ini memiliki nilai serta arti yang berbeda-beda.

Pertama, posisi rumah menghadap ke utara yang mengartikan di mana lokasi dari Puang Matua Yang Mahakuasa, yaitu di arah utara. Kini rumah adat sudah tak banyak digunakan sebagai hunian karena telah membangun rumah biasa. Rumah adat ini kemudian dialih fungsikan menjadi pusat budaya masyarakat Toraja.

Rumah adat ini juga difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan sosial hingga tempat upacara religi bagi keluarga yang memiliki rumah tersebut. Selain itu rumah adat tradisional, rumah ini juga dapat digunakan sebagai menyimpan padi.

Menurut buku karya Kasdar berjudul Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018), pembuatan Rumah Adat Tongkonan bermula dari perkenalan tempat tinggal yang beratap daun dan berdindingkan tebing, serta tiangnya yang berbentuk segitiga. Rumah Adat Tongkonan juga sebagai peralihan ke masa pengenalan empat tiang.

Berikutnya, pada masa penyempurnaannya masyarakat juga mengenal ornamen berupa simbol penanda status sosial seseorang pada pemilik rumah. Kian banyak tanduk kerbau yang dipasang pada bagian atas rumah adat tongkonan maka kian tinggi juga di strata sosial yang ia miliki penghuni rumah tersebut.

Jenis Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat Tongkonan memiliki jenis yang beragam. Tiap rumah sendiri dibuat berbeda didasarkan pada peran pemimpinnya. Dahulu, rumah tongkonan hanya diperuntukkan untuk raja, kepala suku beserta keturunannya. Rumah adat tongkonan sendiri memiliki bentuk menyerupai perahu Kerajaan China. Berikut ini beberapa jenis Rumah adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Tongkonan Pekamberan

Jenis Rumah Adat Tongkonan yang pertama adalah Tongkonan Pekamberan. Jenis Rumah Adat Tongkonan ini sendiri secara khusus dibangun bagi para keluarga besar dari tokoh masyarakat yang memiliki otoritas tinggi di masyarakat.

Rumah Adat Tongkonan Pekamberan umumnya digunakan oleh para penguasa untuk mengatur proses pemerintahan adat Toraja. Dengan keberadaan Tongkonan Pekamberan kemudian mewajibkan pada keluarga turunan pemiliknya kemudian melanjutkan tugas menjaga tradisi untuk kemudian mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Tongkonan Layuk

Tongkonan Layuk sebagai Jenis Rumah Adat Tongkonan selanjutnya. Tongkonan Layuk sebagai jenis rumah adat yang pertama kali menjadi pusat pemerintahan. Urusan-urusan kekuasaan dan pemerintahan kemudian dilangsungkan di rumah Tongkonan Layuk ini.

Selain itu Rumah Tongkonan Layuk juga menjadi salah satu simbol masyarakat Toraja sesuai cerminan para leluhurnya. Rumah Adat Tongkonan Batu A’riri juga kerap digunakan oleh masyarakat Toraja sebagai rumah para keluarga biasa dan digunakan sebagai hunian yang berukuran tidak terlalu besar dibandingkan rumah Tongkonan lainnya.

Tongkonan Batu Ariri

Tongkonan batu Ariri merupakan rumah tongkonan ketiga. Meski berperan sebagai tempat pembinaan keluarga di suku Toraja yang hendak membangun rumah Tongkonan pertama kali, Rumah adat Toraja ini tidak memiliki kekuasaan dalam adat.

Keunikan Rumah Adat Tongkonan

Kini rumah adat Tongkonan tak lagi difungsikan sebagai rumah tinggal saja karena hampir setiap penduduk yang menghuni rumah ini juga membangun rumah tinggalnya sendiri. Pada mulanya rumah adat Tongkonan kerap digunakan sebagai salah satu pusat budaya bagi para masyarakat Toraja.

Rumah adat tongkonan ini juga kerap digunakan sebagai tempat upacara religi bagi keluarga yang menghuninya. Rumah Tongkonan juga digunakan sebagai rumah tradisional atau banuan bahkan menjadi sebuah lumbung padi.

Sesuai nilai filosofisnya, rumah adat Tongkonan seluruh aspek kehidupan yang ada dengan ukuran yang luas. Oleh karenanya masyarakat Toraja juga sangat mensakralkan rumah Tongkonan hingga kini. Tiap ruang pada Rumah Adat Tongkonan memiliki fungsi yang berbeda-beda, berikut penjelasannya.

Banua Sang Borong

Bangunan ini juga disebut Barung-barung. Banua sang sorong atau atau Sang Lanta merupakan bagian rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan saja karena tidak memiliki penyekat antara ruangan. Ruangan ini juga kerap difungsikan untuk melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Banua Sang Borong memiliki bentuk ruang tanpa sekat sehingga hanya berbentuk satu ruangan saja, sehingga semua kegiatan dilakukan dalam satu ruangan tersebut. Bangunan ini kerap dibangun bagi utusan dari seorang penguasa adat.

Rumah Adat Tongkonan

Banua Duang Lanta

Banua Duang Lanta sebagai rumah tradisional yang tidak mempunyai peranan adat dan umumnya merupakan rumah keluarga. Bangunan Banua Duang Lanta terdiri dari dua jenis ruang, yaitu sali dan sumbung. Sumbung sebagai ruangan yang terletak di bagian selatan difungsikan sebagai tempat beristirahat.

Sali juga kerap diletakan pada bagian utara rumah. Ruangan ini juga lebih rendah 30-40cm dari sumbung. Meski berukuran lebih luas dan panjang karena di ruang inilah tempat seseorang memasak, dan tempat menyimpan jenazah bila ada yang meninggal namun belum atau akan diupacarakan.

Meskipun demikian rumah adat ini juga berfungsi sebagai Tongkonan Batu A’riri yang lazim disebut Banua Pa’rapuan yaitu rumah persatuan keluarga dari golongan rendah yang disebut kasta Tana’ Kua-Kua atau Tana’ Karurung.

Banua Talung Lanta

Bangunan Rumah Adat Tongkonan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Tangdo yang terletak pada area bagian utara rumah dan berfungsi sebagai kamar tidur Wanita yang belum menikah.

Sali sebagai ruang tamu utama keluarga pada Rumah Adat Tongkonan. Ruang ini juga kerap dilengkapi dengan perapian yang terletak di bagian timur. Terdapat kotak kayu persegi panjang atau disebut juga ‘dapo’ yang berfungsi sebagai tempat memasak sekaligus perapian karena cuaca Toraja yang cenderung dingin.

Dapo terletak di sebelah timur Rumah Adat Tongkonan karena makanan berkaitan erat juga dengan ritual-ritual. Sali juga difungsikan sebagai tempat tidur pria yang belum menikah pada Rumah Adat Tongkonan.

Sumbung pada ruangan ini terletak di Selatan Rumah Adat Tongkonan. Di bagian ini, tuan rumah dan istrinya kemudian beristirahat, ruang ini juga difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga dalam keranjang atau batang besar yang memiliki sebutan ‘batutu’.

Umumnya Banua Tallung Lanta’ merupakan rumah adat yang mempunyai peranan Tongkonan Kaparengngesan (Pekaindoran atau Pekambaran), yaitu sebagai Pemerintahan Adat Toraja.

Meskipun terdapat juga rumah Banua Tallung Lanta’ yang tidak memiliki peranan adat yang disebut Tongkonan Batu A’riri milik bangsawan sebagai rumah pertalian keluarga semata. Kedua jenis tongkonan ini juga memiliki pembeda melalui simbol-simbol yang digunakan.

Misalnya pada Rumah Adat terdapat simbol Kabongo atau bentuk kepala kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan, selain itu terdapat juga Katik bentuk kepala ayam yang berada di atas Kabongo dan A’riri Posi’ juga merupakan tiang tengah bangunan.

Pada tongkonan ini tak hanya terdapat simbol-simbol. Perbedaan ini juga terdapat jenis ukiran yang dipergunakan pada Tongkonan. Pada tongkonan rumah adat harus terdapat ukiran Matahari atau Pa’barre Allo, Kepala kerbau atau Pa’ tedong, Ayam jantan atau Pa’ manuk Londong dan jalur-jalur lurus atau Pa’sussuk.

Banua Patang Lanta

Banua Patang lantai pada Rumah Adat Tongkonan terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Banua Patang Lanta’ di lalang tedong dan Banua Patang Lanta’ di salembe. Banua Patang Lanta’ ini terbagi juga empat ruang, yakni Inan Kabusungan yang berada pada bagian selatan Rumah Adat Tongkonan dan difungsikan sebagai ruang utama tempat menyimpan segala peralatan adat dan pusaka, selain itu Sumbung yang digunakan sebagai kamar tidur, Sali Tangnga juga memiliki ukuran yang lebih panjang jika dibandingkan dengan ruang lainnya karena difungsikan sebagai tempat berkegiatan bagi anggota keluarga pada Rumah Adat Tongkonan, Sali Iring sebagai ruang paling rendah yang biasanya digunakan sebagai tempat menerima tamu keluarga untuk tempat istirahat para asisten rumah tangga.

Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Bagian Rumah adat Tongkonan pada area atapnya memiliki bentuk yang paling mencolok, sebab berbentuk seperti perahu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini juga kemudian juga digunakan sebagai simbol pengingat bahwa leluhurnya menggunakan perahu untuk sampai ke Pulau Sulawesi. Berikut ini beberapa ciri khas Rumah Adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Bangunan Berbentuk Pohon Pipit

Pada Tahap awal dari perkembangan Rumah Adat Tongkonan adalah rumah dengan bentuk pohon pipit. Keunikan Rumah Adat Tongkonan ini ada pada bangunan dari rumah adat yang berada di atas pohon dan terbuat dari susunan ranting pohon pada sebuah dahan besar. Atap pada rumah ini terbuat dari rumput yang disusun seperti sarang burung pipit.

Atap Berbentuk Perahu

Atap pada Rumah Adat Tongkonan berbentuk seperti perahu dan kedua ujungnya berbentuk seperti busur. Menurut legenda Toraja, mereka datang dari utara melalui laut dan terperangkap dalam badai yang dahsyat.

Lalu, perahu rusak parah sehingga tidak bisa berlaut. Sehingga mereka kemudian menggunakan perahu sebagai bentuk atap Rumah Adat Tongkonan mereka dengan arah yang selalu menghadap ke utara.

Patung Kepala Kerbau

Salah satu bagian yang menonjolkan keunikan pada Rumah Adat Tongkonan adalah terdapat pada patung kepala kerbau yang terpasang pada bagian atas rumah. Kepala kerbau ini juga dipasang dan memiliki tiga jenis yaitu kerbau hitam, kerbau putih, dan kerbau belang.

Selain itu patung kepala kerbau, pada Rumah Adat Tongkonan juga terdapat beberapa patung tambahan. Biasanya pemilik Rumah Adat Tongkonan menggunakan patung naga atau patung kepala ayam. Arti dari pada patung tersebut adalah sebagai tanda bahwasannya pemilik Rumah Adat Tongkonan tersebut adalah orang yang dituakan.

Ornamen Unik

Rumah Adat Tongkonan memiliki berbagai macam ornamen yang unik. Warna yang mendominasi ornamen-ornamen adalah warna hitam dan merah. Pada bagian dinding dan atap pelananya, terdapat desain spiral, geometris, dan motif kepala kerbau serta ayam jantan yang diwarnai warna putih, merah, kuning dan hitam.

Warna-warna ini mewakili berbagai festival Aluk To Dolo (Jalan Leluhur), yakni agama asli Toraja. Warna-warna tersebut juga memiliki makna berbeda dimana warna Hitam melambangkan kegelapan dan kematian, warna Kuning bermakna berkat dan kuasa Tuhan, warna Putih sebagai warna ulang yang memiliki arti kemurnian dan warna Merah atau warna daging yang melambangkan warna darah dan kehidupan manusia.

Empat Warna Dasar

Ciri khas lain dari Rumah Adat Tongkonan adalah empat warna dasar yang setiap warnanya memiliki makna-makna tersendiri. Warna-warna dasar ini diantaranya warna merah seperti darah yang melambangkan kehidupan manusia.

Kemudian warna kuning yang berarti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Warna dasar lainnya adalah adalah warna hitam yang berarti kematian dan warna putih yang melambangkan warna tulang yang berarti suci atau bersih.

Tanduk Kerbau Depan Rumah

Pada bagian depan Rumah Adat Tongkonan, di bawah atap yang menjulang tinggi, orang Toraja memasang tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau sendiri melambangkan banyaknya pemakaman yang telah keluarga pemilik tongkonan lakukan. Tanduk kerbau ini juga melambangkan seberapa tinggi derajat keluarga itu. Kian banyak tanduk kerbau, maka status sosialnya pun semakin tinggi.

Konstruksi Tanpa Paku

Struktur Rumah Adat Tongkonan terbuat di atas tiang kayu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini terbuat dari bambu berlapis, dan konstruksi kayu rumahnya sengaja dirakit tanpa menggunakan paku. Bahan-bahan ini juga bergabung dengan daun kelapa, rotan, dan berbagai jenis kayu seperti kayu ulin, dan kayu jati. Rumah Adat Tongkonan juga memakai konstruksi yang serupa di seluruh wilayah.

Bentuk Rumah Adat Tongkonan

Read More

Dhurung : Lumbung Khas Jawa Timur

This week, the Louvre Museum in Paris was even forced to close for a day because of its overcrowding problem. (Some union representations for the museum said tourists have stifled renovation work on the Mona Lisa, crowding them into tight, unworkable spaces.)in abundance, allowing developers to save time, re-use code, and streamline the back end. As software development tools continuously change to follow the latest trends, and as new frameworks emerge, we gathered a list of the best PHP frameworks for 2019. For each framework, we will be briefly exploring the essential features, the benefits, the scale and type of projects it fits best, and the learning curve.

Read More