Category: Kebudayaan Indonesia

Tradisi Nelayan Lampon Banyuwangi : Petik Laut

Dalam rangka menyambut perayaan tahun baru penanggalan Jawa, nelayan di kawasan pesisir Lampon, Kecamatan Pesanggaran menggelar tradisi petik laut, Kamis (20/8). Tradisi ini digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan selama setahun.

Petik Laut adalah warisan leluhur dan merupakan bentuk sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mengais rezeki. Setiap tahun para nelayan setempat melaksanakan acara adat Petik Laut.

Sesaji Petik Laut

Sama dengan perayaan tradisi petik laut lainnya, mereka melarung sesaji ke tengah laut menggunakan perahu. Sesaji berupa kepala sapi, dan sejumlah hasil bumi dan laut diangkut menggunakan perahu mini, serta dilarung nelayan.

Ketua Panitia Petik Laut Marsudi mengatakan pihaknya telah merencanakan kegiatan ini selama satu bulan penuh, mengingat adanya pandemi corona. Panitia pun berupaya menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Semua yang terlibat ritual pasti memakai masker. Selain itu, penonton juga dibatasi,” kata Marsudi.

Selain larung sesaji, di lokasi tersebut juga diadakan selamatan dengan mengadakan wayang kulit. “Setelah pagelaran wayang kulit ini, kami langsung melarung sesaji,” ujarnya.

Marsudi menambahkan, tradisi ini di gelar untuk memohon kepada Tuhan agar para nelayan diberi keselamatan dan rezeki yang melimpah saat bekerja di laut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi kegiatan petik laut lampon serta persiapan panitia penyelenggara yang mengadakan prosesi petik laut dengan protokol kesehatan.

“Setiap kegiatan keramaian maupun upacara keagaamaan harus tetap menggunakan protokol kesehatan, dengan tetap menggunakan masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan,” kata Bupati Anas.

Pantai Lampon di Jawa Timur yang menjadi lokasi petik laut ini memiliki pemandangan yang cukup indah dengan banyaknya pohon kelapa di pesisir pantainya.

Read More

Budaya Jawa Timur : Tari Reog Ponorogo

Kesenian Reog Ponorogo jadi salah satu hasil budaya yang khas dari Jawa Timur yang belakanagan dikabarkan hendak diajukan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization( UNESCO).

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia serta Kebudayaan( Menko PMK) Muhadjir Effendy memohon supaya pemerintah Ponorogo secepatnya menganjurkan Reog Ponorogo ke UNESCO selaku Peninggalan Budaya Bukan Barang( Intangible Cultural Heritagen/ ICH).” Buat Reog, Negeri Malaysia rencananya ingin ajukan pula, hingga dari itu kita wajib lebih dahulu. Sebab ini kan telah jadi budaya serta peninggalan kita,” jelas Muhadjir.

Tari Reog Ponorogo merupakan seni tari tradisional warga Ponorogo yang pula diketahui dengan istilah Barongan. Tarian ini menunjukkan singo barong, wujud dengan topeng macan berhias bulu merak dengan dimensi sangat besar serta ditarikan dengan gerakan yang meliuk- liuk.

Sejarah Tari Reog Ponorogo

Mengutip dari Antara, kesenian Reog Ponorogo tercatat dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan dengan bertepatan pada 760M dan prasasti Kerajaan Kediri pada tahun 1045 Meter.

Ada sebagian tipe dari sejarah terciptanya kesenian Tari Reog Ponorogo ini yang merujuk pada peristiwa serta legenda di wilayah setempat. Mengutip Kompas. com, berikut sejarah Tari Reog Ponorogo yang berkaitan dengan peristiwa di masa dulu sekali.

1. Legenda Singo Barong

Cerita awal merupakan cerita Kelana Sewandana, wujud Raja Bantarangin yang bermaksud melamar Dewi Sanggalangit seseorang gadis raja di Kediri.

Selaku ketentuan, Kelana Sewandana wajib mengalahkan singo barong yang terletak di Alas Roban. Dia bawa beberapa pasukan berkuda yang sayangnya dengan gampang dikalahkan oleh singo barong. Kelana Sendawa setelah itu memakai sumping di telinganya yang menjelma jadi 2 ekor merak yang alihkan atensi singo barong.

Berkat metode tersebut, singo barong terpesona dengan Merak dengan gampang dikalahkan memakai Pecut Saman yang dibawanya. Acara perkawinan Kelana Sewandana serta Dewi Sanggalangit setelah itu diiringi dengan hadirnya singo barong dengan 2 ekor merak bertengger di atas kepalanya.

2. Cerita Ki Ageng Kutu

Sedangkan cerita kedua berasal dari cerita Ki Ageng Kutu, abdi Raja Brawijaya V yang meninggalkan Majapahit. Ki Ageng Kutu setelah itu mendirikan padepokan Surukubeng yang mengarahkan ilmu kanuragan dengan game barongan.

Sayangnya Raja Brawijaya V malah menyangka Ki Ageng Kutu tidak ingin lagi menjajaki titahnya serta berkhianat. Setelah itu diutuslah Raden Katong buat melanda padepokan itu serta berakhir dengan kekalahan Ki Ageng Kutu. Selaku imbalan, Raja Brawijaya V membagikan Raden Katong tanah perdikan di Wengker.

Arti Tari Reog Ponorogo

Reog ataupun Reyog diucap berasal dari kata Riyokun yang berarti khusnul khotimah yang diambil dari cerita perjuangan Raden Katong mengalahkan Ki Ageng Kutu.

Perihal ini tidak jauh dari arti tari tradisional ini yang mengisahkan tentang peperangan. Tetapi terdapat pula yang mengartikan tarian ini selaku sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Brawijaya V yang tunduk kepada istrinya.

Raja Brawijaya V diibaratkan selaku seekor macan yang ditunggangi oleh merak, sedangkan para pasukan majapahit dilambangkan oleh penari jathil dengan kuda- kudanya. Sedangkan Ki Ageng Kutu ditafsirkan selaku warok yang bernazar melindungi tanpa pamrih.

Sebab terdapatnya cerita percintaan, terkadang mencuat pula wujud Kelana Sewandana dengan patihnya Bujang Ganong. Cerita percintaan ini biasa dimainkan apabila pertunjukkan Reog Ponorogo diadakan dalam kegiatan perkawinan.

Iringan serta Properti Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo dimainkan dengan iringan gamelan serta lagu- lagu tradisional. Oleh karenanya, umumnya dalam iringan tari terdapat 2 kelompok ialah pemain gamelan serta penyanyi. Sedangkan itu properti tari yang digunakan pula dibedakan buat masing- masing penari.

Penari barongan memakai kostum ditambah topeng Singo Barong serta dadak merak, Dadak merak berdimensi besar dibuat dari bulu burung merak yang disusun pada lembaran bambu ataupun rotan.

Dadak merak ini populer sebab mempunyai berat menggapai 30- 50kg serta cuma dikendalikan dengan kekuatan gigi ataupun rahang dari penarinya. Buat warok, tidak hanya kostum mereka pula hendak memakai topeng serta bawa cemeti ataupun pecut.

Para jathilan tidak hanya memakai kostum dengan selendang, mereka pula bawa jaranan ataupun kuda- kudaan dari anyaman bambu. Sedangkan Klono Sewandono serta patihnya Bujang Ganong hendak memenuhi penampilan kostumnya dengan menggunakan topeng.

Read More

Mengenal Aksara Lota Ende, Dimanakah Sekarang?

Tidak banyak yang mengenali apabila di kawasan Nusa Tenggara Timur, spesialnya Kabupaten Ende, Pulau Flores ada aksara asli wilayah tersebut yang diucap dengan Lota. Ada pula pengguna terbanyak aksara Lota di masa kemudian ialah warga etnis Ende yang beragama Islam. Mereka tinggal di Kecamatan Ende, Ende Selatan, Ende Utara serta Nangapanda.

Aksara Lota ialah salah satu kebudayaan khas Nusantara turunan langsung dari aksara Bugis. Orang Bugis yang menetap di Ende bawa dan peradaban serta kebudayaannya, tercantum aksaranya. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk ke Ende dekat abad ke- 16, semasa Pemerintahan Raja Goa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin( 1593- 1639). Dalam proses menyesuaikan diri, aksara Bugis di Ende tumbuh cocok sistem Bahasa Ende serta jadi aksara Lota.

Lota berasal dari kata lontar. Pada mulanya aksara Ende ditulis pada daun lontar, setelah itu dalam perkembangannya ditulis di kertas. Bahasa Ende merupakan bahasa bersuku kata terbuka. Kata lontar berganti jadi lota. Bunyi konsonan n pada lon, serta r pada tar lenyap.

Ada 8 aksara Lota Ende yang tidak terdapat dalam aksara Bugis, ialah bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga serta rha. Kebalikannya terdapat 6 aksara Bugis yang tidak ada dalam aksara Lota Ende, ialah ca, ngka, mpa, nra, nyca serta nya.

Aksara Lota Ende telah diteliti beberapa ahli linguistik serta filologi. Antara lain S Ross yang tahun 1872 menulis novel Controleer Onder Afdeelingen Endeh. Dia mempelajari sederetan aksara Ende yang dilansir dalam TBG XXIV, setelah itu dibukukan oleh Suchtelen tahun 1921 dalam Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores.

Aksara Lota Ende pula diteliti Jan Djou Gadi Ga’ a tahun 1959, 1978, 1984, serta Maria Matildis Banda mempelajari tahun 1993 dengan sokongan dana dari Ford Foundation. Bagi Maria, tradisi menulis aksara Lota terabaikan sehabis aksara latin diketahui. Tidak hanya itu orang tua lebih mementingkan pengetahuan membaca serta menulis aksara Arab daripada aksara Ende. Profesor. Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada di Ende melaporkan kalau aksara Ende tercantum tipe silabik( syllabic writing, syllabibography, syllable writing) yang menggambarkan suku- suku kata, mirip dengan hiragana Jepang. Jadi bukan alphabet semacam huruf latin.

Djawanai menganjurkan supaya tradisi penyusunan aksara Lota dibesarkan lewat jalan pembelajaran. Strateginya menjadikan aksara Lota selaku salah satu pelajaran muatan lokal. Anjuran tersebut pantas jadi atensi. Bila proses re- genarisi terputus, dapat jadi generasi masa depan NTT tinggal mengenang aksara Lota selaku sejarah.

Read More

3 Upacara Adat, Budaya Khas Kota Malang

Di Malang, Jawa Timur, ada juga beberapa upacara adat budaya yang tak akan kamu temui di tempat lain. Kalau tertarik untuk menyaksikan, pastikan kamu mencatat waktunya dengan benar, ya.

Kirab Sesaji

Tahun Baru Islam alias satu Muharam lebih dikenal dengan sebutan ‘satu suro’ bagi masyarakat Jawa dan telah diperkenalkan sejak dahulu kala oleh Sultan Agung (Raja Mataram Islam). Momen ini dianggap sebagai momen yang sakral.

Oleh karena itu, hingga kini masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan perayaan pada hari tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Di Malang, perayaan ini disebut dengan Kirab Sesaji. Ritual dilakukan dengan cara mengelilingi desa di kawasan Gunung Kawi, tepatnya di Wonosari. Warga akan mengenakan pakaian adat Jawa sembari membawa sesaji dan gunung ke makam Eyang Junggo dan Iman Soedjono.

Sesampainya di lokasi tersebut, pemimpin upacara akan membacakan doa-doa. Selepas itu, gunungan yang berisi tumpeng dan aneka makanan akan diperebutkan oleh warga.

Perayaan ini juga dimeriahkan oleh banyak penari mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Tak lupa, ogoh-ogoh besar juga ikut meramaikan upacara adat ini untuk kemudian dibakar sebagai simbol menjauhkan diri dari bahaya.

Entas-Entas

Upacara adat ini merupakan bagian dari adat suku Tengger yang berada di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo, Malang. Tradisi entas-entas diadakan sebagai bagian dari upacara kematian dan umumnya digelar pada hari ke-44 atau 1.000 setelah meninggal.

Adapun kata ‘entas-entas’ sendiri diartikan sebagai gambaran untuk mengangkat derajat arwah leluhur yang telah meninggal sehingga mendapat tempat yang lebih baik. Rangkaian entas-entas terdiri atas ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.

Pelaksanaan upacara ini pun akan menggunakan boneka (disebut ‘petra’) yang terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini akan disucikan oleh pemangku adat setempat sebagai media arwah yang didatangkan kembali.

Grebeg Tirto Aji

Satu lagi upacara adat yang dilakukan oleh suku Tengger di Malang adalah Grebeg Tirto Aji. Upacara sakral ini diselenggarakan untuk menyambut hari besar Yadya Kasada yang biasanya dirayakan pada hari ke-14 bulan Kasada.

Salah satu rangkaian Grebeg Tirto Aji adalah pengambilan air suci yang berada di Pemandian Wendit, Pakis. Menurut kepercayaan, air ini bersumber dari Gua Widodaren yang ada di Gunung Bromo. Oleh karena leluhur Gunung Bromo dan Wendit masih bersaudara, air tersebut diyakini dapat memberi kesuburan bagi tanah Tengger sekaligus kesehatan bila diminum.

Dulunya, masyarakat suku Tengger datang sendiri-sendiri untuk melakukan upacara budaya ini. Namun sejak tahun 2016, pemerintah setempat mengakomodasi kegiatan tersebut dan menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata tersendiri.

Read More

Tari Beskalan, Makna Tari Asli Malang

Tari beskalan ialah salah satu kesenian khas Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bagi Hidrajat( 2012), seni tari yang tidak sering ditampilkan di depan publik ialah tarian ritual yang berkaitan dengan ritus tanah. Sebutan beskalan berasal dari kata bakalan ataupun dimaksud selaku seni yang ditampilkan di jalanan semacam pengamen pada masa kini.

Tari beskalan mulai hidup bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan ludruk di Malang ialah pada kisaran tahun 1930- an. Awal mulanya, kesenian tari beskalan ditarikan oleh pria yang memakai pakaian wanita dengan gerakan yang lincah, dinamis, serta feminim selaku cerminan tarian seseorang wanita.

Tari beskalan memadukan style busana penari gambyong dengan penari topeng malangan yang diisyarati dengan sebagian identitas, ialah hiasan kepala, busana, bawahan, gerakan, serta musik pengiring.

Hiasan kepala dengan menata rambut memakai sanggul serta cudhuk menthul yang dihias memakai melati. Penerapan tari beskalan diiringi oleh alunan gamelan jawa berlaras slendro.

Sejarah Tari Beskalan

Sejarah tari beskalan bagi Ayah Yongki Irawan, sebagai staf Dewan Kesenian Malang menarangkan kalau tari beskalan dikira selaku tari yang timbul awal kali. Dekat tahun 1920- an, lahir seseorang penari legendaris beskalan bernama Miskayah berasal dari Desa Ngadirekso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Cerita dini dari tari beskalan bermula dikala Miskayah masih berumur belasan tahun. Dia telah bekerja jadi tandak pada andong. Pada sesuatu dikala, Miskayah sakit yang tidak dikenal sebabnya sehingga tidak dapat menari, setelah itu dia bermimpi berjumpa dengan seseorang gadis dari kerajaan Mataram yang bernama Proboretno.

Dalam mimpinya, Gadis Proboretno lagi mencari pacarnya bernama Baswara, seseorang laki- laki muda asal Cirebon serta berpesan“ Miskayah, ayo turut saya. Kalian hendak sembuh dari sakitmu serta hendak saya ajari menari. Namun kalian wajib menolong saya mencari pemuda yang bernama Baswara”.

Dikala itu pula, Miskayah terbangun serta langsung menari dan memohon tariannya diiringi dengan kendang, mendadak itu pula dia sembuh. Pada semasa hidupnya, Miskayah merupakan seseorang penari andong yang lumayan populer.

Miskayah pula menggambarkan kalau tarian yang dia jalani dikala terkena sakit misterius itu merupakan tari beskalan, tarian yang jadi sumber pertumbuhan tari tayub serta tari remo gadis.

Keunikan Budaya Tari Beskalan

Tari beskalan memiliki keunikkan ialah senantiasa digunakan oleh warga selaku tarian pembuka pada suatu kegiatan, diawali semenjak tari beskalan awal kali terdapat serta masih dicoba hingga dikala ini. Pada era dahulu, tari beskalan digunakan buat memulai suatu ritual.

Ritual tersebut selaku wujud penghormatan kepada roh leluhur Dewi Sri. Dewi Sri dipercaya selaku Dewi Kesuburan dikala hendak menanam padi. Bagi Irawan( 2012), tari beskalan merupakan tarian yang menggambarkan terdapatnya seseorang gadis yang lagi merias membuat cantik dirinya.

Dilansir dalam blogkulo. com, Ayah Yongki Irawan menarangkan kalau tari beskalan telah diteliti serta dipopulerkan kembali oleh Alm. A. Munardi, seseorang koreografer dari Yogyakarta yang berdomisili di Kota Surabaya.

Tari beskalan dipopulerkan kembali oleh Alm. A. Munardi lewat Konservatori Karawitan Indonesia Surabaya. Koreografi tari beskalan disusun serta disempurnakan kembali oleh Ayah Chattam AR. Tari beskalan sempat memperoleh pengakuan dari Belanda serta membagikan pesan apresiasi.

Fungsi Tari Beskalan

Semacam telah dipaparkan di atas kalau awal mulanya tari beskalan difungsikan selaku tari ritual ritus tanah. Ritual tersebut dicoba dikala warga membuka lahan baru. Ritual ritus tanah dimaksudkan selaku wujud penghormatan kepada perwujudan tanah yang sudah membagikan rezeki melimpah.

Terdapat sebagian sesi yang wajib dilewati saat sebelum tari beskalan ditarikan semacam memulai penggalian tanah dengan diadakan upacara penanaman tumbal yang umumnya berbentuk kepala kerbau selaku kurban. Tari beskalan selaku simbol yang sama dengan Cok Bakal yang berarti simbol dari seluruh kehidupan.

Bersamaan dengan pertumbuhan era, guna tari beskalan telah tidak digunakan selaku tarian ritual melainkan digunakan selaku tarian buat menyongsong tamu.

Read More

Festival Malang Tempoe Doeloe : Edukasi Sejarah Lewat Festival

Pernah nggak, kalian penasaran benda-benda atau hal-hal apa saja yang pernah populer di zaman dahulu? Seperti apa yang orang zaman dulu lakukan untuk menghibur diri sebelum adanya teknologi canggih masa kini. Atau makanan-makanan khas Malang yang mereka makan. 

Di Festival Malang Tempoe Doeloe, kita punya kesempatan untuk menyicipi kuliner jadul, menonton pertunjukan wayang dan musik tradisional, maupun pernak-pernik khas jaman dulu! Festival ini diadakan oleh Pemerintah Kota Malang yang bekerja sama dengan Yayasan Inggil. Tujuan diadakannya festival ini adalah untuk merawat dan melestarikan budaya asli Malang sekaligus menarik minat para pemuda dan pemudi untuk merawat sejarah.

Festival Malang Tempoe Doeloe ini biasanya diadakan setiap bulan Mei tiap tahunnya. Ia merupakan bagian dari serangkaian acara peringatan HUT Kota Malang. 

Di festival ini kamu bisa menemukan banyak kegiatan dan pameran yang seru buat dikunjungi. Festival Malang Tempoe Doeloe biasa diadakan di sepanjang Ijen Boulevard dan tentu saja kunjungan ke museum Brawijaya juga menjadi salah satu atraksi menarik dari festival ini. 

Di festival kamu bisa mendapatkan pengalaman layaknya kembali ke zaman dahulu melalui visualisasi foto tempo doeloe, ejaan tempo doeloe, alat angkut tempo doeloe, gambar replika tempo doeloe, replika bangunan tempo doeloe, busana tempo doeloe, teknologi tempo doeloe, kuliner tempo doeloe, dan kesenian tempo doeloe.
Tidak hanya itu, setiap malam akan ada pementasan wayang serta musik-musik tradisional khas Malangan. Tidak ketinggalan makanan tradisional khas tempo dulu yang dijual di festival ini, seperti cenil, ketan, gatot jagung, gulali, arbanat, roti moho, kacang godok, arumanis, dan krupuk miler. 

Namun, yang membuat lebih terasa tempoe doeloenya adalah dekorasi stan toko yang terbuat dari bambu dan jerami serta dresscode wajib pengunjung adalah pakaian-pakaian jadul. Tidak sedikit pengunjung yang datang dengan berkebaya dan jarit. Terdengar meriah dan asyik, kan?

Jika kalian sedang berkunjung ke Malang ketika festival ini diadakan, jangan lupa pamer ke teman-teman di sosial media kalau kamu sedang kembali ke masa lampau.

Read More

Seni Tradisi Wayang Topeng Malangan, Bukan Sekedar Seni Biasa

Wayang topeng malangan merupakan seni tradisi berupa drama dan tari yang dinarasikan seorang dalang. Kesenian itu merupakan ikon Malang dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional pada 2014. Wayang topeng malangan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga menjadi generator suatu dusun untuk membentuk sifat guyub.

Sejak 1970-an, keberadaan komunitas-komunitas wayang topeng malangan mulai terkikis dan memudar. Kelompok-kelompok di daerah Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi, Senggreng, Puncangsanga, Jabung, dan Kedungmonggo perlahan menghilang dan hanya tersisa dua komunitas di dua tempat, yaitu di Jabung dan Kedungmonggo. Bersyukur, Padepokan Kedungmonggo bisa dikatakan aktif dalam menjaga wayang topeng malangan dan setiap bulan selalu mengadakan gebyak, atau pertunjukan secara mandiri, yaitu pada malam Senin Legi. “Setiap bulan kami selalu mengadakan gebyak, sejak Dusun Kedungmonggo ini ada. Tahunnya saya enggak tahu pasti, tapi yang jelas mbah-mbah dulu juga seperti itu,” kata Handoyo, ahli waris wayang topeng malangan yang mendapat warisan ilmu dari maestro wayang topeng malangan, almarhum Mbah Karimun, beberapa waktu lalu.

Wayang topeng malangan merupakan seni tradisi yang bersifat religius dan dipercaya ada sejak Kerajaan Majapahit. Menurut Robby Hidajat dalam Wayang Topeng Malangan dalam Perubahan Kebudayaan (2012), fungsi kesenian itu menurut catatan sejarah ialah sebagai media komunikasi antara pelaku dan roh leluhur. Menurut Handoyo, aktivitas-aktivitas pendukung kesenian itu pun selalu dikaitkan dengan peran leluhur. Fungsi itu sebenarnya masih berlaku hingga sekarang. Aktivitas di Padepokan Asmorobangun Kedungmonggo bukan hanya mengadakan gebyak atau pertunjukan seni tradisi. Ada aktivitas pengiring yang masih berhubungan dengan wayang topeng malangan dan jika aktivitas itu tidak dilakukan, tentu pakem yang ada juga tercederai. Aktivitas-aktivitas utama di Padepokan Asmorobangun, yaitu pembuatan topeng, ritual Senin legi, dan gebyak wayang topeng malangan. Hal yang paling penting ialah tujuannya, bahwa wayang topeng malangan ibarat hanya sebuah alat. Tujuannya ialah nyambung roso (menyambung rasa) dengan sesama dan komunikasi dengan leluhur-leluhur.  

Tonggak penting

Masyarakat Malang pada zaman Majapahit dikelompokkan menjadi tiga. Pertama ialah priayi. Kedua ialah kelompok yang bermukim di Malang bagian timur yang diwarnai dengan kebudayaan pasca-Majapahit, atau biasa disebut wong gunung. Ketiga ialah kelompok yang tinggal di bagian barat yang masih dipengaruhi budaya Majapahit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menguatkan catatan sejarah itu, bahwa ada tiga kecamatan di Malang yang terletak di bagian barat Malang dan mempunyai statistika penduduk beragama Hindu terbesar di antara 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, yaitu Kecamatan Wagir, Kecamatan Ngajum, dan Kecamatan Pakisaji. Kesinambungan kebudayaan di daerah-daerah tersebut, terutama Pakisaji, menunjukkan pengaruh Majapahit yang hidup di sana, satu di antaranya ialah wayang topeng malangan. Wayang topeng malangan selalu diidentikkan dengan Cerita Panji, tetapi tidak selalu. Menurut Handoyo, Cerita Panji digunakan dalam kesenian ini sejak era Mbah Karimun, sekitar 1960-an.

Sebelumnya menggunakan cerita dalam wayang purwa, yakni Mahabharata dan Ramayana. “Lalu, saat itu Mbah Mun itu berpikir, kita, kan, punya epos sendiri, kenapa, kok, tidak dipakai? Dari situlah akhirnya Cerita Panji masuk ke wayang topeng malangan. Sekarang, wayang topeng malangan selalu ditempelkan dengan Cerita Panji. Kalau ada yang nanggap penginnya menggunakan purwa, ya, masih bisa,” kata Handoyo. Jika ditelusuri lebih jauh, mengacu pada Serat Sastramiruda, Cerita Panji masuk cerita pewayangan sejak zaman Sunan Giri 1485. Saat itu, Sunan Giri mengadopsi cerita lakon dari Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Media wayang pertama yang diisi dengan substansi Cerita Panji itu ialah wayang gedog. Pertunjukan wayang gedog tersebut didalangi ialah Sunan Kudus. Berdasarkan karakter-karakter yang ada di dalam pertunjukan wayang gedog, Sunan Kalijaga pada 1508 menciptakan topeng Panji. Semenjak itulah wayang topeng yang menceritakan Cerita Panji mulai ramai dan populer di kalangan masyarakat Jawa.

Media komunikasi

Fungsi wayang topeng malangan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas-aktivitas pengiringnya sebagai kesatuan yang holistis, yakni sebagai media komunikasi dengan leluhur. Pertama, aktivitas pembuatan topeng. Secara umum, Padepokan Asmorobangun memproduksi topeng dengan dua fungsi, yaitu sebagai suvenir yang diperjualbelikan dan sebagai instrumen pertunjukan. Pembuatan topeng untuk instrumen pertunjukan berbeda dengan sekadar untuk suvenir karena ada proses spiritual yang menyelimutinya.

Sebelum membuat topeng, maestro biasanya bertirakat dan berpuasa. Saat tirakat, Handoyo biasanya mendapat ‘kabar’ dari leluhur bahwa ada pohon yang berumur sekitar 40-50 tahun tumbang. Pohon itulah yang kayunya akan dijadikan bahan untuk pembuatan topeng pertunjukan. Handoyo tidak membeli kayu untuk topeng pertunjukan. “Biasanya kalau saya ingin membuat topeng untuk pertunjukan, selalu ada saja pohon yang tumbang. Seperti dibukakan jalan oleh leluhur. Terus biasanya saya ke sana untuk nyuwun sewu, bertanya ke danyang atau penunggu yang ada di situ, boleh atau tidak saya ambil kayunya untuk topeng. Kalau enggak boleh, ya, enggak saya ambil. Tapi biasanya dipersilakan,” tutur Handoyo.

Pembuatan Topeng

Tahapan membuat topeng dimulai dari mbakali atau membuat dasar topeng. Biasanya kayu yang utuh dengan panjang 20-30 cm dipecah menjadi dua sisi. Satu sisi untuk satu topeng, kemudian pembentukan karakter, pengukiran, pengecatan dasar, penggosokan, dan pengecatan akhir. Langkah-langkah ini berlaku juga untuk topeng suvenir dan topeng pertunjukan. Kedua, aktivitas gebyak wayang topeng malangan. Pementasan atau gebyak wayang topeng malangan di Padepokan Asmorobangun dilakukan satu kali setiap bulan, yaitu pada Senin Legi. Jadwal yang demikian sebenarnya sudah ada sejak awal peradaban wayang topeng malangan di Dusun Kedungmonggo. Gebyak pada Senin Legi biasanya dilakukan setelah ritual Senin Legi di punden yang ada di Dusun Kedungmonggo, yaitu kisaran pukul 20.00 WIB. Saat ini, pertunjukan satu lakon, atau satu cerita, bisa membutuhkan waktu 1 hingga 2 jam. Pemain yang terlibat pun sangat bervariasi. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semua terlibat dalam pertunjukan. Untuk satu kali pementasan dengan membawakan satu judul, Handoyo mengaku melibatkan 20 hingga 25 orang. Baik itu yang berperan sebagai penabuh (gamelan), dalang, dan wayang. Pola yang diwariskan untuk pertunjukan ialah gending giro, tari pambuko, jejer siji, jejer loro, jejer telu, sigeg akhir, tari penutup.

Formula itu merupakan pakem pertunjukan yang sudah tidak bisa diubah. “Gebyak itu sebenarnya agenda khas Dusun Kedungmonggo. Jadi, setiap Senin Legi kami mengadakan pertunjukan. Biasanya leluhur itu masuk ke topengnya, tapi tidak sampai membuat trans. Kalau orang yang paham, itulah mengapa biasanya ada yang melihat, kok, karakter yang dimainkan bisa seperti hidup, ya. Itu mungkin karena itu tadi, topengnya sudah terisi,” kata Handoyo. Ketiga, ritual Senin Legi. Ritual itu biasanya dilaksanankan setiap malam Senin Legi, yaitu pada Minggu malam, di sebuah punden Dusun Kedungmonggo. Senin Legi memang waktu istimewa dan dipercaya sebagai ‘hari baik’, ketika peradaban di Dusun Kedungmonggo dimulai.

Ritual itu memiliki fungsi yang sakral, selain meminta izin untuk pementasan wayang topeng malangan, untuk mengenalkan topeng yang baru dibuat Padepokan Asmorobangun. “Ritual di punden, kan, sebenarnya untuk memberi tahu saja kepada leluhur bahwa, misal, kami akan mengadakan gebyak atau setelah membuat topeng untuk pertunjukan, biasanya topeng itu juga dirituali. Tujuannya adalah mengenalkan topeng itu kepada leluhur. Kan, istilahnya itu ada orang baru. Jadi, harus dikenalkan supaya ketika dipakai dalam pertunjukan, leluhur itu enggak bingung, loh, siapa ini yang dimainkan? Begitu juga dengan izin mau mengadakan gebyak itu. Kalau enggak meminta izin, biasanya, ya, pasti ada saja kendalanya. Kalau meminta izin, ya, sedikit-sedikit pasti ada saja yang dibantu,” kata Handoyo.

Tidak sekadar media komunikasi yang biasa-biasa saja, wayang topeng malangan juga menjadi sarana komunikasi yang estetis baik dengan leluhur maupun dengan masyarakat pendukungnya. Balutan kesakralan dan mistis tidak selalu tentang hal-hal yang menyeramkan. Wayang topeng malangan justru hadir sebagai media yang penuh dengan estetika, mulai pembuatan topeng yang sarat akan makna dan keindahan bentuk rupanya hingga pertunjukan seni tersebut. Gerakan tari dan dialog yang terjalin di antara tokoh pewayangan seakan menjadi hal yang sepenuhnya estetik dan indah, serta jauh dari kesan mistis. Peristiwa budaya yang ada di dalam wayang topeng malangan selalu merujuk kepada sistem guyub yang mendekatkan hubungan antara satu dan yang lainnya. Hal itu sangat terasa dalam praktik aktivitas baik di Padepokan Asmorobangun maupun praktik kehidupan bersosial di Dusun Kedungmonggo.

Ritual Senin Legi, terutama, menjadi sebuah momentum dusun untuk berinteraksi. Dulu, setiap malam Senin Legi, semua penduduk Kedungmonggo berkumpul di Punden, membahas berbagai urusan desa, dan sekaligus menyelesaikannya. Setelah itu lantas melihat gebyak dan besok pagi, Senin, digelar barikan, selametan. Wayang topeng malangan mampu menjadi jembatan secara vertikal dan horizontal. Estetika yang menyelimuti segala aktivitas budaya merupakan simbol yang tidak bisa dilepaskan dengan fungsinya itu sendiri. Ragam gerak tari, cok bakal yang ada dalam ritual Senin Legi, dan rupa topeng, semuanya selalu ada kaitannya dengan leluhur dan manusia. Hal itu sesuai dengan penjelasan Richard Bauman dalam Folklore, Cultural Performances, and Popular Entertainments (1992), bahwa kompetensi komunikasi bukan hanya dilihat dari pengetahuan gramatikal. Kemampuan komunikasi dapat dilihat dari segala aktivitas manusia seperti melisankan cerita, berdoa, dan aktivitas manusia yang lain. Itulah yang terjadi untuk kasus wayang topeng malangan di Dusun Kedungmonggo. Rangkaian aktivitas yang terjadi justru terjalin dengan indah dan rapi untuk fungsi komunikasi.

Read More

Kesenian Kota Malang : Bantengan

Kesenian Tradisional Bantengan merupakan suatu seni pertunjukan budaya tradisi malang yang mencampurkan faktor sendratari, olah kanuragan, musik, serta syair/ mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Permainannya hendak terus menjadi menarik apabila sudah masuk sesi trans ialah sesi pemain pemegang kepala Bantengan jadi kesurupan arwah leluhur Banteng( Dhanyangan).

Kesenian Tradisional Bantengan yang sudah lahir semenjak jaman Kerajaan Singasari sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat. Meski pada masa itu wujud kesenian bantengan belum semacam saat ini, ialah berupa topeng kepala Bantengan yang menari. Gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan Kembangan Pencak Silat( Febrianto Wihanda Putra, 2011: 2). Kesenian tradisional ini bersinambung pada masa Pemerintah Kolonial Belanda ada seseorang tokoh bernama Mbah Siran yang membuat topeng Bantengan dari tanduk banteng di Desa Claket Kecamaten Pacet Kabupaten Mojokerto. Pada masa Orde Lama Kesenian Tradisional Bantengan bermunculan di bermacam wilayah pegunungan di Jawa Timur.

Perkembangan Bantengan saat ini

Saat ini Kesenian Tradisional Bantengan telah tumbuh diberbagai Kabupaten/ Kota, antara lain Kabupaten Mojokerto, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Kediri, serta Kabupaten Pasuruan. Informasi Tahun 2018 dari Dinas Pariwisata Kota Batu ada kurang lebih 200 tim kesenian Bantengan, sebaliknya informasi Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan tercatat di No Induk Kesenian berjumlah 12 paguyuban, sementara itu kenyataan di lapangan ada ratusan paguyuban. Lewat wawancara dengan sesepuh Paguyuban Pencak Silat Macan Putih di Dusun Ngadipuro Desa Wonosari Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, dia merintisnya semenjak tahun 1962 serta tumbuh hingga dikala ini. Di tiap Kabupaten/ Kota ada banyak paguyuban yang mengelola serta meningkatkan dalam wujud Pertunjukan ataupun Festival Bantengan.

bantengan-4

Dalam suatu pementasan Kesenian Tradisional Bantengan yang sarat dengan nilai, arti, serta guna. Dibutuhkan penyajian yang lengkap dalam suatu pementasan meliputi: gerak yang mirip dengan banteng, busana, iringan musik, properti, tempat pementasan( umumnya di lapangan), pawang/ tetua/ pendekar/ sesepuh( tiap- tiap wilayah memakai istilah yang berbeda), serta sesaji.

Cara Melakukan Bantengan

Permainan Kesenian Tradisional Bantengan dimainkan oleh 2 orang yang berfungsi selaku kaki depan sekalian pemegang kepala Bantengan serta pengontrol tari Bantengan dan kaki balik yang pula berfungsi selaku ekor Bantengan. Kostum bantengan umumnya dibuat dari kain gelap serta topeng yang berupa kepala kepala banteng yang dibuat dari kain gelap serta topeng yang berupa kepala banteng yang dibuat dari kayu dan tanduk asli banteng.

maxresdefault

Buat urutan pementasan terdiri dari 3 sesi, dimana tiap- tiap derah mempunyai sebutan yang berbeda. Ketiga tahapan tersebut yang awal merupakan ritual nyuguh ataupun sandingan, kedua merupakan pementasan meliputi karak’ an serta pementasan hingga kesurupan ataupun ndadi, serta yang ketiga merupakan nyuwuk dengan tujuan memulangkan arwah leluhur ketempat asalnya. Buat melakukan ketiga tahapan tersebut wajib memenuhi bermacam kelengkapan/ persyaratan dalam suatu pementasan.

Bagi warga Jawa, sifat- sifat roh sama semacam manusia dengan satu pengecualian, ialah tidak memiliki tubuh/ wadag. Kebalikannya roh itu dikira bersama mempunyai pemikiran, perasaan, serta nafsu semacam manusia.( Stange, P, 2008 perihal 44). Tiap desa mempunyai pemimpin( lurah) serta pada dikala yang sama pula roh penjaga serta nenek moyang pendiri( dahnyang). Di desa- desa, Kerutinan teratur slametan ialah sesuatu struktur yang secara eksplisit dimaksudkan buat merukunkan ikatan dengan alam roh.

Read More

Entas-Entas Ritual Kematian Suku Tengger Jawa Timur

Indonesia kaya hendak keberagaman budaya, mulai dari tradisi perkawinan, kelahiran, sampai kematian. Salah satunya ialah tradisi Entas-entas kepunyaan warga Tengger di Gunung Bromo, Jawa Timur.

Warga suku Tengger yang terletak di Gunung Bromo, Jawa Timur, memanglah memiliki bermacam- macam tradisi budaya. Salah satu yang populer serta banyak mendatangkan turis ialah Upacara Yadnya Kasada yang hendak diselenggarakan pada akhir bulan Juni 2021 ini.

Tetapi, tidak hanya Yadnya Kasada, masih terdapat lagi tradisi dari Suku Tengger. Ialah Entas- entas. Tradisi ini ialah upacara kematian, spesialnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo.

Entas- entas sendiri dimaksud cerminan dari meluruhkan ataupun mengangkut derajat leluhur yang sudah wafat supaya memperoleh tempat yang lebih baik di alam arwah.

Untuk masyarakat Ngadas, penerapan upacara Entas-entas secara spesial ialah buat menyucikan roh ataupun atma untuk orang yang telah wafat dunia. Ataupun selaku upaya buat memeringati kematian keluarga yang tiada supaya arwahnya dapat memperoleh tempat yang lebih baik.

Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke- 1000 ataupun minimun pada hari ke- 44 sehabis keluarga terdapat yang wafat. Sebutan Entas- entas berasal dari bahasa Jawa, ialah entas yang berarti mengangkut.

Di dalam tradisi ini, ada sebagian rangkaian urutan di dalamnya, ialah ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, serta bawahan.

Buat melaksanakan upacara ini, bermacam keperluan dipersiapkan, di antara lain merupakan kain putih, bebek, cepel, cobek, beras, kulak( wadah bambu). Tidak hanya itu, pula sediakan suatu boneka yang diberi nama Petra, selaku tempat kembalinya roh ataupun atma.

Ada pula pembuatan boneka itu memakai bahan dedaunan serta bunga, setelah itu nantinya hendak disucikan oleh pemuka adat. Tiap- tiap barang yang digunakan selaku fasilitas upacara tersebut memiliki arti tertentu untuk masyarakat Ngadas.

Terdapat sebagian tahapan prosesi yang dicoba, antara lain ialah, keluarga yang bersangkutan mengisi kulak ataupun bumbung yang dibuat dari bambu itu dengan beras.

Kulak tersebut selaku lambang dari yang wafat tersebut. Setelah itu, seluruh keluarga berkumpul di dasar kain putih panjang yang dibentangkan oleh dukun setempat. Sehabis itu, dicoba prosesi Entas- entas. Inti dari upacara ini, untuk masyarakat Ngadas ialah buat mengembalikan manusia kepada faktor alaminya, ialah tanah, kayu, air serta panas.

Atma ataupun roh yang dientas diwakili oleh orang yang masih hidup, walaupun itu tidak terdapat ikatan kerabat. Ada pula salah satu persyaratan masyarakat yang ingin mewakili adma tersebut tidak boleh mengenakan pakaian, buat yang wanita diwajibkan mengenakan kemben, ataupun baju tradisional pembungkus badan perempuan yang secara historis universal ditemui di wilayah Jawa serta Bali.

Sebab dalam pemikiran masyarakat Ngadas, orang yang telah wafat itu tidak mengenakan pakaian maupun lainya. Mereka yang mewakili adma itu setelah itu dipayungi dengan memakai kain bercorak putih, antara lain merupakan kanak- kanak, muda ataupun berusia. Mereka setelah itu diberikan mantra oleh dukun. Sehabis itu, seluruh Petra dibawa ke tempat pembakaran buat di sempurnakan.

Dalam upacara Entas-entas, masyarakat Tengger umumnya memakai beberapa hewan ternak, semacam kambing, kerbau, ataupun lembu. Salah satu hewan yang sering dipakai dalam upacara adat itu merupakan kambing putih yang diyakini dapat berfungsi selaku kendaraan buat mengarah alam arwah.

Arti Entas- entas

Rangkaian penerapan Entas-entas ini memakan waktu yang panjang, apalagi dapat sampai 3 bulan. Umumnya dilaksanakan pada hari ke- 1. 000 ataupun minimun pada hari ke- 44 sehabis meninggalnya seorang.

Oleh sebab itu, Entas- entas masih boleh dicoba selang sebagian hari sehabis kematian. Karena, kesanggupan keluarga pula jadi salah satu aspek yang dipertimbangkan.

Tradisi ini bukan cuma semata- mata upacara kematian biasa semacam di daerah- daerah yang lain. Di balik penerapannya, Entas-entas mempunyai arti ialah mengembalikan kembali unsur- unsur penyusun badan manusia. Unsur- unsur tersebut yakni tanah, kayu, air, serta panas.

Arti yang diambil dari tanah, ialah tiap terdapat manusia yang wafat hendak dikubur di dalam tanah. Berikutnya merupakan kayu. Karena, buat menandai posisi orang wafat memakai kayu yang ditancap apalagi ditanam selaku nisan.

Kemudian terdapat air yang digunakan buat memandikan yang wafat. Dengan kata lain selaku pembersih. Pula sekalian selaku penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir terdapat panas. Buat mengembalikan faktor yang satu ini triknya merupakan dengan terbakar.

Boneka petra yang telah terbuat tadi hendak terbakar. Metode pengembalian faktor panas ini nyaris sama dengan upacara Ngaben di Bali. Tetapi, kelainannya merupakan bila di Entas- entas cuma membakar boneka petranya saja.

Read More

Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Trenggalek, Tradisi Lama yang Masih Dijaga

This week, the Louvre Museum in Paris was even forced to close for a day because of its overcrowding problem. (Some union representations for the museum said tourists have stifled renovation work on the Mona Lisa, crowding them into tight, unworkable spaces.)in abundance, allowing developers to save time, re-use code, and streamline the back end. As software development tools continuously change to follow the latest trends, and as new frameworks emerge, we gathered a list of the best PHP frameworks for 2019. For each framework, we will be briefly exploring the essential features, the benefits, the scale and type of projects it fits best, and the learning curve.

Read More