Category: Kebudayaan Indonesia

Budaya Jawa Barat

Tiap wilayah di Indonesia ini memiliki kebudayaan tiap- tiap serta jadi karakteristik khas tertentu. Begitu pula dengan Jawa barat ini yang populer dengan bermacam- macam kebudayaan serta kesenian yang banyak jumlahnya.

Kebudayaan Jawa Barat

Kebudayaan Jawa Barat didominasi 2 kebudayaan utama ialah kebudayaan Sunda serta kebudayaan Cirebon. Kebudayaan sunda tumbuh di Tataran Sunda, Tanah Pasundan, serta Tanah Priangan. Sebaliknya Kebudayaan Cirebon tumbuh di wilayah sisa karesidenan Cirebon kawasan bagian utara.

Ada pula kebudayaan yang lain yang tumbuh di Jawa Barat ialah budaya Betawi serta Pesisir serta tumbuh di daerah- daerah yang berbatasan dengan DKI Jakarta serta daerah- daerah pesisir tepi laut.

Nah, berikut ini hendak aku bahas secara pendek serta jelas Kebudayaan apa saja yang terdapat di Jawa Barat. Baca hingga berakhir ya!

Bahasa Wilayah Jawa Barat

Kebanyakan penduduk Jawa Barat ialah Suku Sunda, yang bertutur mengenakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon serta Kota Cirebon dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dengan dialek Brebes.

Warga asli Jawa Barat ialah suku Sunda serta Cirebon, sehingga bahasa yang digunakan tiap hari di Jawa Barat mayoritas bahasa Sunda serta Cirebon. Bahasa ini dipakai sebagian warga yang terletak di wilayah Priangan, Cirebon, serta daerah- daerah lain di sekitarnya.

Kebudayaan Sunda pula ialah salah satu kebudayaan yang tumbuh di Jawa Barat dengan bahasa utama ialah Bahasa Sunda.

Bagi sejarah akibat kekuasaan Kerajaan Mataram yang dahulu sempat menaklukkan daerah Jawa Barat pada abad XVII. Bahasa Sunda ini terbawa- bawa oleh bahasa Jawa. Akibat pengaruh ini dalam bahasa Sunda diketahui undak- usuk- basa.

Undak- usuk- basa merupakan metode konsumsi bahasa yang disesuaikan dengan tingkatan sosial pemakai bahasa dalam warga. Hingga timbullah sebutan bahasa:

  • Kasar
  • Lagi lemes( halus)
  • Cohag ataupun agresif pisan( sangat agresif)
  • Luhur ataupun lemes pisan( sangat halus)

Yang konsumsinya disesuaikan dengan orang yang diajak berdialog.

Dalam bahasa Sunda diketahui pula dengan sebagian dialek. antara lain:

  • Bogor( Karawang)
  • Priangan
  • Cerbon.

Tiap dialek tersebut memiliki karakteristik khas sendiri- sendiri.

Rumah Tradisional Jawa Barat

Berikut ini sebagian rumah adat tradisional Jawa Barat

  • Imah Badak Heauy: Rumah adat Jawa Barat yang satu ini mempunyai makna ataupun arti badak yang lagi menguap. Rumah adat Badak Heuay ini masih banyak ditemukan didaerah warga Sukabumi.
  • Rumah Togog Anjing: Rumah Togog Anjing memiliki makna selaku anjing yang lagi duduk. Desain rumah semacam ini ialah karakteristik khas rumah warga Garut.
  • Imah Julang Ngapak: Imah Julang Ngapak maknanya ialah burung yang lagi mengepakkan sayapnya. Desain rumah ini banyak dipakai didaerah Tasikmalaya
  • Imah Jolopong: Rumah adat Jolopong ini sangat banyak dibentuk oleh warga didaerah Garut.
  • Imah Parahu Kumereb: Ada di wilayah Ciamis
  • Imah Capit Gunting: Capit maksudnya mengambil suatu benda dengan dijepitkan. Sebaliknya Gunting sama maksudnya dengan pisau yang menyilang.
  • Lengkong: Ada di wilayah Garangwangi Kuningan.
  • Citalang: Ada di wilayah Kabupaten Purwakarta.

Arsitektur rumah merupakan perihal peting buat mencerminkan kebudayaan. Rumah tradisional yang rata- rata memiliki tempat ataupun ruang pertemuan yang luas. Mayoritas rumah adat suku Sunda asli ini berupa panggung. Hingga dikala ini rumah adat ini masih banyak di jumpai di sebagian tempat di Jawa Barat.

Rumah adat Sunda pada biasanya biasa dipecah jadi 3 bagian utama ialah:

  • Bagian depan merupakan teras.
  • Bagian tengah diucap tengah imah serta kamar tidur.
  • Bagian balik berbentuk dapur ataupun pawon serta pedaringan ataupun goah. Rumah adat ini umumnya memiliki taman depan& balik.

Wujud Rumah adat Sunda yaitu

  • Berupa segi 4 agak memanjang.
  • Kerangka rumahnya dibuat dari kayu.
  • Atap( hateup) rumahnya dibuat dari ijuk ataupun daun rumbia.
  • Bilik rumah adat tersebut dibuat dari dinding, ialah irisan bambu yang dianyam dengan pola kepang ataupun sasag.
  • Lantai rumah dibuat dari palupuh.
  • Tiang- tiang penyangga rumah beralaskan batu yang diucap tatapakan.
  • Lapisan rumah adat Jawa Barat ini memanjang dengan arah barat- timur, serta pintunya menghadap arah utara- selatan. Perihal ini bertujuan supaya tidak menentang arah ekspedisi matahari ataupun kehendak alam.

Baju Tradisional Jawa Barat

Pada biasanya yang diketahui warga Jawa Barat baju tradisional mereka di untuk jadi sebagian bagian serta bersumber pada kalangan warga semacam:

  • Pakaian pangsi serta kebaya sunda di tambah kain kebat( kalangan rakyat biasa)
  • Pakaian bedahan serta kebaya( kalangan rakyat menengah)
  • Jas beludru sulam benang emas( kalangan rakyat bangsawan)
  • Beskap( buat mojang serta jajaka)
  • Baju adat pengantin sunda
  • Pakaian adat sunda buat anak- anak

Baju adat Jawa Barat pada biasanya dikelompokkan jadi 2, ialah:

  • baju adat style Priangan
  • baju adat style Cirebon.

Baju adat Priangan serta Cirebon memiliki sebagian persamaan serta perbandingan. Berikut ini persamaan serta perbandingan baju adat dari ke 2 suku tersebut.

Baju Adat Perempuan

  • Wanita Priangan mengenakan kebaya surawe, namun kalangan wanita Cirebon mengenakan pakaian sorong ataupun pakaian kurung.
  • Kalangan wanita Priangan serta Cirebon mengenakan kain batik yang dililitkan di bagian dasar tubuh, dari pinggang sampai pergelangan kaki.
  • Wanita Priangan serta Cirebon dari kalangan rakyat mengenakan peralatan semacam gelang emas ataupun perak, gelang bahar, suweng pelenis emas ataupun perak, ali meneng, serta sandal.
  • Sebaliknya kalangan perempuan bangsawan Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam kalung emas, gelang emas, giwang emas, dan selop dengan hiasan manik- manik di bagian ujungnya.

Baju Adat Laki- Laki

  • Pria biasa Priangan serta Cirebon mengenakan kain sarung poleng ataupun polekat yang dikerudungkan serta diikatkan ataupun dililitkan pada pinggang.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan celana komprang yang berhiaskan pasmen.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan iket buat penutup kepala.
  • Pria rakyat biasa Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam cincin emas, rantai emas ataupun perak dengan liontin dari kuku harimau selaku hiasan jas pada bagian dada, serta sepatu ataupun selop.

Read More

“Terima Kasih” Cerminan Kearifan Budaya Indonesia

Terima kasih pak, terima kasih bu, terima kasih mas, serta seterusnya merupakan kata ringan yang terkadang berat serta susah di ucapkan. Mengapa? Sementara itu dalam bermacam peluang kita telah terbantukan oleh orang yang sepatutnya menerima perkataan Terima Kasih dari kita. Banyak orang menyangka sepele serta apalagi seolah- olah tidak butuh buat mengucapkannya. Sebabnya bermacam berbagai, terdapat yang ialah tabiat kesombongannya, terdapat yang kurang ingat sebab memanglah lagi tergesa- gesa buat melaksanakan suatu yang lain.

Orang luar negeri, nyaris tidak sempat mengucap kata terima kasih ataupun dalam bahasa Inggris- nya thanks ataupun thank you, tiap mereka mengakhiri pembicaraan dengan orang lain. Sehingga perkata itupun jadi salah satu kata dalam bahasa Inggris yang sangat sering di dengar di kuping orang Indonesia. Dari anak kecil hingga orang tua, dari orang- orang di pelosok hingga orang- orang yang terletak di kota. Apalagi tidak tidak sering mereka pula mengucapkan doa buat lawan bicaranya semacam misalnya mudah- mudahan berhasil( good luck, be lucky), jaga kesehatan( be healty), hati- hati( take care, be careful).

Tetapi mengapa kita orang Indonesia yang kerap kali tidak mengucapkan kata terima kasih itu. Sementara itu katanya orang Indonesia mempunyai ramah tamah serta sopan santun yang besar. Apakah ini suatu fenomena kemerosotan moral pula ataupun memanglah sebab telah sangat padat jadwal sehingga tidak memiliki waktu 5 detik saja buat mengucapkan kata terima kasih itu.

Sementara itu dengan mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah di bagikan orang lain kepada kita, kita hendak merasa sesuatu nikmat hidup selaku makluk sosial yang hidupnya silih tolong membantu diantara sesama. Sedangkan orang yang membantu ataupun membagikan suatu kepada kita tambah lebih Ikhlas, maksudnya terdapat bonus amal ibadah menurutnya.

Mengucapkan terima kasih sesungguhnya bukanlah berat bila telah jadi sesuatu Kerutinan, serta membentuk suatu jadi kebiasaanlah yang terkadang sangat berat. Nyaris sama halnya mengarahkan suatu yang baru kepada anak kecil serta itu memerlukan waktu serta kesabaran yang besar buat pencapaiannya.

Kebiasaan- kebiasaan baik yang berkembang dalam warga sangat di mempengaruhi oleh sebagian perihal semacam:

Adat istiadat, ialah kebiasaan- kebiasaan yang mencuat serta berkembang dalam kehidupan tiap hari. Yang berkembang serta tumbuh di tengah keluarga serta warga yang senantiasa bersahaja dengan tata karama yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya ilmu serta akhlak. Perihal ini pula di karenakan oleh landasan ilmu agama yang kokoh di tengah keluarga serta warga. Memulainya pun merupakan dari hal- hal yang kecil serta dari diri sendiri ataupun keluarga sendiri.

• Area, merupakan seluruh perihal yang terletak di sekitar kita yang dapat pengaruhi tingkah laku serta Kerutinan kita. Baik itu ialah area sekolah, kantor ataupun rukun orang sebelah( RT) ataupun tempat berkegiatan yang lain. Semacam pasar, halte, serta sebagainya. Perihal ini pula hendak sangat pengaruhi tingkah laku serta tata metode berbicara kita. Misalnya, anak kecil yang umumnya jika terletak di rumah senantiasa bicara dengan tata krama serta sopan santun yang bagus, tetapi seketika sesuatu hari kita mendengar ia mengomentari suatu dengan kata yang agresif ataupun jorok dimana lebih dahulu tidak sempat kita mendengar apa lagi kita ajarkan, keluar dari mulutnya. Apa yang terpikirkan oleh kita?.

Tentu kita hendak berpikir sang anak memperoleh istilah- istilah itu dari sekolahnya ataupun dari kawan- kawan yang terdapat di komplek perumahan tempat kita tinggal. Demikian pula kebalikannya bila sang anak kita ajarkan, kita didik di tempat serta sekolah yang menonjolkan nilai agama yang kokoh dengan kualitasnya yang tidak diragukan lagi, hendak sangat berbeda dengan bila kita menempatkan anak kita di sekolah yang( maaf) mengajarnya ala bandit. Ataupun contoh lain, kita mendengar, memandang seorang yang bertingkah tidak semacam orang- orang yang mempunyai sopan santun. Hingga kita tentu hendak mengomentarinya dengan perkata semacam,“ orang itu bekerja di situ, ataupun orang itu memanglah keluarganya semacam itu seluruh” serta sebagainya.

Secara garis besar hal- hal semacam itu hendak kita temui dalam warga. Tinggal saat ini gimana kita mempraktekkan hal- hal yang baik serta pantas buat kita terapkan, wajib kita terapkan saat ini pula. Hal- hal yang kurang baik serta tidak pantas kita jalani pula wajib kita tinggalkan.

Gimana dengan perilaku kamu bila sesuatu waktu di tengah malam kamu tidak mempunyai kendaraan buat kembali ke rumah, seketika terdapat orang sebelah yang melalui serta membagikan kamu tumpangan buat kembali bersama dengan ia. Apakah kamu tidak hendak mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut? Serta saat ini kita berandai, gimana bila orang tersebut merupakan kamu. Ataupun gimana bila orang tersebut tidak melalui serta tidak mengajak kamu buat kembali bersama dengannya. Dapat jadi kamu hendak jalur kaki lumayan jauh ataupun kamu hendak menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat kamu tersebut yang berarti pula kamu hendak menghasilkan duit buat bayaran tersebut serta seterusnya- dan seterusnya.

Dari sisi lain, tata krama serta sopan santun kamu selaku makluk sosial sangatlah pantas buat dipertanyakan. Saat ini ayo kita coba buat berempati, gimana bila yang membantu itu merupakan diri kamu, apa yang terpikirkan oleh kamu bila setelah kamu membantu orang, kamu di tinggalkan begitu saja oleh orang tersebut tanpa mengucapkan terima kasih ataupun apalagi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada kamu. Mungkin dongkol merupakan sangat besar sekali.

Selaku inti kasus kita lebih dahulu, kalau buat mengatakan rasa terima kasih atas apa yang sudah di bagikan orang lain kepada kita, hingga kebiasaan- kebiasaan tersebut wajib di wujud semenjak dini serta dari area yang kecil dan dari diri sendiri.

Hal- hal yang pula wajib senantiasa di ingat dalam hidup bermasyarakat merupakan perilaku silih merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain( empati). Kita hendak berlagak kebalikan terhadap apa yang tidak kita senangi dari orang lain serta tidak cocok dengan kaidah- kaidah serta norma- norma sosial yang lain.

Keuntungan yang bisa jadi kita peroleh dari perilaku ramah tamah kita hendak banyak sekali.

• Selaku orang tua yang mempunyai anak yang sopan, ramah kamu pasti hendak memperoleh banyak pujian tulus dari orang- orang di dekat kamu.

• Selaku makhluk sosial biasa yang tentu kamu hendak memperoleh senyum dari sang wanita menawan, dari laki- laki tampan, dari sang bunda yang anggun ataupun dari sang ayah yang sangat berwibawa.

• Selaku seseorang guru kamu hendak banyak di senangi murid

• Selaku seseorang karyawan kamu hendak banyak di senangi rekan kerja serta pelanggan.

• Selaku owner toko, kamu hendak banyak di senangi orang lain dengan sendirinya hendak banyak mendatangkan pelanggan- pelanggan baru.

• Selaku orang yang belum silih kenal- mengenal, kamu bisa jadi hendak memperoleh teman baru, keluarga baru, pekerjaan ataupun apalagi bisnis baru.

Read More

Lagu Daerah Malang Pancen Rame Khas Jawa Timur

Lagu daerah Malang Pancen Rame memiliki sejarah penulisan liriknya. Sejarah lirik Lagu Daerah Malang Pancen Rame Khas Jawa Timur menceritakan tentang keistimewaan kota Malang yang menyajikan banyak keindahan untuk para wisatawan.

Malang sudah dikenal memiliki wisata alam dan buatan yang berlimpah.

Keistimewaan tersebut akhirnya dituangkan oleh Buri Hendika Kurniawan pada lagu daerah yang diberika judul Malang Pancen Rame.

Berikut lirik lagu Malang Pancen Rame khas Jawa Timur:

Malam minggu mlaku-mlaku sak kancane
Alun-alun wayah sore pancen rame
Mudo-mudi gegojekan sak kancane

Sing dho pacaran gandhengan tangan cek mesrane

Kutho malang kuthone pancen rame
Pasar Induk Gadang panggonane
Kulon lun alun ngeglok Masjid Jami’e
Ojo lali Arjosari terminale


Tahu tempe Sanan panggonane
Jalan Lombok terkenal soto ayame
Nyami’ane kripik singkong jik nyamplenge
Aremania wis kondang sepakbolae

(*) Pantai wisata ora ketinggalan
Papan kang edi ugo tempat pemandian
Balekambang kesuwur neng Kutho Bathur
Sendang Biru ning Sumber Manjing ojo kliru

Songgoriti manggon ning kutho Batu
Coban Rondho ning Pujon pancen ono
Bajul Mati mas pancen ndundut ati
Ojo bingung kowe kari pilih ngendi


Yen ora ngandel ceritaku iki
Bukteake kutho malang pancen asri
Wus kondang kaloko kuto malang iki
Yen tindak mriko kulo jamin pengen kari

Read More

Pantangan Budaya Jawa Wajib Kalian Ketahui

Bila kita membicarakan mitos yang terdapat dalam peradaban warga Jawa pada spesialnya, hingga hendak terdapat banyak sekali mitos yang telah dipercayai secara turun- menurun.

Pada mitos- mitos tersebut tersirat pesan moral yang terencana disamarkan.

Nasehat yang terdapat di dalam mitos tidak dicetuskan secara lugas serta terus cerah, namun cuma memakai bahasa aradan ataupun petunjuk perbuatan.

Terdapat sebagian mitos yang hingga dikala ini masih banyak dipercayai serta dicoba oleh warga Jawa.

Sebagian mitos di atas memiliki pesan- pesan yang tersamarkan. Perihal ini membuat orang awam yang tidak ketahui jadi bimbang.

Dari mitos- mitos tersebut sesungguhnya nampak kalau mitos memiliki nasihat yang bermanfaat buat kelangsungan hidup manusia.

Tidak hanya itu pula ialah pembelajaran etika budaya yang diajarkan oleh orang tua kepada anak- anaknya di warga Jawa.

30 pantangan/ pamali dalam budaya tersebut merupakan:

  1. “ora ilok tudung kukusan, mundak dicaplok boyo” yang berarti wadah menanak nasi tidak boleh digunakan sebagai topi.
  2. ”ora ilok mbuwang tumo” yang berarti tidak boleh membuang kutu ke lantai.
  3. “ora ilok ngideki lante” artinya tidak boleh menduduki tikar yang tergulung karena membuat cepat rusak.
  4. “ora ilok jendelo mengo” artinya tidak boleh membuka jendela pada malam hari.
  5. “ora ilok pajang tanpo semir” artinya tidak boleh membiarkan bantal tidak menggunakan sprei.
  6. “ora ilok kasur tanpo pramada” berarti tidak baik memakai kasur tanpa sprei.
  7. “ora ilok ngandut tampah” berarti tidak boleh wanita hamil menduduki wadah makanan.
  8. “ora ilok lumbung tanpo dhasar” artinya tidak baik lumbung padi yang diak diberi daun pada dasar bangunannya.
  9. “ora ilok sumur ing ngajengan” artinya tidak baik membuat sumur di halaman rumah.
  10. “ora ilok pawon mangetan” artinya tidak baik dapur menghadap ke timur.
  11. “ora ilok nggites ngenggon” artinya tidak baik membunuh kutu kepala saat masih berada di kepala.
  12. “ora ilok lung ngajeng” artinya tidak baik memenanam semak semak di depan rumah.
  13. “ora ilok pawuhan celak wismo” artinya tidak baik tempapat pembuangan sampah dekat rumah.
  14. “ora ilok ngingah dandang” artinya tidak baik memelihara burung gagak.
  15. “ora ilok nyapu dalu” artinya tidak baik menyapu pada malam hari.
  16. “ora ilok kurep adjang” artinya tidak baik jika tidak langsung mencuci piring.
  17. “ora ilok woh obong” artinya tidak baik membahar sampah yang belum kering.
  18. “ora ilok ngadhep uwuh” artinya tidak baik tidak membuang sampah dengan segera.
  19. “ora ilok uncal uwuh” artinya tidak baik melempar sampah melalui jendela.
  20. “ora ilok mangan worek” artinya tidak baik makan dengan rambut yang masih acak acakan.
  21. “ora ilok tan sesawur” artinya tidak baik tidak pernah sedekah.
  22. “ora ilok tan memulek” artinya tidak baik tidak pernah mendoakan orang tua.
  23. “ora ilok anjangkar” artinya tidak baik memanggil orang tua dengan sebutan tidak sopan.
  24. “ora ilok wismo bangbangan “artinya tidak baik membuat rumah dengan barang bekas.
  25. “ora ilok durung mantu wes gawe omah” artinya tidak baik belum menikah tapi sudah serumah.
  26. “ora ilok sanggar cungkup” artinya tidak boleh membangun rumah dengan bahan bekas cungkup makam.
  27. “ora ilok ora ilok respati sukro” artinya tidak baik berhubungan badan pada kamis malam.
  28. “ora ilok mantu pawon” artinya tidak baik menikahkan seseorang didapur.
  29. “ora ilok usap wastra” artinya tidak baik mengusap tubuh yang kotor hanya dengan kain.
  30. “ora ilok kandang omah” artinya tidak baik memasukkan hewan peliharaan kedalam rumah.

Read More

Permisi…. Budaya Bangsa yang Mulai Memudar

Tatakrama ataupun sopan santun sangat berarti di kehidupan berbudaya masyarakat Indonesia. Bisa jadi sebagian orang tua kita mengarahkan kepada anak- anaknya apa yang diucap tatakrama/ sopana santun. Contoh kecil dari sopan santun itu semacam mengucapkan kata permisi kala kita melewati sekumpulan orang yang kita lewatkan. Serta saat ini telah nyaris tidak sering yang masih mengucapkan permisi.

Semacam dalam tatakrama sunda biasa bilang punten, sambil tangan kanan agak kebawah, yang membuktikan rasa kesopanan kala ia hendak melewat. Nah orang tua dahulu kita mendidik kita biar menjunjung besar kesopanan itu. Semacam di sunda kalo orang yang melalui tetapi tidak mengucapkan kata punten, mereka seperti hayam yang melalui( Ayam yang nyelonong melalui tanpa tau tatakrama).

Nah di jaman saat ini ini, banyak orang yang tidak memperdulikan etika tatakrama semacam ini, yang dianggapnya tidak sangat berarti. Contoh kecilnya kala aku lagi duduk duduk bersama sahabat sahabat di tempat biasa nongkrong, terdapat seseorang wanita yang melalui di depan aku tanpa mengucapakan kata permisi ataupun sedikit senyum kepada orang yang dilewatinya. Ia cuma berjalan lurus semacam tidak terdapat orang yang sudah dia lewatinya.

Apakah berartinya sih mengucapakan kata permisi ataupun punten. Bisa jadi dari perihal kecil semacam ini kita bisa memandang tatakrama seorang terhadap area sekitarnya. Bangsa ini yang sudah diketahui dunia dengan sopan santun serta tata kramanya yang sangat dijunjung besar di Negeri ini, saat ini mulai memudar dengan perilaku individualisme/ pengaruh dunia barat yang telah mencampuri orang orang kita saat ini.

Ayo kita senantiasa jaga supaya bangsa ini senantiasa memiliki sopan santun serta tatakrama yang dijunjung besar. Mulai dari diri kita sendiri.

Read More

Cerita Rakyat Panji Asal Malang

Tarian panji yang disuguhkan Sanggar Asmoro Bangun Kedungmonggo dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagian waktu kemudian membuat ratusan hadirin di Kota Tua Jakarta, terpaku.

Walaupun tidak seluruh mengerti dengan bahasa Jawa, gerakan lincah para penari yang diiringi gamelan membuat para pemirsa betah melihat. Tarian tersebut ialah bagian dari Festival Sastra ASEAN, ALF 2017, yang di dalamnya menunjukkan Festival Budaya Panji.

Tokoh utamanya merupakan Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggala serta Dewi Sekartaji alias Dewi Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Kediri.

“ Kisah- kisah Panji itu biasanya menggambarkan pengembaraan Panji menciptakan Dewi Sekartaji. Tetapi, dalam pengembaraan itu tumbuh paling tidak 15 cerita. Intinya merupakan roman, cerita percintaan,” jelas Tri Handoro, pemimpin Sanggar Tari Asmoro Bangun, kepada BBC Indonesia.

Semenjak masa Majapahit

Kumpulan cerita Panji sejatinya dituturkan semenjak jaman Kerajaan Majapahit. Bersamaan berjayanya kerajaan itu, cerita Panji juga menyebar ke bermacam wilayah.

“ Cerita Panji terkenal semenjak abad ke- 13 setelah itu menyebar turut dengan Majapahit ke Bali, Lombok, serta Sulawesi Selatan. Cerita itu kemudian menyeberang ke Malaysia. Di situ namanya hikayat. Setelah itu cerita itu hingga ke Thailand, namanya Inao,” kata mantan Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro.

Penyebaran cerita panji ke mancanegara semenjak berabad kemudian diamini Nooriah binti Mohamed, periset budaya Jawa dari Universitas kebangsaan Malaysia.

Baginya, bersumber pada bacaan sejarah Melayu ataupun the Malay Annals, penyebaran cerita Panji ke Tanah Melayu dimungkinkan berkat pernikahan Raja Malaka, Sultan Mansyur Syah, dengan gadis raja dari Majapahit.

“ Saat ini ini masih terdapat generasi Jawa di Malaysia. Mereka meneruskan budaya serta bahasa dari leluhurnya. Dalam perihal ini, cerita Panji jadi tradisi verbal yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,” kata Nooriah.

Jejak cerita Panji di beberapa wilayah bisa ditelusuri lewat naskah- naskah kuno. Periset naskah- naskah ini merupakan Roger Tol dari Universitas Leiden, Belanda.

Ia berkata ada 5 manuskrip cerita Panji di Bibliotek Negeri, Malaysia; satu naskah di Bibliotek Kamboja; 76 naskah di Bibliotek Nasional, Indonesia; serta 250 naskah di Bibliotek Leiden, Belanda.

“ Naskah- naskah ini ditulis dalam bahasa setempat. Di Indonesia, misalnya, terdapat dalam bahasa Bugis, Jawa Kuno, Aceh. Setelah itu bahasa Khmer di Kamboja serta bahasa Melayu di Malaysia. Yang tertua kami temukan itu dari tahun 1725, bahannya daun lontar,” kata Tol.

Read More

Tradisi Nelayan Lampon Banyuwangi : Petik Laut

Dalam rangka menyambut perayaan tahun baru penanggalan Jawa, nelayan di kawasan pesisir Lampon, Kecamatan Pesanggaran menggelar tradisi petik laut, Kamis (20/8). Tradisi ini digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan selama setahun.

Petik Laut adalah warisan leluhur dan merupakan bentuk sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mengais rezeki. Setiap tahun para nelayan setempat melaksanakan acara adat Petik Laut.

Sesaji Petik Laut

Sama dengan perayaan tradisi petik laut lainnya, mereka melarung sesaji ke tengah laut menggunakan perahu. Sesaji berupa kepala sapi, dan sejumlah hasil bumi dan laut diangkut menggunakan perahu mini, serta dilarung nelayan.

Ketua Panitia Petik Laut Marsudi mengatakan pihaknya telah merencanakan kegiatan ini selama satu bulan penuh, mengingat adanya pandemi corona. Panitia pun berupaya menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Semua yang terlibat ritual pasti memakai masker. Selain itu, penonton juga dibatasi,” kata Marsudi.

Selain larung sesaji, di lokasi tersebut juga diadakan selamatan dengan mengadakan wayang kulit. “Setelah pagelaran wayang kulit ini, kami langsung melarung sesaji,” ujarnya.

Marsudi menambahkan, tradisi ini di gelar untuk memohon kepada Tuhan agar para nelayan diberi keselamatan dan rezeki yang melimpah saat bekerja di laut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi kegiatan petik laut lampon serta persiapan panitia penyelenggara yang mengadakan prosesi petik laut dengan protokol kesehatan.

“Setiap kegiatan keramaian maupun upacara keagaamaan harus tetap menggunakan protokol kesehatan, dengan tetap menggunakan masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan,” kata Bupati Anas.

Pantai Lampon di Jawa Timur yang menjadi lokasi petik laut ini memiliki pemandangan yang cukup indah dengan banyaknya pohon kelapa di pesisir pantainya.

Read More

Budaya Jawa Timur : Tari Reog Ponorogo

Kesenian Reog Ponorogo jadi salah satu hasil budaya yang khas dari Jawa Timur yang belakanagan dikabarkan hendak diajukan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization( UNESCO).

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia serta Kebudayaan( Menko PMK) Muhadjir Effendy memohon supaya pemerintah Ponorogo secepatnya menganjurkan Reog Ponorogo ke UNESCO selaku Peninggalan Budaya Bukan Barang( Intangible Cultural Heritagen/ ICH).” Buat Reog, Negeri Malaysia rencananya ingin ajukan pula, hingga dari itu kita wajib lebih dahulu. Sebab ini kan telah jadi budaya serta peninggalan kita,” jelas Muhadjir.

Tari Reog Ponorogo merupakan seni tari tradisional warga Ponorogo yang pula diketahui dengan istilah Barongan. Tarian ini menunjukkan singo barong, wujud dengan topeng macan berhias bulu merak dengan dimensi sangat besar serta ditarikan dengan gerakan yang meliuk- liuk.

Sejarah Tari Reog Ponorogo

Mengutip dari Antara, kesenian Reog Ponorogo tercatat dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan dengan bertepatan pada 760M dan prasasti Kerajaan Kediri pada tahun 1045 Meter.

Ada sebagian tipe dari sejarah terciptanya kesenian Tari Reog Ponorogo ini yang merujuk pada peristiwa serta legenda di wilayah setempat. Mengutip Kompas. com, berikut sejarah Tari Reog Ponorogo yang berkaitan dengan peristiwa di masa dulu sekali.

1. Legenda Singo Barong

Cerita awal merupakan cerita Kelana Sewandana, wujud Raja Bantarangin yang bermaksud melamar Dewi Sanggalangit seseorang gadis raja di Kediri.

Selaku ketentuan, Kelana Sewandana wajib mengalahkan singo barong yang terletak di Alas Roban. Dia bawa beberapa pasukan berkuda yang sayangnya dengan gampang dikalahkan oleh singo barong. Kelana Sendawa setelah itu memakai sumping di telinganya yang menjelma jadi 2 ekor merak yang alihkan atensi singo barong.

Berkat metode tersebut, singo barong terpesona dengan Merak dengan gampang dikalahkan memakai Pecut Saman yang dibawanya. Acara perkawinan Kelana Sewandana serta Dewi Sanggalangit setelah itu diiringi dengan hadirnya singo barong dengan 2 ekor merak bertengger di atas kepalanya.

2. Cerita Ki Ageng Kutu

Sedangkan cerita kedua berasal dari cerita Ki Ageng Kutu, abdi Raja Brawijaya V yang meninggalkan Majapahit. Ki Ageng Kutu setelah itu mendirikan padepokan Surukubeng yang mengarahkan ilmu kanuragan dengan game barongan.

Sayangnya Raja Brawijaya V malah menyangka Ki Ageng Kutu tidak ingin lagi menjajaki titahnya serta berkhianat. Setelah itu diutuslah Raden Katong buat melanda padepokan itu serta berakhir dengan kekalahan Ki Ageng Kutu. Selaku imbalan, Raja Brawijaya V membagikan Raden Katong tanah perdikan di Wengker.

Arti Tari Reog Ponorogo

Reog ataupun Reyog diucap berasal dari kata Riyokun yang berarti khusnul khotimah yang diambil dari cerita perjuangan Raden Katong mengalahkan Ki Ageng Kutu.

Perihal ini tidak jauh dari arti tari tradisional ini yang mengisahkan tentang peperangan. Tetapi terdapat pula yang mengartikan tarian ini selaku sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Brawijaya V yang tunduk kepada istrinya.

Raja Brawijaya V diibaratkan selaku seekor macan yang ditunggangi oleh merak, sedangkan para pasukan majapahit dilambangkan oleh penari jathil dengan kuda- kudanya. Sedangkan Ki Ageng Kutu ditafsirkan selaku warok yang bernazar melindungi tanpa pamrih.

Sebab terdapatnya cerita percintaan, terkadang mencuat pula wujud Kelana Sewandana dengan patihnya Bujang Ganong. Cerita percintaan ini biasa dimainkan apabila pertunjukkan Reog Ponorogo diadakan dalam kegiatan perkawinan.

Iringan serta Properti Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo dimainkan dengan iringan gamelan serta lagu- lagu tradisional. Oleh karenanya, umumnya dalam iringan tari terdapat 2 kelompok ialah pemain gamelan serta penyanyi. Sedangkan itu properti tari yang digunakan pula dibedakan buat masing- masing penari.

Penari barongan memakai kostum ditambah topeng Singo Barong serta dadak merak, Dadak merak berdimensi besar dibuat dari bulu burung merak yang disusun pada lembaran bambu ataupun rotan.

Dadak merak ini populer sebab mempunyai berat menggapai 30- 50kg serta cuma dikendalikan dengan kekuatan gigi ataupun rahang dari penarinya. Buat warok, tidak hanya kostum mereka pula hendak memakai topeng serta bawa cemeti ataupun pecut.

Para jathilan tidak hanya memakai kostum dengan selendang, mereka pula bawa jaranan ataupun kuda- kudaan dari anyaman bambu. Sedangkan Klono Sewandono serta patihnya Bujang Ganong hendak memenuhi penampilan kostumnya dengan menggunakan topeng.

Read More

Mengenal Aksara Lota Ende, Dimanakah Sekarang?

Tidak banyak yang mengenali apabila di kawasan Nusa Tenggara Timur, spesialnya Kabupaten Ende, Pulau Flores ada aksara asli wilayah tersebut yang diucap dengan Lota. Ada pula pengguna terbanyak aksara Lota di masa kemudian ialah warga etnis Ende yang beragama Islam. Mereka tinggal di Kecamatan Ende, Ende Selatan, Ende Utara serta Nangapanda.

Aksara Lota ialah salah satu kebudayaan khas Nusantara turunan langsung dari aksara Bugis. Orang Bugis yang menetap di Ende bawa dan peradaban serta kebudayaannya, tercantum aksaranya. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk ke Ende dekat abad ke- 16, semasa Pemerintahan Raja Goa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin( 1593- 1639). Dalam proses menyesuaikan diri, aksara Bugis di Ende tumbuh cocok sistem Bahasa Ende serta jadi aksara Lota.

Lota berasal dari kata lontar. Pada mulanya aksara Ende ditulis pada daun lontar, setelah itu dalam perkembangannya ditulis di kertas. Bahasa Ende merupakan bahasa bersuku kata terbuka. Kata lontar berganti jadi lota. Bunyi konsonan n pada lon, serta r pada tar lenyap.

Ada 8 aksara Lota Ende yang tidak terdapat dalam aksara Bugis, ialah bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga serta rha. Kebalikannya terdapat 6 aksara Bugis yang tidak ada dalam aksara Lota Ende, ialah ca, ngka, mpa, nra, nyca serta nya.

Aksara Lota Ende telah diteliti beberapa ahli linguistik serta filologi. Antara lain S Ross yang tahun 1872 menulis novel Controleer Onder Afdeelingen Endeh. Dia mempelajari sederetan aksara Ende yang dilansir dalam TBG XXIV, setelah itu dibukukan oleh Suchtelen tahun 1921 dalam Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores.

Aksara Lota Ende pula diteliti Jan Djou Gadi Ga’ a tahun 1959, 1978, 1984, serta Maria Matildis Banda mempelajari tahun 1993 dengan sokongan dana dari Ford Foundation. Bagi Maria, tradisi menulis aksara Lota terabaikan sehabis aksara latin diketahui. Tidak hanya itu orang tua lebih mementingkan pengetahuan membaca serta menulis aksara Arab daripada aksara Ende. Profesor. Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada di Ende melaporkan kalau aksara Ende tercantum tipe silabik( syllabic writing, syllabibography, syllable writing) yang menggambarkan suku- suku kata, mirip dengan hiragana Jepang. Jadi bukan alphabet semacam huruf latin.

Djawanai menganjurkan supaya tradisi penyusunan aksara Lota dibesarkan lewat jalan pembelajaran. Strateginya menjadikan aksara Lota selaku salah satu pelajaran muatan lokal. Anjuran tersebut pantas jadi atensi. Bila proses re- genarisi terputus, dapat jadi generasi masa depan NTT tinggal mengenang aksara Lota selaku sejarah.

Read More

3 Upacara Adat, Budaya Khas Kota Malang

Di Malang, Jawa Timur, ada juga beberapa upacara adat budaya yang tak akan kamu temui di tempat lain. Kalau tertarik untuk menyaksikan, pastikan kamu mencatat waktunya dengan benar, ya.

Kirab Sesaji

Tahun Baru Islam alias satu Muharam lebih dikenal dengan sebutan ‘satu suro’ bagi masyarakat Jawa dan telah diperkenalkan sejak dahulu kala oleh Sultan Agung (Raja Mataram Islam). Momen ini dianggap sebagai momen yang sakral.

Oleh karena itu, hingga kini masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan perayaan pada hari tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Di Malang, perayaan ini disebut dengan Kirab Sesaji. Ritual dilakukan dengan cara mengelilingi desa di kawasan Gunung Kawi, tepatnya di Wonosari. Warga akan mengenakan pakaian adat Jawa sembari membawa sesaji dan gunung ke makam Eyang Junggo dan Iman Soedjono.

Sesampainya di lokasi tersebut, pemimpin upacara akan membacakan doa-doa. Selepas itu, gunungan yang berisi tumpeng dan aneka makanan akan diperebutkan oleh warga.

Perayaan ini juga dimeriahkan oleh banyak penari mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Tak lupa, ogoh-ogoh besar juga ikut meramaikan upacara adat ini untuk kemudian dibakar sebagai simbol menjauhkan diri dari bahaya.

Entas-Entas

Upacara adat ini merupakan bagian dari adat suku Tengger yang berada di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo, Malang. Tradisi entas-entas diadakan sebagai bagian dari upacara kematian dan umumnya digelar pada hari ke-44 atau 1.000 setelah meninggal.

Adapun kata ‘entas-entas’ sendiri diartikan sebagai gambaran untuk mengangkat derajat arwah leluhur yang telah meninggal sehingga mendapat tempat yang lebih baik. Rangkaian entas-entas terdiri atas ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.

Pelaksanaan upacara ini pun akan menggunakan boneka (disebut ‘petra’) yang terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini akan disucikan oleh pemangku adat setempat sebagai media arwah yang didatangkan kembali.

Grebeg Tirto Aji

Satu lagi upacara adat yang dilakukan oleh suku Tengger di Malang adalah Grebeg Tirto Aji. Upacara sakral ini diselenggarakan untuk menyambut hari besar Yadya Kasada yang biasanya dirayakan pada hari ke-14 bulan Kasada.

Salah satu rangkaian Grebeg Tirto Aji adalah pengambilan air suci yang berada di Pemandian Wendit, Pakis. Menurut kepercayaan, air ini bersumber dari Gua Widodaren yang ada di Gunung Bromo. Oleh karena leluhur Gunung Bromo dan Wendit masih bersaudara, air tersebut diyakini dapat memberi kesuburan bagi tanah Tengger sekaligus kesehatan bila diminum.

Dulunya, masyarakat suku Tengger datang sendiri-sendiri untuk melakukan upacara budaya ini. Namun sejak tahun 2016, pemerintah setempat mengakomodasi kegiatan tersebut dan menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata tersendiri.

Read More