Seni Tradisi Wayang Topeng Malangan, Bukan Sekedar Seni Biasa

Wayang topeng malangan merupakan seni tradisi berupa drama dan tari yang dinarasikan seorang dalang. Kesenian itu merupakan ikon Malang dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional pada 2014. Wayang topeng malangan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga menjadi generator suatu dusun untuk membentuk sifat guyub.

Sejak 1970-an, keberadaan komunitas-komunitas wayang topeng malangan mulai terkikis dan memudar. Kelompok-kelompok di daerah Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi, Senggreng, Puncangsanga, Jabung, dan Kedungmonggo perlahan menghilang dan hanya tersisa dua komunitas di dua tempat, yaitu di Jabung dan Kedungmonggo. Bersyukur, Padepokan Kedungmonggo bisa dikatakan aktif dalam menjaga wayang topeng malangan dan setiap bulan selalu mengadakan gebyak, atau pertunjukan secara mandiri, yaitu pada malam Senin Legi. “Setiap bulan kami selalu mengadakan gebyak, sejak Dusun Kedungmonggo ini ada. Tahunnya saya enggak tahu pasti, tapi yang jelas mbah-mbah dulu juga seperti itu,” kata Handoyo, ahli waris wayang topeng malangan yang mendapat warisan ilmu dari maestro wayang topeng malangan, almarhum Mbah Karimun, beberapa waktu lalu.

Wayang topeng malangan merupakan seni tradisi yang bersifat religius dan dipercaya ada sejak Kerajaan Majapahit. Menurut Robby Hidajat dalam Wayang Topeng Malangan dalam Perubahan Kebudayaan (2012), fungsi kesenian itu menurut catatan sejarah ialah sebagai media komunikasi antara pelaku dan roh leluhur. Menurut Handoyo, aktivitas-aktivitas pendukung kesenian itu pun selalu dikaitkan dengan peran leluhur. Fungsi itu sebenarnya masih berlaku hingga sekarang. Aktivitas di Padepokan Asmorobangun Kedungmonggo bukan hanya mengadakan gebyak atau pertunjukan seni tradisi. Ada aktivitas pengiring yang masih berhubungan dengan wayang topeng malangan dan jika aktivitas itu tidak dilakukan, tentu pakem yang ada juga tercederai. Aktivitas-aktivitas utama di Padepokan Asmorobangun, yaitu pembuatan topeng, ritual Senin legi, dan gebyak wayang topeng malangan. Hal yang paling penting ialah tujuannya, bahwa wayang topeng malangan ibarat hanya sebuah alat. Tujuannya ialah nyambung roso (menyambung rasa) dengan sesama dan komunikasi dengan leluhur-leluhur.  

Tonggak penting

Masyarakat Malang pada zaman Majapahit dikelompokkan menjadi tiga. Pertama ialah priayi. Kedua ialah kelompok yang bermukim di Malang bagian timur yang diwarnai dengan kebudayaan pasca-Majapahit, atau biasa disebut wong gunung. Ketiga ialah kelompok yang tinggal di bagian barat yang masih dipengaruhi budaya Majapahit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menguatkan catatan sejarah itu, bahwa ada tiga kecamatan di Malang yang terletak di bagian barat Malang dan mempunyai statistika penduduk beragama Hindu terbesar di antara 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, yaitu Kecamatan Wagir, Kecamatan Ngajum, dan Kecamatan Pakisaji. Kesinambungan kebudayaan di daerah-daerah tersebut, terutama Pakisaji, menunjukkan pengaruh Majapahit yang hidup di sana, satu di antaranya ialah wayang topeng malangan. Wayang topeng malangan selalu diidentikkan dengan Cerita Panji, tetapi tidak selalu. Menurut Handoyo, Cerita Panji digunakan dalam kesenian ini sejak era Mbah Karimun, sekitar 1960-an.

Sebelumnya menggunakan cerita dalam wayang purwa, yakni Mahabharata dan Ramayana. “Lalu, saat itu Mbah Mun itu berpikir, kita, kan, punya epos sendiri, kenapa, kok, tidak dipakai? Dari situlah akhirnya Cerita Panji masuk ke wayang topeng malangan. Sekarang, wayang topeng malangan selalu ditempelkan dengan Cerita Panji. Kalau ada yang nanggap penginnya menggunakan purwa, ya, masih bisa,” kata Handoyo. Jika ditelusuri lebih jauh, mengacu pada Serat Sastramiruda, Cerita Panji masuk cerita pewayangan sejak zaman Sunan Giri 1485. Saat itu, Sunan Giri mengadopsi cerita lakon dari Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Media wayang pertama yang diisi dengan substansi Cerita Panji itu ialah wayang gedog. Pertunjukan wayang gedog tersebut didalangi ialah Sunan Kudus. Berdasarkan karakter-karakter yang ada di dalam pertunjukan wayang gedog, Sunan Kalijaga pada 1508 menciptakan topeng Panji. Semenjak itulah wayang topeng yang menceritakan Cerita Panji mulai ramai dan populer di kalangan masyarakat Jawa.

Media komunikasi

Fungsi wayang topeng malangan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas-aktivitas pengiringnya sebagai kesatuan yang holistis, yakni sebagai media komunikasi dengan leluhur. Pertama, aktivitas pembuatan topeng. Secara umum, Padepokan Asmorobangun memproduksi topeng dengan dua fungsi, yaitu sebagai suvenir yang diperjualbelikan dan sebagai instrumen pertunjukan. Pembuatan topeng untuk instrumen pertunjukan berbeda dengan sekadar untuk suvenir karena ada proses spiritual yang menyelimutinya.

Sebelum membuat topeng, maestro biasanya bertirakat dan berpuasa. Saat tirakat, Handoyo biasanya mendapat ‘kabar’ dari leluhur bahwa ada pohon yang berumur sekitar 40-50 tahun tumbang. Pohon itulah yang kayunya akan dijadikan bahan untuk pembuatan topeng pertunjukan. Handoyo tidak membeli kayu untuk topeng pertunjukan. “Biasanya kalau saya ingin membuat topeng untuk pertunjukan, selalu ada saja pohon yang tumbang. Seperti dibukakan jalan oleh leluhur. Terus biasanya saya ke sana untuk nyuwun sewu, bertanya ke danyang atau penunggu yang ada di situ, boleh atau tidak saya ambil kayunya untuk topeng. Kalau enggak boleh, ya, enggak saya ambil. Tapi biasanya dipersilakan,” tutur Handoyo.

Pembuatan Topeng

Tahapan membuat topeng dimulai dari mbakali atau membuat dasar topeng. Biasanya kayu yang utuh dengan panjang 20-30 cm dipecah menjadi dua sisi. Satu sisi untuk satu topeng, kemudian pembentukan karakter, pengukiran, pengecatan dasar, penggosokan, dan pengecatan akhir. Langkah-langkah ini berlaku juga untuk topeng suvenir dan topeng pertunjukan. Kedua, aktivitas gebyak wayang topeng malangan. Pementasan atau gebyak wayang topeng malangan di Padepokan Asmorobangun dilakukan satu kali setiap bulan, yaitu pada Senin Legi. Jadwal yang demikian sebenarnya sudah ada sejak awal peradaban wayang topeng malangan di Dusun Kedungmonggo. Gebyak pada Senin Legi biasanya dilakukan setelah ritual Senin Legi di punden yang ada di Dusun Kedungmonggo, yaitu kisaran pukul 20.00 WIB. Saat ini, pertunjukan satu lakon, atau satu cerita, bisa membutuhkan waktu 1 hingga 2 jam. Pemain yang terlibat pun sangat bervariasi. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semua terlibat dalam pertunjukan. Untuk satu kali pementasan dengan membawakan satu judul, Handoyo mengaku melibatkan 20 hingga 25 orang. Baik itu yang berperan sebagai penabuh (gamelan), dalang, dan wayang. Pola yang diwariskan untuk pertunjukan ialah gending giro, tari pambuko, jejer siji, jejer loro, jejer telu, sigeg akhir, tari penutup.

Formula itu merupakan pakem pertunjukan yang sudah tidak bisa diubah. “Gebyak itu sebenarnya agenda khas Dusun Kedungmonggo. Jadi, setiap Senin Legi kami mengadakan pertunjukan. Biasanya leluhur itu masuk ke topengnya, tapi tidak sampai membuat trans. Kalau orang yang paham, itulah mengapa biasanya ada yang melihat, kok, karakter yang dimainkan bisa seperti hidup, ya. Itu mungkin karena itu tadi, topengnya sudah terisi,” kata Handoyo. Ketiga, ritual Senin Legi. Ritual itu biasanya dilaksanankan setiap malam Senin Legi, yaitu pada Minggu malam, di sebuah punden Dusun Kedungmonggo. Senin Legi memang waktu istimewa dan dipercaya sebagai ‘hari baik’, ketika peradaban di Dusun Kedungmonggo dimulai.

Ritual itu memiliki fungsi yang sakral, selain meminta izin untuk pementasan wayang topeng malangan, untuk mengenalkan topeng yang baru dibuat Padepokan Asmorobangun. “Ritual di punden, kan, sebenarnya untuk memberi tahu saja kepada leluhur bahwa, misal, kami akan mengadakan gebyak atau setelah membuat topeng untuk pertunjukan, biasanya topeng itu juga dirituali. Tujuannya adalah mengenalkan topeng itu kepada leluhur. Kan, istilahnya itu ada orang baru. Jadi, harus dikenalkan supaya ketika dipakai dalam pertunjukan, leluhur itu enggak bingung, loh, siapa ini yang dimainkan? Begitu juga dengan izin mau mengadakan gebyak itu. Kalau enggak meminta izin, biasanya, ya, pasti ada saja kendalanya. Kalau meminta izin, ya, sedikit-sedikit pasti ada saja yang dibantu,” kata Handoyo.

Tidak sekadar media komunikasi yang biasa-biasa saja, wayang topeng malangan juga menjadi sarana komunikasi yang estetis baik dengan leluhur maupun dengan masyarakat pendukungnya. Balutan kesakralan dan mistis tidak selalu tentang hal-hal yang menyeramkan. Wayang topeng malangan justru hadir sebagai media yang penuh dengan estetika, mulai pembuatan topeng yang sarat akan makna dan keindahan bentuk rupanya hingga pertunjukan seni tersebut. Gerakan tari dan dialog yang terjalin di antara tokoh pewayangan seakan menjadi hal yang sepenuhnya estetik dan indah, serta jauh dari kesan mistis. Peristiwa budaya yang ada di dalam wayang topeng malangan selalu merujuk kepada sistem guyub yang mendekatkan hubungan antara satu dan yang lainnya. Hal itu sangat terasa dalam praktik aktivitas baik di Padepokan Asmorobangun maupun praktik kehidupan bersosial di Dusun Kedungmonggo.

Ritual Senin Legi, terutama, menjadi sebuah momentum dusun untuk berinteraksi. Dulu, setiap malam Senin Legi, semua penduduk Kedungmonggo berkumpul di Punden, membahas berbagai urusan desa, dan sekaligus menyelesaikannya. Setelah itu lantas melihat gebyak dan besok pagi, Senin, digelar barikan, selametan. Wayang topeng malangan mampu menjadi jembatan secara vertikal dan horizontal. Estetika yang menyelimuti segala aktivitas budaya merupakan simbol yang tidak bisa dilepaskan dengan fungsinya itu sendiri. Ragam gerak tari, cok bakal yang ada dalam ritual Senin Legi, dan rupa topeng, semuanya selalu ada kaitannya dengan leluhur dan manusia. Hal itu sesuai dengan penjelasan Richard Bauman dalam Folklore, Cultural Performances, and Popular Entertainments (1992), bahwa kompetensi komunikasi bukan hanya dilihat dari pengetahuan gramatikal. Kemampuan komunikasi dapat dilihat dari segala aktivitas manusia seperti melisankan cerita, berdoa, dan aktivitas manusia yang lain. Itulah yang terjadi untuk kasus wayang topeng malangan di Dusun Kedungmonggo. Rangkaian aktivitas yang terjadi justru terjalin dengan indah dan rapi untuk fungsi komunikasi.

Read More

Kesenian Kota Malang : Bantengan

Kesenian Tradisional Bantengan merupakan suatu seni pertunjukan budaya tradisi malang yang mencampurkan faktor sendratari, olah kanuragan, musik, serta syair/ mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Permainannya hendak terus menjadi menarik apabila sudah masuk sesi trans ialah sesi pemain pemegang kepala Bantengan jadi kesurupan arwah leluhur Banteng( Dhanyangan).

Kesenian Tradisional Bantengan yang sudah lahir semenjak jaman Kerajaan Singasari sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat. Meski pada masa itu wujud kesenian bantengan belum semacam saat ini, ialah berupa topeng kepala Bantengan yang menari. Gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan Kembangan Pencak Silat( Febrianto Wihanda Putra, 2011: 2). Kesenian tradisional ini bersinambung pada masa Pemerintah Kolonial Belanda ada seseorang tokoh bernama Mbah Siran yang membuat topeng Bantengan dari tanduk banteng di Desa Claket Kecamaten Pacet Kabupaten Mojokerto. Pada masa Orde Lama Kesenian Tradisional Bantengan bermunculan di bermacam wilayah pegunungan di Jawa Timur.

Perkembangan Bantengan saat ini

Saat ini Kesenian Tradisional Bantengan telah tumbuh diberbagai Kabupaten/ Kota, antara lain Kabupaten Mojokerto, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Kediri, serta Kabupaten Pasuruan. Informasi Tahun 2018 dari Dinas Pariwisata Kota Batu ada kurang lebih 200 tim kesenian Bantengan, sebaliknya informasi Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan tercatat di No Induk Kesenian berjumlah 12 paguyuban, sementara itu kenyataan di lapangan ada ratusan paguyuban. Lewat wawancara dengan sesepuh Paguyuban Pencak Silat Macan Putih di Dusun Ngadipuro Desa Wonosari Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, dia merintisnya semenjak tahun 1962 serta tumbuh hingga dikala ini. Di tiap Kabupaten/ Kota ada banyak paguyuban yang mengelola serta meningkatkan dalam wujud Pertunjukan ataupun Festival Bantengan.

bantengan-4

Dalam suatu pementasan Kesenian Tradisional Bantengan yang sarat dengan nilai, arti, serta guna. Dibutuhkan penyajian yang lengkap dalam suatu pementasan meliputi: gerak yang mirip dengan banteng, busana, iringan musik, properti, tempat pementasan( umumnya di lapangan), pawang/ tetua/ pendekar/ sesepuh( tiap- tiap wilayah memakai istilah yang berbeda), serta sesaji.

Cara Melakukan Bantengan

Permainan Kesenian Tradisional Bantengan dimainkan oleh 2 orang yang berfungsi selaku kaki depan sekalian pemegang kepala Bantengan serta pengontrol tari Bantengan dan kaki balik yang pula berfungsi selaku ekor Bantengan. Kostum bantengan umumnya dibuat dari kain gelap serta topeng yang berupa kepala kepala banteng yang dibuat dari kain gelap serta topeng yang berupa kepala banteng yang dibuat dari kayu dan tanduk asli banteng.

maxresdefault

Buat urutan pementasan terdiri dari 3 sesi, dimana tiap- tiap derah mempunyai sebutan yang berbeda. Ketiga tahapan tersebut yang awal merupakan ritual nyuguh ataupun sandingan, kedua merupakan pementasan meliputi karak’ an serta pementasan hingga kesurupan ataupun ndadi, serta yang ketiga merupakan nyuwuk dengan tujuan memulangkan arwah leluhur ketempat asalnya. Buat melakukan ketiga tahapan tersebut wajib memenuhi bermacam kelengkapan/ persyaratan dalam suatu pementasan.

Bagi warga Jawa, sifat- sifat roh sama semacam manusia dengan satu pengecualian, ialah tidak memiliki tubuh/ wadag. Kebalikannya roh itu dikira bersama mempunyai pemikiran, perasaan, serta nafsu semacam manusia.( Stange, P, 2008 perihal 44). Tiap desa mempunyai pemimpin( lurah) serta pada dikala yang sama pula roh penjaga serta nenek moyang pendiri( dahnyang). Di desa- desa, Kerutinan teratur slametan ialah sesuatu struktur yang secara eksplisit dimaksudkan buat merukunkan ikatan dengan alam roh.

Read More

Entas-Entas Ritual Kematian Suku Tengger Jawa Timur

Indonesia kaya hendak keberagaman budaya, mulai dari tradisi perkawinan, kelahiran, sampai kematian. Salah satunya ialah tradisi Entas-entas kepunyaan warga Tengger di Gunung Bromo, Jawa Timur.

Warga suku Tengger yang terletak di Gunung Bromo, Jawa Timur, memanglah memiliki bermacam- macam tradisi budaya. Salah satu yang populer serta banyak mendatangkan turis ialah Upacara Yadnya Kasada yang hendak diselenggarakan pada akhir bulan Juni 2021 ini.

Tetapi, tidak hanya Yadnya Kasada, masih terdapat lagi tradisi dari Suku Tengger. Ialah Entas- entas. Tradisi ini ialah upacara kematian, spesialnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo.

Entas- entas sendiri dimaksud cerminan dari meluruhkan ataupun mengangkut derajat leluhur yang sudah wafat supaya memperoleh tempat yang lebih baik di alam arwah.

Untuk masyarakat Ngadas, penerapan upacara Entas-entas secara spesial ialah buat menyucikan roh ataupun atma untuk orang yang telah wafat dunia. Ataupun selaku upaya buat memeringati kematian keluarga yang tiada supaya arwahnya dapat memperoleh tempat yang lebih baik.

Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke- 1000 ataupun minimun pada hari ke- 44 sehabis keluarga terdapat yang wafat. Sebutan Entas- entas berasal dari bahasa Jawa, ialah entas yang berarti mengangkut.

Di dalam tradisi ini, ada sebagian rangkaian urutan di dalamnya, ialah ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, serta bawahan.

Buat melaksanakan upacara ini, bermacam keperluan dipersiapkan, di antara lain merupakan kain putih, bebek, cepel, cobek, beras, kulak( wadah bambu). Tidak hanya itu, pula sediakan suatu boneka yang diberi nama Petra, selaku tempat kembalinya roh ataupun atma.

Ada pula pembuatan boneka itu memakai bahan dedaunan serta bunga, setelah itu nantinya hendak disucikan oleh pemuka adat. Tiap- tiap barang yang digunakan selaku fasilitas upacara tersebut memiliki arti tertentu untuk masyarakat Ngadas.

Terdapat sebagian tahapan prosesi yang dicoba, antara lain ialah, keluarga yang bersangkutan mengisi kulak ataupun bumbung yang dibuat dari bambu itu dengan beras.

Kulak tersebut selaku lambang dari yang wafat tersebut. Setelah itu, seluruh keluarga berkumpul di dasar kain putih panjang yang dibentangkan oleh dukun setempat. Sehabis itu, dicoba prosesi Entas- entas. Inti dari upacara ini, untuk masyarakat Ngadas ialah buat mengembalikan manusia kepada faktor alaminya, ialah tanah, kayu, air serta panas.

Atma ataupun roh yang dientas diwakili oleh orang yang masih hidup, walaupun itu tidak terdapat ikatan kerabat. Ada pula salah satu persyaratan masyarakat yang ingin mewakili adma tersebut tidak boleh mengenakan pakaian, buat yang wanita diwajibkan mengenakan kemben, ataupun baju tradisional pembungkus badan perempuan yang secara historis universal ditemui di wilayah Jawa serta Bali.

Sebab dalam pemikiran masyarakat Ngadas, orang yang telah wafat itu tidak mengenakan pakaian maupun lainya. Mereka yang mewakili adma itu setelah itu dipayungi dengan memakai kain bercorak putih, antara lain merupakan kanak- kanak, muda ataupun berusia. Mereka setelah itu diberikan mantra oleh dukun. Sehabis itu, seluruh Petra dibawa ke tempat pembakaran buat di sempurnakan.

Dalam upacara Entas-entas, masyarakat Tengger umumnya memakai beberapa hewan ternak, semacam kambing, kerbau, ataupun lembu. Salah satu hewan yang sering dipakai dalam upacara adat itu merupakan kambing putih yang diyakini dapat berfungsi selaku kendaraan buat mengarah alam arwah.

Arti Entas- entas

Rangkaian penerapan Entas-entas ini memakan waktu yang panjang, apalagi dapat sampai 3 bulan. Umumnya dilaksanakan pada hari ke- 1. 000 ataupun minimun pada hari ke- 44 sehabis meninggalnya seorang.

Oleh sebab itu, Entas- entas masih boleh dicoba selang sebagian hari sehabis kematian. Karena, kesanggupan keluarga pula jadi salah satu aspek yang dipertimbangkan.

Tradisi ini bukan cuma semata- mata upacara kematian biasa semacam di daerah- daerah yang lain. Di balik penerapannya, Entas-entas mempunyai arti ialah mengembalikan kembali unsur- unsur penyusun badan manusia. Unsur- unsur tersebut yakni tanah, kayu, air, serta panas.

Arti yang diambil dari tanah, ialah tiap terdapat manusia yang wafat hendak dikubur di dalam tanah. Berikutnya merupakan kayu. Karena, buat menandai posisi orang wafat memakai kayu yang ditancap apalagi ditanam selaku nisan.

Kemudian terdapat air yang digunakan buat memandikan yang wafat. Dengan kata lain selaku pembersih. Pula sekalian selaku penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir terdapat panas. Buat mengembalikan faktor yang satu ini triknya merupakan dengan terbakar.

Boneka petra yang telah terbuat tadi hendak terbakar. Metode pengembalian faktor panas ini nyaris sama dengan upacara Ngaben di Bali. Tetapi, kelainannya merupakan bila di Entas- entas cuma membakar boneka petranya saja.

Read More

Museum Mpu Purwa Simpan Peninggalan Kuno

Indonesia identik dengan istilah negeri yang memiliki banyak budaya serta aset sejarah kuno. Mulai dari yang sangat populer sampai mendunia, semacam Candi Borobudur, Candi Prambanan, serta situs- situs lain yang jadi ciri unik negeri ini.

Terdapat bermacam web aset sejarah serta museum yang tersebar di Indonesia, serta sudah terdaftar secara formal buat jadi suatu tempat penyimpanan sekalian pameran publik. Salah satunya Museum Mpu Purwa yang berlokasi di Jalur Soekarno Hatta Nomor. 210, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Bagi riwayat sejarah yang tertulis di museumindonesia. com, museum Mpu Purwa ialah tempat sejarah serta budaya Nusantara yang telah lama jadi perencanaan pembangunan semenjak tahun 1980- an oleh Seksi Kebudayaan Depdikbud serta Seksi Kebudayaan Dinas P serta K Kota Malang. Tetapi, banyak sebagian usulan serta alibi tertentu yang menyebabkan perencanaan ini jadi tidak terealisasikan

Barulah pada tahun 2000, Pemerintah Kota Malang lewat Dinas Pembelajaran mulai tersadar serta berinisiatif buat mengumpulkan seluruh barang purbakala yang tersebar secara berkelompok di tiap- tiap tempat. Benda- benda tersebut nantinya hendak diletakkan secara spesial di Bibliotek Universal Kota Malang dan menjadikanya museum budaya Malang yang populer.

Tetapi, sebab alibi krusial, kesimpulannya pada tahun 2001 benda- benda tersebut di pindahkan di gedung sisa SDN Mojolangu 2 Malang. Sampai kesimpulannya ditetapkan selaku tempat spesial buat pengumpulan barang aset sejarah pada bertepatan pada 2 Mei 2004 oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto, dengan nama Gedung Balai Penyelamatan Tubuh Purbakala Mpu Purwa.

Sehabis sebagian tahun, tepatnya di tahun 2018, tempat ini bergeser guna dari balai penyelamatan jadi museum. Ditetapkan oleh Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan RI Profesor. Dokter. Muhadjir Efendy selaku Museum Mpu Purwa.

Menampung barang kuno dari 5 kerajaan sekaligus

Koleksi purbakala yang ditaruh di dalam Museum Mpu Purwa ini berasal dari masa pra- sejarah, sampai masa sejarah Hindu- Budha. Pada waktu itu, ada 5 kerjaan yang mempengaruhi terhadap latar balik terkumpulnya barang kuno di museum ini. Antara lain Kerjaan Kanjuruhan, Kerjaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, serta Kerajaan Majapahit.

Aset yang terdapat pada masa pra- sejarah, ialah semacam Batu Pelor, Batu Gores, serta Batu Lumpang. Sisanya merupakan aset sejarah yang berasal dari masa Kerajaan Hindu- Budha berbentuk prasasti, patung, makara, lingga, serta tipe barang kuno yang lain.

Pada bagian lantai satu kita bisa menciptakan bermacam patung serta prasasti, yang sudah tertata apik dengan pelindung cermin berupa persegi panjang di tengah ataupun sudut- sudut ruangan.

Pelindung tersebut pula dilengkapi dengan lampu yang terletak pas di dasar barang kuno tersebut. Manfaatnya lampu itu diletakkan di dasar, tidak lain merupakan buat bisa menyorot secara jelas benda- benda yang terdapat di dalam pelindung. Di bagian dini pintu masuk dihiasi dengan jajaran topeng malangan dengan warna yang bermacam- macam, tersusun secara vertikal serta tersambung satu sama lain.

Bagi kunjungan Joshua Favian lewat vlog pribadinya di Youtube, ada salah satu patung yang jadi pusat utama pembeda museum ini dengan museum lain. Patung tersebut merupakan Patung Ganesha yang dikenal ialah Patung terutama selama sejarah pertumbuhan tanah Jawa yang cuma terdapat di Museum ini.

Terdapat pula aset patung yang sangat kuno, ialah Patung Makara yang dijadikan penjaga pintu candi Kerajaan Kanjuruhan. Oleh sebab itu, tidak heran bila Museum ini mempunyai kesan yang istimewa di perspektif para wisatawan. Arca- arca lain yang pula jadi jejak sejarah aset kuno, ialah Patung Siwa, Brahma, serta Durga.

Merambah lantai 2 museum ini, kalian disuguhkan miniatur yang merepresentasikan diorama cerita legenda tanah Jawa di masa kemudian. Kisah- kisah tersebut semacam cerita Tumapel yang menculik Ken Dedes buat dinikahi, cerita Ken Arok yang menewaskan Mpu Gandring buat suatu keris, serta kisah- kisah yang lain yang pula mengaitkan Mpu Purwa.

Read More

Candi Singasari

Candi Singasari terletak di Malang serta jadi salah satu tujuan wisata sejarah yang pula dapat jadi wisata kekinian sebab tampilannya nampak sangat apik dikala difoto.

Tidak tidak sering terdapat orang yang terencana tiba ke kawasan wisata Candi Singasari cuma buat difoto dengan latar panorama alam candi sehingga tampilannya nampak eksotis

Saat sebelum kita mengunjungi ke Candi Singasari ini, alangkah baiknya jika kalian menekuni sedikit sejarah serta fakta- faktanya dulua

Aset Terakhir dari Kerajaan Singasari

Candi Singasari merupakan candi yang dibentuk dekat tahun 1300 Masehi.

Candi ini terencana dibentuk selaku wujud penghormatan atas Raja Kertanegara yang gugur sebab pengkhianatan serta pemberontakan oleh anak buahnya, ialah Jayakatwang.

Raja Kertanegara merupakan raja terakhir dari kerajaan Singosari yang ialah salah satu kerajaan terbanyak di Indonesia.

kerajaan-singasari

Uniknya, meski kerajaan Singosari merupakan kerajaan yang besar, tetapi salah satunya aset bangunan yang tersisa serta yang sukses ditemui merupakan Candi Singasari. Inilah yang buatnya lumayan populer.

Memiliki Arca Penjaga Terbesar di Dunia

Kenyataan yang terakhir ini memanglah betul- betul unik. Walaupun dimensi candi tidak sangat besar, tetapi dimensi arca penjaga yang terletak di sisi- sisinya ini sangat besar.

Saking besarnya, arca penjaga Candi Singasari ini menemukan predikat selaku arca penjaga terbanyak yang terdapat di dunia.

Arca Singasari

Arca penjaga candi ini mempunyai dimensi besar sampai menggapai 4 m. Arca penjaga ini dinamakan dengan nama patung Dwarapala.

Dwarapala mempunyai artian selaku penjaga jalur ataupun pintu gerbang di istana ataupun candi.

Sosoknya semacam raksasa dengan taring serta wajah yang lumayan mengerikan. Di tangannya ada gada semacam perlengkapan pemukul.

Read More

Dhurung : Lumbung Khas Jawa Timur

This week, the Louvre Museum in Paris was even forced to close for a day because of its overcrowding problem. (Some union representations for the museum said tourists have stifled renovation work on the Mona Lisa, crowding them into tight, unworkable spaces.)in abundance, allowing developers to save time, re-use code, and streamline the back end. As software development tools continuously change to follow the latest trends, and as new frameworks emerge, we gathered a list of the best PHP frameworks for 2019. For each framework, we will be briefly exploring the essential features, the benefits, the scale and type of projects it fits best, and the learning curve.

Read More

Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Trenggalek, Tradisi Lama yang Masih Dijaga

This week, the Louvre Museum in Paris was even forced to close for a day because of its overcrowding problem. (Some union representations for the museum said tourists have stifled renovation work on the Mona Lisa, crowding them into tight, unworkable spaces.)in abundance, allowing developers to save time, re-use code, and streamline the back end. As software development tools continuously change to follow the latest trends, and as new frameworks emerge, we gathered a list of the best PHP frameworks for 2019. For each framework, we will be briefly exploring the essential features, the benefits, the scale and type of projects it fits best, and the learning curve.

Read More

Malang Keprabon : Baju Manten Khas Malang

This week, the Louvre Museum in Paris was even forced to close for a day because of its overcrowding problem. (Some union representations for the museum said tourists have stifled renovation work on the Mona Lisa, crowding them into tight, unworkable spaces.)in abundance, allowing developers to save time, re-use code, and streamline the back end. As software development tools continuously change to follow the latest trends, and as new frameworks emerge, we gathered a list of the best PHP frameworks for 2019. For each framework, we will be briefly exploring the essential features, the benefits, the scale and type of projects it fits best, and the learning curve.

Read More