Budaya Jawa Barat

Tiap wilayah di Indonesia ini memiliki kebudayaan tiap- tiap serta jadi karakteristik khas tertentu. Begitu pula dengan Jawa barat ini yang populer dengan bermacam- macam kebudayaan serta kesenian yang banyak jumlahnya.

Kebudayaan Jawa Barat

Kebudayaan Jawa Barat didominasi 2 kebudayaan utama ialah kebudayaan Sunda serta kebudayaan Cirebon. Kebudayaan sunda tumbuh di Tataran Sunda, Tanah Pasundan, serta Tanah Priangan. Sebaliknya Kebudayaan Cirebon tumbuh di wilayah sisa karesidenan Cirebon kawasan bagian utara.

Ada pula kebudayaan yang lain yang tumbuh di Jawa Barat ialah budaya Betawi serta Pesisir serta tumbuh di daerah- daerah yang berbatasan dengan DKI Jakarta serta daerah- daerah pesisir tepi laut.

Nah, berikut ini hendak aku bahas secara pendek serta jelas Kebudayaan apa saja yang terdapat di Jawa Barat. Baca hingga berakhir ya!

Bahasa Wilayah Jawa Barat

Kebanyakan penduduk Jawa Barat ialah Suku Sunda, yang bertutur mengenakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon serta Kota Cirebon dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dengan dialek Brebes.

Warga asli Jawa Barat ialah suku Sunda serta Cirebon, sehingga bahasa yang digunakan tiap hari di Jawa Barat mayoritas bahasa Sunda serta Cirebon. Bahasa ini dipakai sebagian warga yang terletak di wilayah Priangan, Cirebon, serta daerah- daerah lain di sekitarnya.

Kebudayaan Sunda pula ialah salah satu kebudayaan yang tumbuh di Jawa Barat dengan bahasa utama ialah Bahasa Sunda.

Bagi sejarah akibat kekuasaan Kerajaan Mataram yang dahulu sempat menaklukkan daerah Jawa Barat pada abad XVII. Bahasa Sunda ini terbawa- bawa oleh bahasa Jawa. Akibat pengaruh ini dalam bahasa Sunda diketahui undak- usuk- basa.

Undak- usuk- basa merupakan metode konsumsi bahasa yang disesuaikan dengan tingkatan sosial pemakai bahasa dalam warga. Hingga timbullah sebutan bahasa:

  • Kasar
  • Lagi lemes( halus)
  • Cohag ataupun agresif pisan( sangat agresif)
  • Luhur ataupun lemes pisan( sangat halus)

Yang konsumsinya disesuaikan dengan orang yang diajak berdialog.

Dalam bahasa Sunda diketahui pula dengan sebagian dialek. antara lain:

  • Bogor( Karawang)
  • Priangan
  • Cerbon.

Tiap dialek tersebut memiliki karakteristik khas sendiri- sendiri.

Rumah Tradisional Jawa Barat

Berikut ini sebagian rumah adat tradisional Jawa Barat

  • Imah Badak Heauy: Rumah adat Jawa Barat yang satu ini mempunyai makna ataupun arti badak yang lagi menguap. Rumah adat Badak Heuay ini masih banyak ditemukan didaerah warga Sukabumi.
  • Rumah Togog Anjing: Rumah Togog Anjing memiliki makna selaku anjing yang lagi duduk. Desain rumah semacam ini ialah karakteristik khas rumah warga Garut.
  • Imah Julang Ngapak: Imah Julang Ngapak maknanya ialah burung yang lagi mengepakkan sayapnya. Desain rumah ini banyak dipakai didaerah Tasikmalaya
  • Imah Jolopong: Rumah adat Jolopong ini sangat banyak dibentuk oleh warga didaerah Garut.
  • Imah Parahu Kumereb: Ada di wilayah Ciamis
  • Imah Capit Gunting: Capit maksudnya mengambil suatu benda dengan dijepitkan. Sebaliknya Gunting sama maksudnya dengan pisau yang menyilang.
  • Lengkong: Ada di wilayah Garangwangi Kuningan.
  • Citalang: Ada di wilayah Kabupaten Purwakarta.

Arsitektur rumah merupakan perihal peting buat mencerminkan kebudayaan. Rumah tradisional yang rata- rata memiliki tempat ataupun ruang pertemuan yang luas. Mayoritas rumah adat suku Sunda asli ini berupa panggung. Hingga dikala ini rumah adat ini masih banyak di jumpai di sebagian tempat di Jawa Barat.

Rumah adat Sunda pada biasanya biasa dipecah jadi 3 bagian utama ialah:

  • Bagian depan merupakan teras.
  • Bagian tengah diucap tengah imah serta kamar tidur.
  • Bagian balik berbentuk dapur ataupun pawon serta pedaringan ataupun goah. Rumah adat ini umumnya memiliki taman depan& balik.

Wujud Rumah adat Sunda yaitu

  • Berupa segi 4 agak memanjang.
  • Kerangka rumahnya dibuat dari kayu.
  • Atap( hateup) rumahnya dibuat dari ijuk ataupun daun rumbia.
  • Bilik rumah adat tersebut dibuat dari dinding, ialah irisan bambu yang dianyam dengan pola kepang ataupun sasag.
  • Lantai rumah dibuat dari palupuh.
  • Tiang- tiang penyangga rumah beralaskan batu yang diucap tatapakan.
  • Lapisan rumah adat Jawa Barat ini memanjang dengan arah barat- timur, serta pintunya menghadap arah utara- selatan. Perihal ini bertujuan supaya tidak menentang arah ekspedisi matahari ataupun kehendak alam.

Baju Tradisional Jawa Barat

Pada biasanya yang diketahui warga Jawa Barat baju tradisional mereka di untuk jadi sebagian bagian serta bersumber pada kalangan warga semacam:

  • Pakaian pangsi serta kebaya sunda di tambah kain kebat( kalangan rakyat biasa)
  • Pakaian bedahan serta kebaya( kalangan rakyat menengah)
  • Jas beludru sulam benang emas( kalangan rakyat bangsawan)
  • Beskap( buat mojang serta jajaka)
  • Baju adat pengantin sunda
  • Pakaian adat sunda buat anak- anak

Baju adat Jawa Barat pada biasanya dikelompokkan jadi 2, ialah:

  • baju adat style Priangan
  • baju adat style Cirebon.

Baju adat Priangan serta Cirebon memiliki sebagian persamaan serta perbandingan. Berikut ini persamaan serta perbandingan baju adat dari ke 2 suku tersebut.

Baju Adat Perempuan

  • Wanita Priangan mengenakan kebaya surawe, namun kalangan wanita Cirebon mengenakan pakaian sorong ataupun pakaian kurung.
  • Kalangan wanita Priangan serta Cirebon mengenakan kain batik yang dililitkan di bagian dasar tubuh, dari pinggang sampai pergelangan kaki.
  • Wanita Priangan serta Cirebon dari kalangan rakyat mengenakan peralatan semacam gelang emas ataupun perak, gelang bahar, suweng pelenis emas ataupun perak, ali meneng, serta sandal.
  • Sebaliknya kalangan perempuan bangsawan Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam kalung emas, gelang emas, giwang emas, dan selop dengan hiasan manik- manik di bagian ujungnya.

Baju Adat Laki- Laki

  • Pria biasa Priangan serta Cirebon mengenakan kain sarung poleng ataupun polekat yang dikerudungkan serta diikatkan ataupun dililitkan pada pinggang.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan celana komprang yang berhiaskan pasmen.
  • Pria Priangan serta Cirebon mengenakan iket buat penutup kepala.
  • Pria rakyat biasa Priangan serta Cirebon mengenakan peralatan baju semacam cincin emas, rantai emas ataupun perak dengan liontin dari kuku harimau selaku hiasan jas pada bagian dada, serta sepatu ataupun selop.

Read More

“Terima Kasih” Cerminan Kearifan Budaya Indonesia

Terima kasih pak, terima kasih bu, terima kasih mas, serta seterusnya merupakan kata ringan yang terkadang berat serta susah di ucapkan. Mengapa? Sementara itu dalam bermacam peluang kita telah terbantukan oleh orang yang sepatutnya menerima perkataan Terima Kasih dari kita. Banyak orang menyangka sepele serta apalagi seolah- olah tidak butuh buat mengucapkannya. Sebabnya bermacam berbagai, terdapat yang ialah tabiat kesombongannya, terdapat yang kurang ingat sebab memanglah lagi tergesa- gesa buat melaksanakan suatu yang lain.

Orang luar negeri, nyaris tidak sempat mengucap kata terima kasih ataupun dalam bahasa Inggris- nya thanks ataupun thank you, tiap mereka mengakhiri pembicaraan dengan orang lain. Sehingga perkata itupun jadi salah satu kata dalam bahasa Inggris yang sangat sering di dengar di kuping orang Indonesia. Dari anak kecil hingga orang tua, dari orang- orang di pelosok hingga orang- orang yang terletak di kota. Apalagi tidak tidak sering mereka pula mengucapkan doa buat lawan bicaranya semacam misalnya mudah- mudahan berhasil( good luck, be lucky), jaga kesehatan( be healty), hati- hati( take care, be careful).

Tetapi mengapa kita orang Indonesia yang kerap kali tidak mengucapkan kata terima kasih itu. Sementara itu katanya orang Indonesia mempunyai ramah tamah serta sopan santun yang besar. Apakah ini suatu fenomena kemerosotan moral pula ataupun memanglah sebab telah sangat padat jadwal sehingga tidak memiliki waktu 5 detik saja buat mengucapkan kata terima kasih itu.

Sementara itu dengan mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah di bagikan orang lain kepada kita, kita hendak merasa sesuatu nikmat hidup selaku makluk sosial yang hidupnya silih tolong membantu diantara sesama. Sedangkan orang yang membantu ataupun membagikan suatu kepada kita tambah lebih Ikhlas, maksudnya terdapat bonus amal ibadah menurutnya.

Mengucapkan terima kasih sesungguhnya bukanlah berat bila telah jadi sesuatu Kerutinan, serta membentuk suatu jadi kebiasaanlah yang terkadang sangat berat. Nyaris sama halnya mengarahkan suatu yang baru kepada anak kecil serta itu memerlukan waktu serta kesabaran yang besar buat pencapaiannya.

Kebiasaan- kebiasaan baik yang berkembang dalam warga sangat di mempengaruhi oleh sebagian perihal semacam:

Adat istiadat, ialah kebiasaan- kebiasaan yang mencuat serta berkembang dalam kehidupan tiap hari. Yang berkembang serta tumbuh di tengah keluarga serta warga yang senantiasa bersahaja dengan tata karama yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya ilmu serta akhlak. Perihal ini pula di karenakan oleh landasan ilmu agama yang kokoh di tengah keluarga serta warga. Memulainya pun merupakan dari hal- hal yang kecil serta dari diri sendiri ataupun keluarga sendiri.

• Area, merupakan seluruh perihal yang terletak di sekitar kita yang dapat pengaruhi tingkah laku serta Kerutinan kita. Baik itu ialah area sekolah, kantor ataupun rukun orang sebelah( RT) ataupun tempat berkegiatan yang lain. Semacam pasar, halte, serta sebagainya. Perihal ini pula hendak sangat pengaruhi tingkah laku serta tata metode berbicara kita. Misalnya, anak kecil yang umumnya jika terletak di rumah senantiasa bicara dengan tata krama serta sopan santun yang bagus, tetapi seketika sesuatu hari kita mendengar ia mengomentari suatu dengan kata yang agresif ataupun jorok dimana lebih dahulu tidak sempat kita mendengar apa lagi kita ajarkan, keluar dari mulutnya. Apa yang terpikirkan oleh kita?.

Tentu kita hendak berpikir sang anak memperoleh istilah- istilah itu dari sekolahnya ataupun dari kawan- kawan yang terdapat di komplek perumahan tempat kita tinggal. Demikian pula kebalikannya bila sang anak kita ajarkan, kita didik di tempat serta sekolah yang menonjolkan nilai agama yang kokoh dengan kualitasnya yang tidak diragukan lagi, hendak sangat berbeda dengan bila kita menempatkan anak kita di sekolah yang( maaf) mengajarnya ala bandit. Ataupun contoh lain, kita mendengar, memandang seorang yang bertingkah tidak semacam orang- orang yang mempunyai sopan santun. Hingga kita tentu hendak mengomentarinya dengan perkata semacam,“ orang itu bekerja di situ, ataupun orang itu memanglah keluarganya semacam itu seluruh” serta sebagainya.

Secara garis besar hal- hal semacam itu hendak kita temui dalam warga. Tinggal saat ini gimana kita mempraktekkan hal- hal yang baik serta pantas buat kita terapkan, wajib kita terapkan saat ini pula. Hal- hal yang kurang baik serta tidak pantas kita jalani pula wajib kita tinggalkan.

Gimana dengan perilaku kamu bila sesuatu waktu di tengah malam kamu tidak mempunyai kendaraan buat kembali ke rumah, seketika terdapat orang sebelah yang melalui serta membagikan kamu tumpangan buat kembali bersama dengan ia. Apakah kamu tidak hendak mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut? Serta saat ini kita berandai, gimana bila orang tersebut merupakan kamu. Ataupun gimana bila orang tersebut tidak melalui serta tidak mengajak kamu buat kembali bersama dengannya. Dapat jadi kamu hendak jalur kaki lumayan jauh ataupun kamu hendak menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat kamu tersebut yang berarti pula kamu hendak menghasilkan duit buat bayaran tersebut serta seterusnya- dan seterusnya.

Dari sisi lain, tata krama serta sopan santun kamu selaku makluk sosial sangatlah pantas buat dipertanyakan. Saat ini ayo kita coba buat berempati, gimana bila yang membantu itu merupakan diri kamu, apa yang terpikirkan oleh kamu bila setelah kamu membantu orang, kamu di tinggalkan begitu saja oleh orang tersebut tanpa mengucapkan terima kasih ataupun apalagi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada kamu. Mungkin dongkol merupakan sangat besar sekali.

Selaku inti kasus kita lebih dahulu, kalau buat mengatakan rasa terima kasih atas apa yang sudah di bagikan orang lain kepada kita, hingga kebiasaan- kebiasaan tersebut wajib di wujud semenjak dini serta dari area yang kecil dan dari diri sendiri.

Hal- hal yang pula wajib senantiasa di ingat dalam hidup bermasyarakat merupakan perilaku silih merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain( empati). Kita hendak berlagak kebalikan terhadap apa yang tidak kita senangi dari orang lain serta tidak cocok dengan kaidah- kaidah serta norma- norma sosial yang lain.

Keuntungan yang bisa jadi kita peroleh dari perilaku ramah tamah kita hendak banyak sekali.

• Selaku orang tua yang mempunyai anak yang sopan, ramah kamu pasti hendak memperoleh banyak pujian tulus dari orang- orang di dekat kamu.

• Selaku makhluk sosial biasa yang tentu kamu hendak memperoleh senyum dari sang wanita menawan, dari laki- laki tampan, dari sang bunda yang anggun ataupun dari sang ayah yang sangat berwibawa.

• Selaku seseorang guru kamu hendak banyak di senangi murid

• Selaku seseorang karyawan kamu hendak banyak di senangi rekan kerja serta pelanggan.

• Selaku owner toko, kamu hendak banyak di senangi orang lain dengan sendirinya hendak banyak mendatangkan pelanggan- pelanggan baru.

• Selaku orang yang belum silih kenal- mengenal, kamu bisa jadi hendak memperoleh teman baru, keluarga baru, pekerjaan ataupun apalagi bisnis baru.

Read More

Lagu Daerah Malang Pancen Rame Khas Jawa Timur

Lagu daerah Malang Pancen Rame memiliki sejarah penulisan liriknya. Sejarah lirik Lagu Daerah Malang Pancen Rame Khas Jawa Timur menceritakan tentang keistimewaan kota Malang yang menyajikan banyak keindahan untuk para wisatawan.

Malang sudah dikenal memiliki wisata alam dan buatan yang berlimpah.

Keistimewaan tersebut akhirnya dituangkan oleh Buri Hendika Kurniawan pada lagu daerah yang diberika judul Malang Pancen Rame.

Berikut lirik lagu Malang Pancen Rame khas Jawa Timur:

Malam minggu mlaku-mlaku sak kancane
Alun-alun wayah sore pancen rame
Mudo-mudi gegojekan sak kancane

Sing dho pacaran gandhengan tangan cek mesrane

Kutho malang kuthone pancen rame
Pasar Induk Gadang panggonane
Kulon lun alun ngeglok Masjid Jami’e
Ojo lali Arjosari terminale


Tahu tempe Sanan panggonane
Jalan Lombok terkenal soto ayame
Nyami’ane kripik singkong jik nyamplenge
Aremania wis kondang sepakbolae

(*) Pantai wisata ora ketinggalan
Papan kang edi ugo tempat pemandian
Balekambang kesuwur neng Kutho Bathur
Sendang Biru ning Sumber Manjing ojo kliru

Songgoriti manggon ning kutho Batu
Coban Rondho ning Pujon pancen ono
Bajul Mati mas pancen ndundut ati
Ojo bingung kowe kari pilih ngendi


Yen ora ngandel ceritaku iki
Bukteake kutho malang pancen asri
Wus kondang kaloko kuto malang iki
Yen tindak mriko kulo jamin pengen kari

Read More

Pantangan Budaya Jawa Wajib Kalian Ketahui

Bila kita membicarakan mitos yang terdapat dalam peradaban warga Jawa pada spesialnya, hingga hendak terdapat banyak sekali mitos yang telah dipercayai secara turun- menurun.

Pada mitos- mitos tersebut tersirat pesan moral yang terencana disamarkan.

Nasehat yang terdapat di dalam mitos tidak dicetuskan secara lugas serta terus cerah, namun cuma memakai bahasa aradan ataupun petunjuk perbuatan.

Terdapat sebagian mitos yang hingga dikala ini masih banyak dipercayai serta dicoba oleh warga Jawa.

Sebagian mitos di atas memiliki pesan- pesan yang tersamarkan. Perihal ini membuat orang awam yang tidak ketahui jadi bimbang.

Dari mitos- mitos tersebut sesungguhnya nampak kalau mitos memiliki nasihat yang bermanfaat buat kelangsungan hidup manusia.

Tidak hanya itu pula ialah pembelajaran etika budaya yang diajarkan oleh orang tua kepada anak- anaknya di warga Jawa.

30 pantangan/ pamali dalam budaya tersebut merupakan:

  1. “ora ilok tudung kukusan, mundak dicaplok boyo” yang berarti wadah menanak nasi tidak boleh digunakan sebagai topi.
  2. ”ora ilok mbuwang tumo” yang berarti tidak boleh membuang kutu ke lantai.
  3. “ora ilok ngideki lante” artinya tidak boleh menduduki tikar yang tergulung karena membuat cepat rusak.
  4. “ora ilok jendelo mengo” artinya tidak boleh membuka jendela pada malam hari.
  5. “ora ilok pajang tanpo semir” artinya tidak boleh membiarkan bantal tidak menggunakan sprei.
  6. “ora ilok kasur tanpo pramada” berarti tidak baik memakai kasur tanpa sprei.
  7. “ora ilok ngandut tampah” berarti tidak boleh wanita hamil menduduki wadah makanan.
  8. “ora ilok lumbung tanpo dhasar” artinya tidak baik lumbung padi yang diak diberi daun pada dasar bangunannya.
  9. “ora ilok sumur ing ngajengan” artinya tidak baik membuat sumur di halaman rumah.
  10. “ora ilok pawon mangetan” artinya tidak baik dapur menghadap ke timur.
  11. “ora ilok nggites ngenggon” artinya tidak baik membunuh kutu kepala saat masih berada di kepala.
  12. “ora ilok lung ngajeng” artinya tidak baik memenanam semak semak di depan rumah.
  13. “ora ilok pawuhan celak wismo” artinya tidak baik tempapat pembuangan sampah dekat rumah.
  14. “ora ilok ngingah dandang” artinya tidak baik memelihara burung gagak.
  15. “ora ilok nyapu dalu” artinya tidak baik menyapu pada malam hari.
  16. “ora ilok kurep adjang” artinya tidak baik jika tidak langsung mencuci piring.
  17. “ora ilok woh obong” artinya tidak baik membahar sampah yang belum kering.
  18. “ora ilok ngadhep uwuh” artinya tidak baik tidak membuang sampah dengan segera.
  19. “ora ilok uncal uwuh” artinya tidak baik melempar sampah melalui jendela.
  20. “ora ilok mangan worek” artinya tidak baik makan dengan rambut yang masih acak acakan.
  21. “ora ilok tan sesawur” artinya tidak baik tidak pernah sedekah.
  22. “ora ilok tan memulek” artinya tidak baik tidak pernah mendoakan orang tua.
  23. “ora ilok anjangkar” artinya tidak baik memanggil orang tua dengan sebutan tidak sopan.
  24. “ora ilok wismo bangbangan “artinya tidak baik membuat rumah dengan barang bekas.
  25. “ora ilok durung mantu wes gawe omah” artinya tidak baik belum menikah tapi sudah serumah.
  26. “ora ilok sanggar cungkup” artinya tidak boleh membangun rumah dengan bahan bekas cungkup makam.
  27. “ora ilok ora ilok respati sukro” artinya tidak baik berhubungan badan pada kamis malam.
  28. “ora ilok mantu pawon” artinya tidak baik menikahkan seseorang didapur.
  29. “ora ilok usap wastra” artinya tidak baik mengusap tubuh yang kotor hanya dengan kain.
  30. “ora ilok kandang omah” artinya tidak baik memasukkan hewan peliharaan kedalam rumah.

Read More

Permisi…. Budaya Bangsa yang Mulai Memudar

Tatakrama ataupun sopan santun sangat berarti di kehidupan berbudaya masyarakat Indonesia. Bisa jadi sebagian orang tua kita mengarahkan kepada anak- anaknya apa yang diucap tatakrama/ sopana santun. Contoh kecil dari sopan santun itu semacam mengucapkan kata permisi kala kita melewati sekumpulan orang yang kita lewatkan. Serta saat ini telah nyaris tidak sering yang masih mengucapkan permisi.

Semacam dalam tatakrama sunda biasa bilang punten, sambil tangan kanan agak kebawah, yang membuktikan rasa kesopanan kala ia hendak melewat. Nah orang tua dahulu kita mendidik kita biar menjunjung besar kesopanan itu. Semacam di sunda kalo orang yang melalui tetapi tidak mengucapkan kata punten, mereka seperti hayam yang melalui( Ayam yang nyelonong melalui tanpa tau tatakrama).

Nah di jaman saat ini ini, banyak orang yang tidak memperdulikan etika tatakrama semacam ini, yang dianggapnya tidak sangat berarti. Contoh kecilnya kala aku lagi duduk duduk bersama sahabat sahabat di tempat biasa nongkrong, terdapat seseorang wanita yang melalui di depan aku tanpa mengucapakan kata permisi ataupun sedikit senyum kepada orang yang dilewatinya. Ia cuma berjalan lurus semacam tidak terdapat orang yang sudah dia lewatinya.

Apakah berartinya sih mengucapakan kata permisi ataupun punten. Bisa jadi dari perihal kecil semacam ini kita bisa memandang tatakrama seorang terhadap area sekitarnya. Bangsa ini yang sudah diketahui dunia dengan sopan santun serta tata kramanya yang sangat dijunjung besar di Negeri ini, saat ini mulai memudar dengan perilaku individualisme/ pengaruh dunia barat yang telah mencampuri orang orang kita saat ini.

Ayo kita senantiasa jaga supaya bangsa ini senantiasa memiliki sopan santun serta tatakrama yang dijunjung besar. Mulai dari diri kita sendiri.

Read More

Belajar Budaya di 5 Spot Wisata Budaya Bersejarah di Malang

Selain keindahan alam dan kuliner lezat, keindahan kota Malang juga tak terlepas dari nilai budaya dan sejarah yang dimilikinya. Banyak tempat bersejarah mengandung unsur budaya yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

Berlibur ke kota Malang belum lengkap, kalau belum melakukan wisata budaya yang tidak hanya menambah wawasan, tapi juga seru untuk dikunjungi. Di mana saja sih tempatnya? 

Mengenal Sejarah dan Budaya Kota Malang 

Liburan tidak melulu soal wisata alam atau wisata kuliner. Wisata budaya juga bisa jadi agenda liburan yang sayang bila dilewatkan. Nggak perlu bingung, karena ada banyak sekali rekomendasi wisata budaya yang bisa kamu kunjungi. Mau tahu tempatnya? Ini dia daftarnya:

1. Candi Singosari dan Keindahan Harmonisasi Hindu-Budha

Blog tiket.com | Temukan informasi dan inspirasi liburan paling lengkap dari beragam destinasi wisata di sini!
Sumber: shutterstock.com

Alamat: Jl. Kertanegara No.148, Candirenggo, Kec. Singosari, Malang

Candi Singosari adalah destinasi wisata budaya yang bisa jadi objek wisata seru saat berkunjung ke Malang. Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Singosari yang sangat ternama di Jawa Timur. 

Candi yang diperkirakan dibangun pada tahun 1300 Masehi ini adalah bukti dari harmonisnya budaya Hindu dan Budha yang dianut oleh Kerajaan Singosari. Hal ini dikuatkan juga dengan ditemukannya beberapa arca yang menjadi simbol agama dan budaya Hindu dan Budha.

Candi ini pertama kali ditemukan oleh orang Belanda bernama Nicolaus Engelhard pada abad ke-18. Kemudian, pemerintah Belanda yang saat itu masih menduduki Indonesia melakukan pemugaran pada tahun 1901-1934. Oleh karena itu, ada beberapa bagian reruntuhan Candi Singosari yang diabadikan di Museum Leiden, Belanda. 

Nilai-nilai budaya dan sejarah dari Candi Singosari tidak bisa terlepas juga dari kisah yang ada.  Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada raja terakhir Kerajaan Singosari yakni, Raja Kertanegara. Selain kisah cinta segitiga antara Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung, ada kisah lain yang melekat juga. Konon, candi ini juga memiliki legenda tentang kutukan Keris Mpu Gandring yang berujung pada pertumpahan darah yang terjadi di Kerajaan Singosari. 

Objek wisata ini berada di dataran tinggi Desa Pagentan, Kabupaten Malang. Udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan asrinya  membuat candi ini banyak dikunjungi oleh masyarakat kota Malang dan sekitarnya. Belajar budaya sambil menikmati keindahan alam tentu sangat menyenangkan, bukan?

2. Mengenal Seni Topeng Malangan di Kampung Budaya Polowijen

Alamat: Desa Polowijen, RT 03 RW 02 Kelurahan Polowijen, Blimbing, Kab, Malang

Bicara soal budaya di Malang tentu tak bisa lepas dari Kesenian Topeng Malangan.Tak hanya seni tari, namun topeng yang digunakan sebagai properti juga merupakan produk hasil buatan tangan masyarakat di daerah Malang. 

Apabila ingin mengenal dan mendalami tentang kesenian ini, sobat tiket bisa mampir ke Kampung Budaya Polowijen. Kampung Budaya Polowijen ini merupakan salah satu kampung tematik yang ada di kota Malang, selain Kampung Pelangi. Kamu bisa mempelajari seluk beluk tentang Tari Topeng Malangan dan nilai budaya yang ada di dalamnya. 

Sebelum akhirnya diresmikan sebagai Kampung Budaya di tahun 2017, Kelurahan Polowijen sudah terkenal karena banyaknya penari dan pengrajin Topeng Malangan. Karena nilai budaya dan seni yang sangat kental, seorang warganya mengusulkan agar kampung ini dijadikan kampung budaya. 

Suasana yang begitu khas akan langsung terasa saat kamu sampai di kampung ini. Mulai dari gazebo, panggung bambu, hingga rumah warga setempat, dibuat dengan gaya khas tempo dulu untuk menambah nuansa kampung yang khas. 

Selain mengenal budaya warga sekitar, sobat tiket juga bisa belajar menari dan membuat Topeng Malangan di kampung budaya ini. Ada banyak rumah penari yang bisa kamu kunjungi, untuk mengetahui lebih jauh tentang kesenian asli Malang ini. Terdapat juga perpustakaan bagi kamu yang ingin mencari literasi mengenai Kampung Budaya Polowijen dan seluk beluk di dalamnya. 

Selain untuk melestarikan nilai seni dan budaya setempat, Kampung Budaya Polowijen juga ditujukan untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar. Hal ini lah yang menjadikan Kampung Budaya Polowijen sebagai destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi ketika kamu di Malang.

3. Cerita Unik di Balik Nama Candi Badut

Blog tiket.com | Temukan informasi dan inspirasi liburan paling lengkap dari beragam destinasi wisata di sini!
Sumber: shutterstock.com

Alamat: Jalan Candi 5D, Karang Widoro, Kec. Dau, Kota Malang

Lanjutkan petualangan wisata budaya kamu ke Candi Badut, candi tertua yang ada di Jawa Timur. Candi yang disebut juga sebagai Candi Liswa ini merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana atau yang bernama Liswa. Adapun nama Candi Badut ini diberikan sebagai gambaran dari Raja Liswa yang terkenal punya watak lucu.

Jika dilihat dari bentuknya, Candi Badut sangat berbeda dari Candi lain yang ada di Jawa Timur. Candi ini justru memiliki kesamaan dengan Candi Dieng yang terletak di Wonosobo, Jawa Tengah. Sejak diresmikan sebagai objek wisata pada tahun 90-an, Candi Badut sering dijadikan objek wisata edukasi

Selain belajar budaya dan sejarah, sobat tiket juga bisa menikmati keindahan alam yang ada di sekitar candi. Karena tempatnya yang luas, kamu bisa puas berjalan-jalan dan menikmati keindahan candi yang diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun ini. 

Selain keindahan alam dan kekayaan nilai budaya, Candi Badut juga banyak dipilih sebagai wisata edukasi budaya karena letaknya yang cukup strategis dan dekat dengan pusat kota. Apabila hendak berkunjung, jangan lupa bawa serta keluarga kamu, ya! 

4. Megahnya Pertunjukan Seni di Padepokan Seni Asmorobangun

Alamat: Jalan Prajurit Slamet, Karangpandan, Kec. Pakisaji, Malang

Selain di Kampung Budaya Polowijen, belajar budaya dan kesenian Topeng Malangan juga bisa dilakukan di Padepokan Seni Asmoro Bangun. Padepokan seni ini adalah satu-satunya padepokan yang hingga sekarang  masih mempertahankan kebudayaan asli Malang. 

Tak hanya kesenian tari Topeng Malangan, sobat tiket juga bisa belajar membuat kerajinan yang khas dan kaya nilai budaya. Karena tingginya nilai budaya yang dimiliki oleh Kesenian Topeng Malangan ini, akhirnya perkumpulan penari Topeng membuat sebuah tempat pendidikan tari, salah satunya Padepokan Asmorobangun. 

Padepokan Seni Asmorobangun juga sering mengadakan Pagelaran Wayang Topeng untuk ritual bersih desa dan Suroan sebagai wujud pengabdian masyarakat. Selain itu, pertunjukan juga sering diadakan saat acara-acara tertentu yang ada di Padepokan Seni ini. Pertunjukan ini biasanya dimulai pukul 19.00 dengan durasi kurang lebih 2 jam. 

5. Menikmati Keindahan Alam di Candi Kidal

Blog tiket.com | Temukan informasi dan inspirasi liburan paling lengkap dari beragam destinasi wisata di sini!
Sumber: shutterstock.co

Alamat: Jl. Raya Kidal, Panggung, Kidal, Kec. Tumpang, Malang

Berwisata budaya di kota Malang belum lengkap, kalau belum berkunjung ke Candi Kidal. Candi Hindu ini konon dibangun sebagai tanda penghormatan pada Raja Anusapati, yang merupakan raja kedua di Kerajaan Singosari. Ditemukan dalam keadaan tidak utuh, candi ini beberapa kali mengalami pemugaran dan perbaikan oleh pemerintah setempat. 

Ciri khas dari Candi Kidal adalah patung garuda yang berada di setiap sisi kaki candi. Keberadaan patung kabarnya menggambarkan kisah pengabdian dan cinta Garudeya, seekor elang yang menyelamatkan ibunya dari perbudakan. 

Tak hanya nilai budaya dan sejarah yang kental, candi ini juga memiliki pemandangan yang sangat memukau. Selain itu, Candi Kidal terletak di area taman luas yang dekat dengan pemukiman warga. Bagi sobat tiket yang hendak berkunjung tak perlu khawatir akan tersesat, deh! 

Read More

Cerita Rakyat Panji Asal Malang

Tarian panji yang disuguhkan Sanggar Asmoro Bangun Kedungmonggo dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagian waktu kemudian membuat ratusan hadirin di Kota Tua Jakarta, terpaku.

Walaupun tidak seluruh mengerti dengan bahasa Jawa, gerakan lincah para penari yang diiringi gamelan membuat para pemirsa betah melihat. Tarian tersebut ialah bagian dari Festival Sastra ASEAN, ALF 2017, yang di dalamnya menunjukkan Festival Budaya Panji.

Tokoh utamanya merupakan Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggala serta Dewi Sekartaji alias Dewi Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Kediri.

“ Kisah- kisah Panji itu biasanya menggambarkan pengembaraan Panji menciptakan Dewi Sekartaji. Tetapi, dalam pengembaraan itu tumbuh paling tidak 15 cerita. Intinya merupakan roman, cerita percintaan,” jelas Tri Handoro, pemimpin Sanggar Tari Asmoro Bangun, kepada BBC Indonesia.

Semenjak masa Majapahit

Kumpulan cerita Panji sejatinya dituturkan semenjak jaman Kerajaan Majapahit. Bersamaan berjayanya kerajaan itu, cerita Panji juga menyebar ke bermacam wilayah.

“ Cerita Panji terkenal semenjak abad ke- 13 setelah itu menyebar turut dengan Majapahit ke Bali, Lombok, serta Sulawesi Selatan. Cerita itu kemudian menyeberang ke Malaysia. Di situ namanya hikayat. Setelah itu cerita itu hingga ke Thailand, namanya Inao,” kata mantan Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro.

Penyebaran cerita panji ke mancanegara semenjak berabad kemudian diamini Nooriah binti Mohamed, periset budaya Jawa dari Universitas kebangsaan Malaysia.

Baginya, bersumber pada bacaan sejarah Melayu ataupun the Malay Annals, penyebaran cerita Panji ke Tanah Melayu dimungkinkan berkat pernikahan Raja Malaka, Sultan Mansyur Syah, dengan gadis raja dari Majapahit.

“ Saat ini ini masih terdapat generasi Jawa di Malaysia. Mereka meneruskan budaya serta bahasa dari leluhurnya. Dalam perihal ini, cerita Panji jadi tradisi verbal yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,” kata Nooriah.

Jejak cerita Panji di beberapa wilayah bisa ditelusuri lewat naskah- naskah kuno. Periset naskah- naskah ini merupakan Roger Tol dari Universitas Leiden, Belanda.

Ia berkata ada 5 manuskrip cerita Panji di Bibliotek Negeri, Malaysia; satu naskah di Bibliotek Kamboja; 76 naskah di Bibliotek Nasional, Indonesia; serta 250 naskah di Bibliotek Leiden, Belanda.

“ Naskah- naskah ini ditulis dalam bahasa setempat. Di Indonesia, misalnya, terdapat dalam bahasa Bugis, Jawa Kuno, Aceh. Setelah itu bahasa Khmer di Kamboja serta bahasa Melayu di Malaysia. Yang tertua kami temukan itu dari tahun 1725, bahannya daun lontar,” kata Tol.

Read More

Batik Malang Kucecwara : Batik Asli Malang dengan Filosofi Tradisional

Batik telah menempel dengan warga Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Malang. Semenjak abad XIX saja, upacara tradisional di Malang telah mengharuskan pemakaian medhang koro alias hiasan kepala, udeng, serta sewek dengan motif batik. Dulu, motif batik yang digunakan merupakan motif Sidomukti. Bersamaan berkembangnya era, motif batik Malangan terus menjadi tumbuh, salah satunya terdapat motif batik Malang Kucecwara.

Karakteristik Batik Malang Kucecwara

Karakteristik khas utama batik ini merupakan motif khas Malangan semacam mahkota, tugu Malang, rumbai singa, patung, bunga teratai, sulur- sulur pula isen- isen berupa belah ketupat. Nyatanya motif yang diseleksi ini bukan hanya mencerminkan ikon- ikon Malang, tetapi motif batik Malang Kucecwara ini pula mempunyai filosofi tertentu.

Mahkota

Motif awal ialah mahkota. Ikon ini bukan sembarang mahkota, tetapi wujud mahkota dari raja Gajayana yang sempat bawa kerajaan Gajayana terletak pada puncak kejayaannya. Dengan motif ini, terdapat harapan batik Malang Kucewara bisa jadi batik yang bawa Malang pada puncak kejayaan seperti mahkota mendampingi raja Gajayana.

Tugu Malang

Malang identik dengan tugunya. Tidak hanya jadi ikon kota Malang, motif Tugu diseleksi sebab mencerminkan kekuasaan daerah, ketegaran serta keperkasaan.

Bunga Teratai

Semacam Tugu Malang yang tidak lepas dari bunga teratai, begitu pula dalam motif batik Malang Kucecwara ini. Bunga Teratai menggambarkan sesuatu keelokan alam yang penuh kesuburan.

Rumbai Singa

Bukan jadi perihal yang asing ya bila Singa jadi salah satu animal spirit masyarakat Malang. Semacam ikon sepak bolanya, Arema yang dijuluki Singo Edan, rumbai singa pada batik Malang Kucecwara melambangkan jiwa warga Malang yang pemberani, mempunyai semangat membara, serta pantang menyerah.

Arca

Dalam motif batik ini, patung candi Singosari mewakili salah satu peninggalan budaya Malang. Tidak hanya itu, patung ini menegaskan pada kejayaan Singhasari, salah satu kerajaan terbanyak yang terdapat di Malang.

Sulur- sulur

Motif sulur- sulur jadi lambang kehidupan yang senantiasa bekembang tetapi tidak abadi, sebagaimana tiap manusia kesimpulannya hendak mati. Sulur- sulur yang bersambung satu sama lain menggambarkan generasi penerus yang hendak terus melanjutkan serta melestarikan tujuan kehidupan.

Isen- isen Belah Ketupat

Isen- isen ini diambil dari relief candi Badut, yang dimaknai selaku pengakuan kalau manusia tidaklah makhluk sempurna. Terdapat lepat dalam kata ketupat, suatu pengakuan kalau manusia tentu melaksanakan kesalahan.

Filosofi Batik Malang Kucecwara

Dari filosofi- filosofi tersebut, diharapkan terdapatnya sesuatu keluhuran dari pemakainya buat senantiasa jadi pemberani, menghargai kehidupan, bertanggung jawab dengan penuh rasa hormat, serta menyayangi area sekitarnya.

Read More

Monumen Juang 45, Bukti Perjuangan Bangsa Indonesia

Selaku kota sejarah, Kota Malang mempunyai banyak sekali monumen- monumen berarti. Salah satunya Monumen Juang 45. Wujudnya yang unik serta menarik menjadikan monumen ini selaku salah satu tempat wisata budaya yang harus Kamu kunjungi.

Monumen ini terletak Jalur Kertanegara, tepatnya terletak depan Stasiun Kotabaru Malang. Tidak jauh dari Monumen Juang 45 ada sebagian posisi lain yang bisa kamu kunjungi ialah Taman Pintar Trunojoyo, Balaikota Malang serta Taman Tugu.

Berdimensi 10 x 40 m, dengan panjang pondasi 6, 90 m, panjang 3, 30 m, serta besar 2 m. Posisinya yang strategis membuat monumen ini gampang ditemui. Bangunan ini pula nampak jelas walaupun dari jarak 10 m.

Monumen Juang 45 mulai berdiri pada 20 Mei 1975 dengan ilham berawal dari pemerintah wilayah Kota Malang.

Monumen ini buat mengenang Kembali sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Pula ialah pembangkit semangat patriotisme kanak- kanak muda Kota Malang. Pahlawan kala itu sudah berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tidak hanya menyebutnya dengan Monumen Juang 45, warga pula sering menyebutnya selaku“ Arca Buto” ataupun arca raksasa. Bentuknya menggambarkan wujud makhluk besar bermata bundar, berhidung jambu, serta bergigi besar yang jatuh roboh tangan rakyat. Penjajah berubah dengan cerminan raksasa memanglah sangat pas. Kedigdayaan penjajah bisa mewakili watak raksasa besar yang tidak terkalahkan serta 19 patung- patung kecil selaku simbol rakyat pribumi.

Arca terletak pada atas kolam dengan sebagian air mancur. Tidak hanya arca, monumen ini pula kelilingi dengan 8 pagar pada bagian tepi. Pagar ini menyiratkan simbol- simbol budaya Jawa serta bacaan proklamasi kemerdekaan.

Buat Kamu yang tertarik mau mengenang jasa pahlawan ini, dapat tiba langsung ke Monumen Juang 45 yang terletak pas di depan Stasiun Malang Kota Baru. Dan jangan kurang ingat buat terus menekuni sejarah perjuangan para pahlawan kita.

Read More

Rumah Adat Tongkonan : Rumah Asli Toraja

Rumah Adat Tongkonan sebagai Rumah Adat yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan dengan filosofi Aluk Todolo. Rumah Tongkonan juga menjadi simbol martabat keluarga dari masyarakat Toraja sehingga pembangunannya tidak sembarangan. Dengan bentuk desain, hingga posisi rumah dan tiang-tiangnya rumah adat ini memiliki nilai serta arti yang berbeda-beda.

Pertama, posisi rumah menghadap ke utara yang mengartikan di mana lokasi dari Puang Matua Yang Mahakuasa, yaitu di arah utara. Kini rumah adat sudah tak banyak digunakan sebagai hunian karena telah membangun rumah biasa. Rumah adat ini kemudian dialih fungsikan menjadi pusat budaya masyarakat Toraja.

Rumah adat ini juga difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan sosial hingga tempat upacara religi bagi keluarga yang memiliki rumah tersebut. Selain itu rumah adat tradisional, rumah ini juga dapat digunakan sebagai menyimpan padi.

Menurut buku karya Kasdar berjudul Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018), pembuatan Rumah Adat Tongkonan bermula dari perkenalan tempat tinggal yang beratap daun dan berdindingkan tebing, serta tiangnya yang berbentuk segitiga. Rumah Adat Tongkonan juga sebagai peralihan ke masa pengenalan empat tiang.

Berikutnya, pada masa penyempurnaannya masyarakat juga mengenal ornamen berupa simbol penanda status sosial seseorang pada pemilik rumah. Kian banyak tanduk kerbau yang dipasang pada bagian atas rumah adat tongkonan maka kian tinggi juga di strata sosial yang ia miliki penghuni rumah tersebut.

Jenis Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat Tongkonan memiliki jenis yang beragam. Tiap rumah sendiri dibuat berbeda didasarkan pada peran pemimpinnya. Dahulu, rumah tongkonan hanya diperuntukkan untuk raja, kepala suku beserta keturunannya. Rumah adat tongkonan sendiri memiliki bentuk menyerupai perahu Kerajaan China. Berikut ini beberapa jenis Rumah adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Tongkonan Pekamberan

Jenis Rumah Adat Tongkonan yang pertama adalah Tongkonan Pekamberan. Jenis Rumah Adat Tongkonan ini sendiri secara khusus dibangun bagi para keluarga besar dari tokoh masyarakat yang memiliki otoritas tinggi di masyarakat.

Rumah Adat Tongkonan Pekamberan umumnya digunakan oleh para penguasa untuk mengatur proses pemerintahan adat Toraja. Dengan keberadaan Tongkonan Pekamberan kemudian mewajibkan pada keluarga turunan pemiliknya kemudian melanjutkan tugas menjaga tradisi untuk kemudian mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Tongkonan Layuk

Tongkonan Layuk sebagai Jenis Rumah Adat Tongkonan selanjutnya. Tongkonan Layuk sebagai jenis rumah adat yang pertama kali menjadi pusat pemerintahan. Urusan-urusan kekuasaan dan pemerintahan kemudian dilangsungkan di rumah Tongkonan Layuk ini.

Selain itu Rumah Tongkonan Layuk juga menjadi salah satu simbol masyarakat Toraja sesuai cerminan para leluhurnya. Rumah Adat Tongkonan Batu A’riri juga kerap digunakan oleh masyarakat Toraja sebagai rumah para keluarga biasa dan digunakan sebagai hunian yang berukuran tidak terlalu besar dibandingkan rumah Tongkonan lainnya.

Tongkonan Batu Ariri

Tongkonan batu Ariri merupakan rumah tongkonan ketiga. Meski berperan sebagai tempat pembinaan keluarga di suku Toraja yang hendak membangun rumah Tongkonan pertama kali, Rumah adat Toraja ini tidak memiliki kekuasaan dalam adat.

Keunikan Rumah Adat Tongkonan

Kini rumah adat Tongkonan tak lagi difungsikan sebagai rumah tinggal saja karena hampir setiap penduduk yang menghuni rumah ini juga membangun rumah tinggalnya sendiri. Pada mulanya rumah adat Tongkonan kerap digunakan sebagai salah satu pusat budaya bagi para masyarakat Toraja.

Rumah adat tongkonan ini juga kerap digunakan sebagai tempat upacara religi bagi keluarga yang menghuninya. Rumah Tongkonan juga digunakan sebagai rumah tradisional atau banuan bahkan menjadi sebuah lumbung padi.

Sesuai nilai filosofisnya, rumah adat Tongkonan seluruh aspek kehidupan yang ada dengan ukuran yang luas. Oleh karenanya masyarakat Toraja juga sangat mensakralkan rumah Tongkonan hingga kini. Tiap ruang pada Rumah Adat Tongkonan memiliki fungsi yang berbeda-beda, berikut penjelasannya.

Banua Sang Borong

Bangunan ini juga disebut Barung-barung. Banua sang sorong atau atau Sang Lanta merupakan bagian rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan saja karena tidak memiliki penyekat antara ruangan. Ruangan ini juga kerap difungsikan untuk melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Banua Sang Borong memiliki bentuk ruang tanpa sekat sehingga hanya berbentuk satu ruangan saja, sehingga semua kegiatan dilakukan dalam satu ruangan tersebut. Bangunan ini kerap dibangun bagi utusan dari seorang penguasa adat.

Rumah Adat Tongkonan

Banua Duang Lanta

Banua Duang Lanta sebagai rumah tradisional yang tidak mempunyai peranan adat dan umumnya merupakan rumah keluarga. Bangunan Banua Duang Lanta terdiri dari dua jenis ruang, yaitu sali dan sumbung. Sumbung sebagai ruangan yang terletak di bagian selatan difungsikan sebagai tempat beristirahat.

Sali juga kerap diletakan pada bagian utara rumah. Ruangan ini juga lebih rendah 30-40cm dari sumbung. Meski berukuran lebih luas dan panjang karena di ruang inilah tempat seseorang memasak, dan tempat menyimpan jenazah bila ada yang meninggal namun belum atau akan diupacarakan.

Meskipun demikian rumah adat ini juga berfungsi sebagai Tongkonan Batu A’riri yang lazim disebut Banua Pa’rapuan yaitu rumah persatuan keluarga dari golongan rendah yang disebut kasta Tana’ Kua-Kua atau Tana’ Karurung.

Banua Talung Lanta

Bangunan Rumah Adat Tongkonan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Tangdo yang terletak pada area bagian utara rumah dan berfungsi sebagai kamar tidur Wanita yang belum menikah.

Sali sebagai ruang tamu utama keluarga pada Rumah Adat Tongkonan. Ruang ini juga kerap dilengkapi dengan perapian yang terletak di bagian timur. Terdapat kotak kayu persegi panjang atau disebut juga ‘dapo’ yang berfungsi sebagai tempat memasak sekaligus perapian karena cuaca Toraja yang cenderung dingin.

Dapo terletak di sebelah timur Rumah Adat Tongkonan karena makanan berkaitan erat juga dengan ritual-ritual. Sali juga difungsikan sebagai tempat tidur pria yang belum menikah pada Rumah Adat Tongkonan.

Sumbung pada ruangan ini terletak di Selatan Rumah Adat Tongkonan. Di bagian ini, tuan rumah dan istrinya kemudian beristirahat, ruang ini juga difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga dalam keranjang atau batang besar yang memiliki sebutan ‘batutu’.

Umumnya Banua Tallung Lanta’ merupakan rumah adat yang mempunyai peranan Tongkonan Kaparengngesan (Pekaindoran atau Pekambaran), yaitu sebagai Pemerintahan Adat Toraja.

Meskipun terdapat juga rumah Banua Tallung Lanta’ yang tidak memiliki peranan adat yang disebut Tongkonan Batu A’riri milik bangsawan sebagai rumah pertalian keluarga semata. Kedua jenis tongkonan ini juga memiliki pembeda melalui simbol-simbol yang digunakan.

Misalnya pada Rumah Adat terdapat simbol Kabongo atau bentuk kepala kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan, selain itu terdapat juga Katik bentuk kepala ayam yang berada di atas Kabongo dan A’riri Posi’ juga merupakan tiang tengah bangunan.

Pada tongkonan ini tak hanya terdapat simbol-simbol. Perbedaan ini juga terdapat jenis ukiran yang dipergunakan pada Tongkonan. Pada tongkonan rumah adat harus terdapat ukiran Matahari atau Pa’barre Allo, Kepala kerbau atau Pa’ tedong, Ayam jantan atau Pa’ manuk Londong dan jalur-jalur lurus atau Pa’sussuk.

Banua Patang Lanta

Banua Patang lantai pada Rumah Adat Tongkonan terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Banua Patang Lanta’ di lalang tedong dan Banua Patang Lanta’ di salembe. Banua Patang Lanta’ ini terbagi juga empat ruang, yakni Inan Kabusungan yang berada pada bagian selatan Rumah Adat Tongkonan dan difungsikan sebagai ruang utama tempat menyimpan segala peralatan adat dan pusaka, selain itu Sumbung yang digunakan sebagai kamar tidur, Sali Tangnga juga memiliki ukuran yang lebih panjang jika dibandingkan dengan ruang lainnya karena difungsikan sebagai tempat berkegiatan bagi anggota keluarga pada Rumah Adat Tongkonan, Sali Iring sebagai ruang paling rendah yang biasanya digunakan sebagai tempat menerima tamu keluarga untuk tempat istirahat para asisten rumah tangga.

Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Bagian Rumah adat Tongkonan pada area atapnya memiliki bentuk yang paling mencolok, sebab berbentuk seperti perahu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini juga kemudian juga digunakan sebagai simbol pengingat bahwa leluhurnya menggunakan perahu untuk sampai ke Pulau Sulawesi. Berikut ini beberapa ciri khas Rumah Adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Bangunan Berbentuk Pohon Pipit

Pada Tahap awal dari perkembangan Rumah Adat Tongkonan adalah rumah dengan bentuk pohon pipit. Keunikan Rumah Adat Tongkonan ini ada pada bangunan dari rumah adat yang berada di atas pohon dan terbuat dari susunan ranting pohon pada sebuah dahan besar. Atap pada rumah ini terbuat dari rumput yang disusun seperti sarang burung pipit.

Atap Berbentuk Perahu

Atap pada Rumah Adat Tongkonan berbentuk seperti perahu dan kedua ujungnya berbentuk seperti busur. Menurut legenda Toraja, mereka datang dari utara melalui laut dan terperangkap dalam badai yang dahsyat.

Lalu, perahu rusak parah sehingga tidak bisa berlaut. Sehingga mereka kemudian menggunakan perahu sebagai bentuk atap Rumah Adat Tongkonan mereka dengan arah yang selalu menghadap ke utara.

Patung Kepala Kerbau

Salah satu bagian yang menonjolkan keunikan pada Rumah Adat Tongkonan adalah terdapat pada patung kepala kerbau yang terpasang pada bagian atas rumah. Kepala kerbau ini juga dipasang dan memiliki tiga jenis yaitu kerbau hitam, kerbau putih, dan kerbau belang.

Selain itu patung kepala kerbau, pada Rumah Adat Tongkonan juga terdapat beberapa patung tambahan. Biasanya pemilik Rumah Adat Tongkonan menggunakan patung naga atau patung kepala ayam. Arti dari pada patung tersebut adalah sebagai tanda bahwasannya pemilik Rumah Adat Tongkonan tersebut adalah orang yang dituakan.

Ornamen Unik

Rumah Adat Tongkonan memiliki berbagai macam ornamen yang unik. Warna yang mendominasi ornamen-ornamen adalah warna hitam dan merah. Pada bagian dinding dan atap pelananya, terdapat desain spiral, geometris, dan motif kepala kerbau serta ayam jantan yang diwarnai warna putih, merah, kuning dan hitam.

Warna-warna ini mewakili berbagai festival Aluk To Dolo (Jalan Leluhur), yakni agama asli Toraja. Warna-warna tersebut juga memiliki makna berbeda dimana warna Hitam melambangkan kegelapan dan kematian, warna Kuning bermakna berkat dan kuasa Tuhan, warna Putih sebagai warna ulang yang memiliki arti kemurnian dan warna Merah atau warna daging yang melambangkan warna darah dan kehidupan manusia.

Empat Warna Dasar

Ciri khas lain dari Rumah Adat Tongkonan adalah empat warna dasar yang setiap warnanya memiliki makna-makna tersendiri. Warna-warna dasar ini diantaranya warna merah seperti darah yang melambangkan kehidupan manusia.

Kemudian warna kuning yang berarti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Warna dasar lainnya adalah adalah warna hitam yang berarti kematian dan warna putih yang melambangkan warna tulang yang berarti suci atau bersih.

Tanduk Kerbau Depan Rumah

Pada bagian depan Rumah Adat Tongkonan, di bawah atap yang menjulang tinggi, orang Toraja memasang tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau sendiri melambangkan banyaknya pemakaman yang telah keluarga pemilik tongkonan lakukan. Tanduk kerbau ini juga melambangkan seberapa tinggi derajat keluarga itu. Kian banyak tanduk kerbau, maka status sosialnya pun semakin tinggi.

Konstruksi Tanpa Paku

Struktur Rumah Adat Tongkonan terbuat di atas tiang kayu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini terbuat dari bambu berlapis, dan konstruksi kayu rumahnya sengaja dirakit tanpa menggunakan paku. Bahan-bahan ini juga bergabung dengan daun kelapa, rotan, dan berbagai jenis kayu seperti kayu ulin, dan kayu jati. Rumah Adat Tongkonan juga memakai konstruksi yang serupa di seluruh wilayah.

Bentuk Rumah Adat Tongkonan

Read More