Cerita Rakyat Panji Asal Malang

Tarian panji yang disuguhkan Sanggar Asmoro Bangun Kedungmonggo dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagian waktu kemudian membuat ratusan hadirin di Kota Tua Jakarta, terpaku.

Walaupun tidak seluruh mengerti dengan bahasa Jawa, gerakan lincah para penari yang diiringi gamelan membuat para pemirsa betah melihat. Tarian tersebut ialah bagian dari Festival Sastra ASEAN, ALF 2017, yang di dalamnya menunjukkan Festival Budaya Panji.

Tokoh utamanya merupakan Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggala serta Dewi Sekartaji alias Dewi Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Kediri.

“ Kisah- kisah Panji itu biasanya menggambarkan pengembaraan Panji menciptakan Dewi Sekartaji. Tetapi, dalam pengembaraan itu tumbuh paling tidak 15 cerita. Intinya merupakan roman, cerita percintaan,” jelas Tri Handoro, pemimpin Sanggar Tari Asmoro Bangun, kepada BBC Indonesia.

Semenjak masa Majapahit

Kumpulan cerita Panji sejatinya dituturkan semenjak jaman Kerajaan Majapahit. Bersamaan berjayanya kerajaan itu, cerita Panji juga menyebar ke bermacam wilayah.

“ Cerita Panji terkenal semenjak abad ke- 13 setelah itu menyebar turut dengan Majapahit ke Bali, Lombok, serta Sulawesi Selatan. Cerita itu kemudian menyeberang ke Malaysia. Di situ namanya hikayat. Setelah itu cerita itu hingga ke Thailand, namanya Inao,” kata mantan Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro.

Penyebaran cerita panji ke mancanegara semenjak berabad kemudian diamini Nooriah binti Mohamed, periset budaya Jawa dari Universitas kebangsaan Malaysia.

Baginya, bersumber pada bacaan sejarah Melayu ataupun the Malay Annals, penyebaran cerita Panji ke Tanah Melayu dimungkinkan berkat pernikahan Raja Malaka, Sultan Mansyur Syah, dengan gadis raja dari Majapahit.

“ Saat ini ini masih terdapat generasi Jawa di Malaysia. Mereka meneruskan budaya serta bahasa dari leluhurnya. Dalam perihal ini, cerita Panji jadi tradisi verbal yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,” kata Nooriah.

Jejak cerita Panji di beberapa wilayah bisa ditelusuri lewat naskah- naskah kuno. Periset naskah- naskah ini merupakan Roger Tol dari Universitas Leiden, Belanda.

Ia berkata ada 5 manuskrip cerita Panji di Bibliotek Negeri, Malaysia; satu naskah di Bibliotek Kamboja; 76 naskah di Bibliotek Nasional, Indonesia; serta 250 naskah di Bibliotek Leiden, Belanda.

“ Naskah- naskah ini ditulis dalam bahasa setempat. Di Indonesia, misalnya, terdapat dalam bahasa Bugis, Jawa Kuno, Aceh. Setelah itu bahasa Khmer di Kamboja serta bahasa Melayu di Malaysia. Yang tertua kami temukan itu dari tahun 1725, bahannya daun lontar,” kata Tol.

Read More

Batik Malang Kucecwara : Batik Asli Malang dengan Filosofi Tradisional

Batik telah menempel dengan warga Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Malang. Semenjak abad XIX saja, upacara tradisional di Malang telah mengharuskan pemakaian medhang koro alias hiasan kepala, udeng, serta sewek dengan motif batik. Dulu, motif batik yang digunakan merupakan motif Sidomukti. Bersamaan berkembangnya era, motif batik Malangan terus menjadi tumbuh, salah satunya terdapat motif batik Malang Kucecwara.

Karakteristik Batik Malang Kucecwara

Karakteristik khas utama batik ini merupakan motif khas Malangan semacam mahkota, tugu Malang, rumbai singa, patung, bunga teratai, sulur- sulur pula isen- isen berupa belah ketupat. Nyatanya motif yang diseleksi ini bukan hanya mencerminkan ikon- ikon Malang, tetapi motif batik Malang Kucecwara ini pula mempunyai filosofi tertentu.

Mahkota

Motif awal ialah mahkota. Ikon ini bukan sembarang mahkota, tetapi wujud mahkota dari raja Gajayana yang sempat bawa kerajaan Gajayana terletak pada puncak kejayaannya. Dengan motif ini, terdapat harapan batik Malang Kucewara bisa jadi batik yang bawa Malang pada puncak kejayaan seperti mahkota mendampingi raja Gajayana.

Tugu Malang

Malang identik dengan tugunya. Tidak hanya jadi ikon kota Malang, motif Tugu diseleksi sebab mencerminkan kekuasaan daerah, ketegaran serta keperkasaan.

Bunga Teratai

Semacam Tugu Malang yang tidak lepas dari bunga teratai, begitu pula dalam motif batik Malang Kucecwara ini. Bunga Teratai menggambarkan sesuatu keelokan alam yang penuh kesuburan.

Rumbai Singa

Bukan jadi perihal yang asing ya bila Singa jadi salah satu animal spirit masyarakat Malang. Semacam ikon sepak bolanya, Arema yang dijuluki Singo Edan, rumbai singa pada batik Malang Kucecwara melambangkan jiwa warga Malang yang pemberani, mempunyai semangat membara, serta pantang menyerah.

Arca

Dalam motif batik ini, patung candi Singosari mewakili salah satu peninggalan budaya Malang. Tidak hanya itu, patung ini menegaskan pada kejayaan Singhasari, salah satu kerajaan terbanyak yang terdapat di Malang.

Sulur- sulur

Motif sulur- sulur jadi lambang kehidupan yang senantiasa bekembang tetapi tidak abadi, sebagaimana tiap manusia kesimpulannya hendak mati. Sulur- sulur yang bersambung satu sama lain menggambarkan generasi penerus yang hendak terus melanjutkan serta melestarikan tujuan kehidupan.

Isen- isen Belah Ketupat

Isen- isen ini diambil dari relief candi Badut, yang dimaknai selaku pengakuan kalau manusia tidaklah makhluk sempurna. Terdapat lepat dalam kata ketupat, suatu pengakuan kalau manusia tentu melaksanakan kesalahan.

Filosofi Batik Malang Kucecwara

Dari filosofi- filosofi tersebut, diharapkan terdapatnya sesuatu keluhuran dari pemakainya buat senantiasa jadi pemberani, menghargai kehidupan, bertanggung jawab dengan penuh rasa hormat, serta menyayangi area sekitarnya.

Read More

Monumen Juang 45, Bukti Perjuangan Bangsa Indonesia

Selaku kota sejarah, Kota Malang mempunyai banyak sekali monumen- monumen berarti. Salah satunya Monumen Juang 45. Wujudnya yang unik serta menarik menjadikan monumen ini selaku salah satu tempat wisata budaya yang harus Kamu kunjungi.

Monumen ini terletak Jalur Kertanegara, tepatnya terletak depan Stasiun Kotabaru Malang. Tidak jauh dari Monumen Juang 45 ada sebagian posisi lain yang bisa kamu kunjungi ialah Taman Pintar Trunojoyo, Balaikota Malang serta Taman Tugu.

Berdimensi 10 x 40 m, dengan panjang pondasi 6, 90 m, panjang 3, 30 m, serta besar 2 m. Posisinya yang strategis membuat monumen ini gampang ditemui. Bangunan ini pula nampak jelas walaupun dari jarak 10 m.

Monumen Juang 45 mulai berdiri pada 20 Mei 1975 dengan ilham berawal dari pemerintah wilayah Kota Malang.

Monumen ini buat mengenang Kembali sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Pula ialah pembangkit semangat patriotisme kanak- kanak muda Kota Malang. Pahlawan kala itu sudah berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tidak hanya menyebutnya dengan Monumen Juang 45, warga pula sering menyebutnya selaku“ Arca Buto” ataupun arca raksasa. Bentuknya menggambarkan wujud makhluk besar bermata bundar, berhidung jambu, serta bergigi besar yang jatuh roboh tangan rakyat. Penjajah berubah dengan cerminan raksasa memanglah sangat pas. Kedigdayaan penjajah bisa mewakili watak raksasa besar yang tidak terkalahkan serta 19 patung- patung kecil selaku simbol rakyat pribumi.

Arca terletak pada atas kolam dengan sebagian air mancur. Tidak hanya arca, monumen ini pula kelilingi dengan 8 pagar pada bagian tepi. Pagar ini menyiratkan simbol- simbol budaya Jawa serta bacaan proklamasi kemerdekaan.

Buat Kamu yang tertarik mau mengenang jasa pahlawan ini, dapat tiba langsung ke Monumen Juang 45 yang terletak pas di depan Stasiun Malang Kota Baru. Dan jangan kurang ingat buat terus menekuni sejarah perjuangan para pahlawan kita.

Read More

Rumah Adat Tongkonan : Rumah Asli Toraja

Rumah Adat Tongkonan sebagai Rumah Adat yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan dengan filosofi Aluk Todolo. Rumah Tongkonan juga menjadi simbol martabat keluarga dari masyarakat Toraja sehingga pembangunannya tidak sembarangan. Dengan bentuk desain, hingga posisi rumah dan tiang-tiangnya rumah adat ini memiliki nilai serta arti yang berbeda-beda.

Pertama, posisi rumah menghadap ke utara yang mengartikan di mana lokasi dari Puang Matua Yang Mahakuasa, yaitu di arah utara. Kini rumah adat sudah tak banyak digunakan sebagai hunian karena telah membangun rumah biasa. Rumah adat ini kemudian dialih fungsikan menjadi pusat budaya masyarakat Toraja.

Rumah adat ini juga difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan sosial hingga tempat upacara religi bagi keluarga yang memiliki rumah tersebut. Selain itu rumah adat tradisional, rumah ini juga dapat digunakan sebagai menyimpan padi.

Menurut buku karya Kasdar berjudul Arsitektur Benteng dan Rumah Adat di Sulawesi (2018), pembuatan Rumah Adat Tongkonan bermula dari perkenalan tempat tinggal yang beratap daun dan berdindingkan tebing, serta tiangnya yang berbentuk segitiga. Rumah Adat Tongkonan juga sebagai peralihan ke masa pengenalan empat tiang.

Berikutnya, pada masa penyempurnaannya masyarakat juga mengenal ornamen berupa simbol penanda status sosial seseorang pada pemilik rumah. Kian banyak tanduk kerbau yang dipasang pada bagian atas rumah adat tongkonan maka kian tinggi juga di strata sosial yang ia miliki penghuni rumah tersebut.

Jenis Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat Tongkonan memiliki jenis yang beragam. Tiap rumah sendiri dibuat berbeda didasarkan pada peran pemimpinnya. Dahulu, rumah tongkonan hanya diperuntukkan untuk raja, kepala suku beserta keturunannya. Rumah adat tongkonan sendiri memiliki bentuk menyerupai perahu Kerajaan China. Berikut ini beberapa jenis Rumah adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Tongkonan Pekamberan

Jenis Rumah Adat Tongkonan yang pertama adalah Tongkonan Pekamberan. Jenis Rumah Adat Tongkonan ini sendiri secara khusus dibangun bagi para keluarga besar dari tokoh masyarakat yang memiliki otoritas tinggi di masyarakat.

Rumah Adat Tongkonan Pekamberan umumnya digunakan oleh para penguasa untuk mengatur proses pemerintahan adat Toraja. Dengan keberadaan Tongkonan Pekamberan kemudian mewajibkan pada keluarga turunan pemiliknya kemudian melanjutkan tugas menjaga tradisi untuk kemudian mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Tongkonan Layuk

Tongkonan Layuk sebagai Jenis Rumah Adat Tongkonan selanjutnya. Tongkonan Layuk sebagai jenis rumah adat yang pertama kali menjadi pusat pemerintahan. Urusan-urusan kekuasaan dan pemerintahan kemudian dilangsungkan di rumah Tongkonan Layuk ini.

Selain itu Rumah Tongkonan Layuk juga menjadi salah satu simbol masyarakat Toraja sesuai cerminan para leluhurnya. Rumah Adat Tongkonan Batu A’riri juga kerap digunakan oleh masyarakat Toraja sebagai rumah para keluarga biasa dan digunakan sebagai hunian yang berukuran tidak terlalu besar dibandingkan rumah Tongkonan lainnya.

Tongkonan Batu Ariri

Tongkonan batu Ariri merupakan rumah tongkonan ketiga. Meski berperan sebagai tempat pembinaan keluarga di suku Toraja yang hendak membangun rumah Tongkonan pertama kali, Rumah adat Toraja ini tidak memiliki kekuasaan dalam adat.

Keunikan Rumah Adat Tongkonan

Kini rumah adat Tongkonan tak lagi difungsikan sebagai rumah tinggal saja karena hampir setiap penduduk yang menghuni rumah ini juga membangun rumah tinggalnya sendiri. Pada mulanya rumah adat Tongkonan kerap digunakan sebagai salah satu pusat budaya bagi para masyarakat Toraja.

Rumah adat tongkonan ini juga kerap digunakan sebagai tempat upacara religi bagi keluarga yang menghuninya. Rumah Tongkonan juga digunakan sebagai rumah tradisional atau banuan bahkan menjadi sebuah lumbung padi.

Sesuai nilai filosofisnya, rumah adat Tongkonan seluruh aspek kehidupan yang ada dengan ukuran yang luas. Oleh karenanya masyarakat Toraja juga sangat mensakralkan rumah Tongkonan hingga kini. Tiap ruang pada Rumah Adat Tongkonan memiliki fungsi yang berbeda-beda, berikut penjelasannya.

Banua Sang Borong

Bangunan ini juga disebut Barung-barung. Banua sang sorong atau atau Sang Lanta merupakan bagian rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan saja karena tidak memiliki penyekat antara ruangan. Ruangan ini juga kerap difungsikan untuk melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Banua Sang Borong memiliki bentuk ruang tanpa sekat sehingga hanya berbentuk satu ruangan saja, sehingga semua kegiatan dilakukan dalam satu ruangan tersebut. Bangunan ini kerap dibangun bagi utusan dari seorang penguasa adat.

Rumah Adat Tongkonan

Banua Duang Lanta

Banua Duang Lanta sebagai rumah tradisional yang tidak mempunyai peranan adat dan umumnya merupakan rumah keluarga. Bangunan Banua Duang Lanta terdiri dari dua jenis ruang, yaitu sali dan sumbung. Sumbung sebagai ruangan yang terletak di bagian selatan difungsikan sebagai tempat beristirahat.

Sali juga kerap diletakan pada bagian utara rumah. Ruangan ini juga lebih rendah 30-40cm dari sumbung. Meski berukuran lebih luas dan panjang karena di ruang inilah tempat seseorang memasak, dan tempat menyimpan jenazah bila ada yang meninggal namun belum atau akan diupacarakan.

Meskipun demikian rumah adat ini juga berfungsi sebagai Tongkonan Batu A’riri yang lazim disebut Banua Pa’rapuan yaitu rumah persatuan keluarga dari golongan rendah yang disebut kasta Tana’ Kua-Kua atau Tana’ Karurung.

Banua Talung Lanta

Bangunan Rumah Adat Tongkonan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Tangdo yang terletak pada area bagian utara rumah dan berfungsi sebagai kamar tidur Wanita yang belum menikah.

Sali sebagai ruang tamu utama keluarga pada Rumah Adat Tongkonan. Ruang ini juga kerap dilengkapi dengan perapian yang terletak di bagian timur. Terdapat kotak kayu persegi panjang atau disebut juga ‘dapo’ yang berfungsi sebagai tempat memasak sekaligus perapian karena cuaca Toraja yang cenderung dingin.

Dapo terletak di sebelah timur Rumah Adat Tongkonan karena makanan berkaitan erat juga dengan ritual-ritual. Sali juga difungsikan sebagai tempat tidur pria yang belum menikah pada Rumah Adat Tongkonan.

Sumbung pada ruangan ini terletak di Selatan Rumah Adat Tongkonan. Di bagian ini, tuan rumah dan istrinya kemudian beristirahat, ruang ini juga difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga dalam keranjang atau batang besar yang memiliki sebutan ‘batutu’.

Umumnya Banua Tallung Lanta’ merupakan rumah adat yang mempunyai peranan Tongkonan Kaparengngesan (Pekaindoran atau Pekambaran), yaitu sebagai Pemerintahan Adat Toraja.

Meskipun terdapat juga rumah Banua Tallung Lanta’ yang tidak memiliki peranan adat yang disebut Tongkonan Batu A’riri milik bangsawan sebagai rumah pertalian keluarga semata. Kedua jenis tongkonan ini juga memiliki pembeda melalui simbol-simbol yang digunakan.

Misalnya pada Rumah Adat terdapat simbol Kabongo atau bentuk kepala kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan, selain itu terdapat juga Katik bentuk kepala ayam yang berada di atas Kabongo dan A’riri Posi’ juga merupakan tiang tengah bangunan.

Pada tongkonan ini tak hanya terdapat simbol-simbol. Perbedaan ini juga terdapat jenis ukiran yang dipergunakan pada Tongkonan. Pada tongkonan rumah adat harus terdapat ukiran Matahari atau Pa’barre Allo, Kepala kerbau atau Pa’ tedong, Ayam jantan atau Pa’ manuk Londong dan jalur-jalur lurus atau Pa’sussuk.

Banua Patang Lanta

Banua Patang lantai pada Rumah Adat Tongkonan terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Banua Patang Lanta’ di lalang tedong dan Banua Patang Lanta’ di salembe. Banua Patang Lanta’ ini terbagi juga empat ruang, yakni Inan Kabusungan yang berada pada bagian selatan Rumah Adat Tongkonan dan difungsikan sebagai ruang utama tempat menyimpan segala peralatan adat dan pusaka, selain itu Sumbung yang digunakan sebagai kamar tidur, Sali Tangnga juga memiliki ukuran yang lebih panjang jika dibandingkan dengan ruang lainnya karena difungsikan sebagai tempat berkegiatan bagi anggota keluarga pada Rumah Adat Tongkonan, Sali Iring sebagai ruang paling rendah yang biasanya digunakan sebagai tempat menerima tamu keluarga untuk tempat istirahat para asisten rumah tangga.

Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Bagian Rumah adat Tongkonan pada area atapnya memiliki bentuk yang paling mencolok, sebab berbentuk seperti perahu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini juga kemudian juga digunakan sebagai simbol pengingat bahwa leluhurnya menggunakan perahu untuk sampai ke Pulau Sulawesi. Berikut ini beberapa ciri khas Rumah Adat Tongkonan yang perlu kamu ketahui:

Bangunan Berbentuk Pohon Pipit

Pada Tahap awal dari perkembangan Rumah Adat Tongkonan adalah rumah dengan bentuk pohon pipit. Keunikan Rumah Adat Tongkonan ini ada pada bangunan dari rumah adat yang berada di atas pohon dan terbuat dari susunan ranting pohon pada sebuah dahan besar. Atap pada rumah ini terbuat dari rumput yang disusun seperti sarang burung pipit.

Atap Berbentuk Perahu

Atap pada Rumah Adat Tongkonan berbentuk seperti perahu dan kedua ujungnya berbentuk seperti busur. Menurut legenda Toraja, mereka datang dari utara melalui laut dan terperangkap dalam badai yang dahsyat.

Lalu, perahu rusak parah sehingga tidak bisa berlaut. Sehingga mereka kemudian menggunakan perahu sebagai bentuk atap Rumah Adat Tongkonan mereka dengan arah yang selalu menghadap ke utara.

Patung Kepala Kerbau

Salah satu bagian yang menonjolkan keunikan pada Rumah Adat Tongkonan adalah terdapat pada patung kepala kerbau yang terpasang pada bagian atas rumah. Kepala kerbau ini juga dipasang dan memiliki tiga jenis yaitu kerbau hitam, kerbau putih, dan kerbau belang.

Selain itu patung kepala kerbau, pada Rumah Adat Tongkonan juga terdapat beberapa patung tambahan. Biasanya pemilik Rumah Adat Tongkonan menggunakan patung naga atau patung kepala ayam. Arti dari pada patung tersebut adalah sebagai tanda bahwasannya pemilik Rumah Adat Tongkonan tersebut adalah orang yang dituakan.

Ornamen Unik

Rumah Adat Tongkonan memiliki berbagai macam ornamen yang unik. Warna yang mendominasi ornamen-ornamen adalah warna hitam dan merah. Pada bagian dinding dan atap pelananya, terdapat desain spiral, geometris, dan motif kepala kerbau serta ayam jantan yang diwarnai warna putih, merah, kuning dan hitam.

Warna-warna ini mewakili berbagai festival Aluk To Dolo (Jalan Leluhur), yakni agama asli Toraja. Warna-warna tersebut juga memiliki makna berbeda dimana warna Hitam melambangkan kegelapan dan kematian, warna Kuning bermakna berkat dan kuasa Tuhan, warna Putih sebagai warna ulang yang memiliki arti kemurnian dan warna Merah atau warna daging yang melambangkan warna darah dan kehidupan manusia.

Empat Warna Dasar

Ciri khas lain dari Rumah Adat Tongkonan adalah empat warna dasar yang setiap warnanya memiliki makna-makna tersendiri. Warna-warna dasar ini diantaranya warna merah seperti darah yang melambangkan kehidupan manusia.

Kemudian warna kuning yang berarti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Warna dasar lainnya adalah adalah warna hitam yang berarti kematian dan warna putih yang melambangkan warna tulang yang berarti suci atau bersih.

Tanduk Kerbau Depan Rumah

Pada bagian depan Rumah Adat Tongkonan, di bawah atap yang menjulang tinggi, orang Toraja memasang tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau sendiri melambangkan banyaknya pemakaman yang telah keluarga pemilik tongkonan lakukan. Tanduk kerbau ini juga melambangkan seberapa tinggi derajat keluarga itu. Kian banyak tanduk kerbau, maka status sosialnya pun semakin tinggi.

Konstruksi Tanpa Paku

Struktur Rumah Adat Tongkonan terbuat di atas tiang kayu. Atap Rumah Adat Tongkonan ini terbuat dari bambu berlapis, dan konstruksi kayu rumahnya sengaja dirakit tanpa menggunakan paku. Bahan-bahan ini juga bergabung dengan daun kelapa, rotan, dan berbagai jenis kayu seperti kayu ulin, dan kayu jati. Rumah Adat Tongkonan juga memakai konstruksi yang serupa di seluruh wilayah.

Bentuk Rumah Adat Tongkonan

Read More

Tradisi Nelayan Lampon Banyuwangi : Petik Laut

Dalam rangka menyambut perayaan tahun baru penanggalan Jawa, nelayan di kawasan pesisir Lampon, Kecamatan Pesanggaran menggelar tradisi petik laut, Kamis (20/8). Tradisi ini digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan selama setahun.

Petik Laut adalah warisan leluhur dan merupakan bentuk sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mengais rezeki. Setiap tahun para nelayan setempat melaksanakan acara adat Petik Laut.

Sesaji Petik Laut

Sama dengan perayaan tradisi petik laut lainnya, mereka melarung sesaji ke tengah laut menggunakan perahu. Sesaji berupa kepala sapi, dan sejumlah hasil bumi dan laut diangkut menggunakan perahu mini, serta dilarung nelayan.

Ketua Panitia Petik Laut Marsudi mengatakan pihaknya telah merencanakan kegiatan ini selama satu bulan penuh, mengingat adanya pandemi corona. Panitia pun berupaya menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Semua yang terlibat ritual pasti memakai masker. Selain itu, penonton juga dibatasi,” kata Marsudi.

Selain larung sesaji, di lokasi tersebut juga diadakan selamatan dengan mengadakan wayang kulit. “Setelah pagelaran wayang kulit ini, kami langsung melarung sesaji,” ujarnya.

Marsudi menambahkan, tradisi ini di gelar untuk memohon kepada Tuhan agar para nelayan diberi keselamatan dan rezeki yang melimpah saat bekerja di laut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi kegiatan petik laut lampon serta persiapan panitia penyelenggara yang mengadakan prosesi petik laut dengan protokol kesehatan.

“Setiap kegiatan keramaian maupun upacara keagaamaan harus tetap menggunakan protokol kesehatan, dengan tetap menggunakan masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan,” kata Bupati Anas.

Pantai Lampon di Jawa Timur yang menjadi lokasi petik laut ini memiliki pemandangan yang cukup indah dengan banyaknya pohon kelapa di pesisir pantainya.

Read More

Budaya Jawa Timur : Tari Reog Ponorogo

Kesenian Reog Ponorogo jadi salah satu hasil budaya yang khas dari Jawa Timur yang belakanagan dikabarkan hendak diajukan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization( UNESCO).

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia serta Kebudayaan( Menko PMK) Muhadjir Effendy memohon supaya pemerintah Ponorogo secepatnya menganjurkan Reog Ponorogo ke UNESCO selaku Peninggalan Budaya Bukan Barang( Intangible Cultural Heritagen/ ICH).” Buat Reog, Negeri Malaysia rencananya ingin ajukan pula, hingga dari itu kita wajib lebih dahulu. Sebab ini kan telah jadi budaya serta peninggalan kita,” jelas Muhadjir.

Tari Reog Ponorogo merupakan seni tari tradisional warga Ponorogo yang pula diketahui dengan istilah Barongan. Tarian ini menunjukkan singo barong, wujud dengan topeng macan berhias bulu merak dengan dimensi sangat besar serta ditarikan dengan gerakan yang meliuk- liuk.

Sejarah Tari Reog Ponorogo

Mengutip dari Antara, kesenian Reog Ponorogo tercatat dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan dengan bertepatan pada 760M dan prasasti Kerajaan Kediri pada tahun 1045 Meter.

Ada sebagian tipe dari sejarah terciptanya kesenian Tari Reog Ponorogo ini yang merujuk pada peristiwa serta legenda di wilayah setempat. Mengutip Kompas. com, berikut sejarah Tari Reog Ponorogo yang berkaitan dengan peristiwa di masa dulu sekali.

1. Legenda Singo Barong

Cerita awal merupakan cerita Kelana Sewandana, wujud Raja Bantarangin yang bermaksud melamar Dewi Sanggalangit seseorang gadis raja di Kediri.

Selaku ketentuan, Kelana Sewandana wajib mengalahkan singo barong yang terletak di Alas Roban. Dia bawa beberapa pasukan berkuda yang sayangnya dengan gampang dikalahkan oleh singo barong. Kelana Sendawa setelah itu memakai sumping di telinganya yang menjelma jadi 2 ekor merak yang alihkan atensi singo barong.

Berkat metode tersebut, singo barong terpesona dengan Merak dengan gampang dikalahkan memakai Pecut Saman yang dibawanya. Acara perkawinan Kelana Sewandana serta Dewi Sanggalangit setelah itu diiringi dengan hadirnya singo barong dengan 2 ekor merak bertengger di atas kepalanya.

2. Cerita Ki Ageng Kutu

Sedangkan cerita kedua berasal dari cerita Ki Ageng Kutu, abdi Raja Brawijaya V yang meninggalkan Majapahit. Ki Ageng Kutu setelah itu mendirikan padepokan Surukubeng yang mengarahkan ilmu kanuragan dengan game barongan.

Sayangnya Raja Brawijaya V malah menyangka Ki Ageng Kutu tidak ingin lagi menjajaki titahnya serta berkhianat. Setelah itu diutuslah Raden Katong buat melanda padepokan itu serta berakhir dengan kekalahan Ki Ageng Kutu. Selaku imbalan, Raja Brawijaya V membagikan Raden Katong tanah perdikan di Wengker.

Arti Tari Reog Ponorogo

Reog ataupun Reyog diucap berasal dari kata Riyokun yang berarti khusnul khotimah yang diambil dari cerita perjuangan Raden Katong mengalahkan Ki Ageng Kutu.

Perihal ini tidak jauh dari arti tari tradisional ini yang mengisahkan tentang peperangan. Tetapi terdapat pula yang mengartikan tarian ini selaku sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Brawijaya V yang tunduk kepada istrinya.

Raja Brawijaya V diibaratkan selaku seekor macan yang ditunggangi oleh merak, sedangkan para pasukan majapahit dilambangkan oleh penari jathil dengan kuda- kudanya. Sedangkan Ki Ageng Kutu ditafsirkan selaku warok yang bernazar melindungi tanpa pamrih.

Sebab terdapatnya cerita percintaan, terkadang mencuat pula wujud Kelana Sewandana dengan patihnya Bujang Ganong. Cerita percintaan ini biasa dimainkan apabila pertunjukkan Reog Ponorogo diadakan dalam kegiatan perkawinan.

Iringan serta Properti Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo dimainkan dengan iringan gamelan serta lagu- lagu tradisional. Oleh karenanya, umumnya dalam iringan tari terdapat 2 kelompok ialah pemain gamelan serta penyanyi. Sedangkan itu properti tari yang digunakan pula dibedakan buat masing- masing penari.

Penari barongan memakai kostum ditambah topeng Singo Barong serta dadak merak, Dadak merak berdimensi besar dibuat dari bulu burung merak yang disusun pada lembaran bambu ataupun rotan.

Dadak merak ini populer sebab mempunyai berat menggapai 30- 50kg serta cuma dikendalikan dengan kekuatan gigi ataupun rahang dari penarinya. Buat warok, tidak hanya kostum mereka pula hendak memakai topeng serta bawa cemeti ataupun pecut.

Para jathilan tidak hanya memakai kostum dengan selendang, mereka pula bawa jaranan ataupun kuda- kudaan dari anyaman bambu. Sedangkan Klono Sewandono serta patihnya Bujang Ganong hendak memenuhi penampilan kostumnya dengan menggunakan topeng.

Read More

Mengenal Aksara Lota Ende, Dimanakah Sekarang?

Tidak banyak yang mengenali apabila di kawasan Nusa Tenggara Timur, spesialnya Kabupaten Ende, Pulau Flores ada aksara asli wilayah tersebut yang diucap dengan Lota. Ada pula pengguna terbanyak aksara Lota di masa kemudian ialah warga etnis Ende yang beragama Islam. Mereka tinggal di Kecamatan Ende, Ende Selatan, Ende Utara serta Nangapanda.

Aksara Lota ialah salah satu kebudayaan khas Nusantara turunan langsung dari aksara Bugis. Orang Bugis yang menetap di Ende bawa dan peradaban serta kebudayaannya, tercantum aksaranya. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk ke Ende dekat abad ke- 16, semasa Pemerintahan Raja Goa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin( 1593- 1639). Dalam proses menyesuaikan diri, aksara Bugis di Ende tumbuh cocok sistem Bahasa Ende serta jadi aksara Lota.

Lota berasal dari kata lontar. Pada mulanya aksara Ende ditulis pada daun lontar, setelah itu dalam perkembangannya ditulis di kertas. Bahasa Ende merupakan bahasa bersuku kata terbuka. Kata lontar berganti jadi lota. Bunyi konsonan n pada lon, serta r pada tar lenyap.

Ada 8 aksara Lota Ende yang tidak terdapat dalam aksara Bugis, ialah bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga serta rha. Kebalikannya terdapat 6 aksara Bugis yang tidak ada dalam aksara Lota Ende, ialah ca, ngka, mpa, nra, nyca serta nya.

Aksara Lota Ende telah diteliti beberapa ahli linguistik serta filologi. Antara lain S Ross yang tahun 1872 menulis novel Controleer Onder Afdeelingen Endeh. Dia mempelajari sederetan aksara Ende yang dilansir dalam TBG XXIV, setelah itu dibukukan oleh Suchtelen tahun 1921 dalam Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores.

Aksara Lota Ende pula diteliti Jan Djou Gadi Ga’ a tahun 1959, 1978, 1984, serta Maria Matildis Banda mempelajari tahun 1993 dengan sokongan dana dari Ford Foundation. Bagi Maria, tradisi menulis aksara Lota terabaikan sehabis aksara latin diketahui. Tidak hanya itu orang tua lebih mementingkan pengetahuan membaca serta menulis aksara Arab daripada aksara Ende. Profesor. Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada di Ende melaporkan kalau aksara Ende tercantum tipe silabik( syllabic writing, syllabibography, syllable writing) yang menggambarkan suku- suku kata, mirip dengan hiragana Jepang. Jadi bukan alphabet semacam huruf latin.

Djawanai menganjurkan supaya tradisi penyusunan aksara Lota dibesarkan lewat jalan pembelajaran. Strateginya menjadikan aksara Lota selaku salah satu pelajaran muatan lokal. Anjuran tersebut pantas jadi atensi. Bila proses re- genarisi terputus, dapat jadi generasi masa depan NTT tinggal mengenang aksara Lota selaku sejarah.

Read More

3 Upacara Adat, Budaya Khas Kota Malang

Di Malang, Jawa Timur, ada juga beberapa upacara adat budaya yang tak akan kamu temui di tempat lain. Kalau tertarik untuk menyaksikan, pastikan kamu mencatat waktunya dengan benar, ya.

Kirab Sesaji

Tahun Baru Islam alias satu Muharam lebih dikenal dengan sebutan ‘satu suro’ bagi masyarakat Jawa dan telah diperkenalkan sejak dahulu kala oleh Sultan Agung (Raja Mataram Islam). Momen ini dianggap sebagai momen yang sakral.

Oleh karena itu, hingga kini masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan perayaan pada hari tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Di Malang, perayaan ini disebut dengan Kirab Sesaji. Ritual dilakukan dengan cara mengelilingi desa di kawasan Gunung Kawi, tepatnya di Wonosari. Warga akan mengenakan pakaian adat Jawa sembari membawa sesaji dan gunung ke makam Eyang Junggo dan Iman Soedjono.

Sesampainya di lokasi tersebut, pemimpin upacara akan membacakan doa-doa. Selepas itu, gunungan yang berisi tumpeng dan aneka makanan akan diperebutkan oleh warga.

Perayaan ini juga dimeriahkan oleh banyak penari mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Tak lupa, ogoh-ogoh besar juga ikut meramaikan upacara adat ini untuk kemudian dibakar sebagai simbol menjauhkan diri dari bahaya.

Entas-Entas

Upacara adat ini merupakan bagian dari adat suku Tengger yang berada di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo, Malang. Tradisi entas-entas diadakan sebagai bagian dari upacara kematian dan umumnya digelar pada hari ke-44 atau 1.000 setelah meninggal.

Adapun kata ‘entas-entas’ sendiri diartikan sebagai gambaran untuk mengangkat derajat arwah leluhur yang telah meninggal sehingga mendapat tempat yang lebih baik. Rangkaian entas-entas terdiri atas ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.

Pelaksanaan upacara ini pun akan menggunakan boneka (disebut ‘petra’) yang terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini akan disucikan oleh pemangku adat setempat sebagai media arwah yang didatangkan kembali.

Grebeg Tirto Aji

Satu lagi upacara adat yang dilakukan oleh suku Tengger di Malang adalah Grebeg Tirto Aji. Upacara sakral ini diselenggarakan untuk menyambut hari besar Yadya Kasada yang biasanya dirayakan pada hari ke-14 bulan Kasada.

Salah satu rangkaian Grebeg Tirto Aji adalah pengambilan air suci yang berada di Pemandian Wendit, Pakis. Menurut kepercayaan, air ini bersumber dari Gua Widodaren yang ada di Gunung Bromo. Oleh karena leluhur Gunung Bromo dan Wendit masih bersaudara, air tersebut diyakini dapat memberi kesuburan bagi tanah Tengger sekaligus kesehatan bila diminum.

Dulunya, masyarakat suku Tengger datang sendiri-sendiri untuk melakukan upacara budaya ini. Namun sejak tahun 2016, pemerintah setempat mengakomodasi kegiatan tersebut dan menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata tersendiri.

Read More

Tari Beskalan, Makna Tari Asli Malang

Tari beskalan ialah salah satu kesenian khas Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bagi Hidrajat( 2012), seni tari yang tidak sering ditampilkan di depan publik ialah tarian ritual yang berkaitan dengan ritus tanah. Sebutan beskalan berasal dari kata bakalan ataupun dimaksud selaku seni yang ditampilkan di jalanan semacam pengamen pada masa kini.

Tari beskalan mulai hidup bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan ludruk di Malang ialah pada kisaran tahun 1930- an. Awal mulanya, kesenian tari beskalan ditarikan oleh pria yang memakai pakaian wanita dengan gerakan yang lincah, dinamis, serta feminim selaku cerminan tarian seseorang wanita.

Tari beskalan memadukan style busana penari gambyong dengan penari topeng malangan yang diisyarati dengan sebagian identitas, ialah hiasan kepala, busana, bawahan, gerakan, serta musik pengiring.

Hiasan kepala dengan menata rambut memakai sanggul serta cudhuk menthul yang dihias memakai melati. Penerapan tari beskalan diiringi oleh alunan gamelan jawa berlaras slendro.

Sejarah Tari Beskalan

Sejarah tari beskalan bagi Ayah Yongki Irawan, sebagai staf Dewan Kesenian Malang menarangkan kalau tari beskalan dikira selaku tari yang timbul awal kali. Dekat tahun 1920- an, lahir seseorang penari legendaris beskalan bernama Miskayah berasal dari Desa Ngadirekso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Cerita dini dari tari beskalan bermula dikala Miskayah masih berumur belasan tahun. Dia telah bekerja jadi tandak pada andong. Pada sesuatu dikala, Miskayah sakit yang tidak dikenal sebabnya sehingga tidak dapat menari, setelah itu dia bermimpi berjumpa dengan seseorang gadis dari kerajaan Mataram yang bernama Proboretno.

Dalam mimpinya, Gadis Proboretno lagi mencari pacarnya bernama Baswara, seseorang laki- laki muda asal Cirebon serta berpesan“ Miskayah, ayo turut saya. Kalian hendak sembuh dari sakitmu serta hendak saya ajari menari. Namun kalian wajib menolong saya mencari pemuda yang bernama Baswara”.

Dikala itu pula, Miskayah terbangun serta langsung menari dan memohon tariannya diiringi dengan kendang, mendadak itu pula dia sembuh. Pada semasa hidupnya, Miskayah merupakan seseorang penari andong yang lumayan populer.

Miskayah pula menggambarkan kalau tarian yang dia jalani dikala terkena sakit misterius itu merupakan tari beskalan, tarian yang jadi sumber pertumbuhan tari tayub serta tari remo gadis.

Keunikan Budaya Tari Beskalan

Tari beskalan memiliki keunikkan ialah senantiasa digunakan oleh warga selaku tarian pembuka pada suatu kegiatan, diawali semenjak tari beskalan awal kali terdapat serta masih dicoba hingga dikala ini. Pada era dahulu, tari beskalan digunakan buat memulai suatu ritual.

Ritual tersebut selaku wujud penghormatan kepada roh leluhur Dewi Sri. Dewi Sri dipercaya selaku Dewi Kesuburan dikala hendak menanam padi. Bagi Irawan( 2012), tari beskalan merupakan tarian yang menggambarkan terdapatnya seseorang gadis yang lagi merias membuat cantik dirinya.

Dilansir dalam blogkulo. com, Ayah Yongki Irawan menarangkan kalau tari beskalan telah diteliti serta dipopulerkan kembali oleh Alm. A. Munardi, seseorang koreografer dari Yogyakarta yang berdomisili di Kota Surabaya.

Tari beskalan dipopulerkan kembali oleh Alm. A. Munardi lewat Konservatori Karawitan Indonesia Surabaya. Koreografi tari beskalan disusun serta disempurnakan kembali oleh Ayah Chattam AR. Tari beskalan sempat memperoleh pengakuan dari Belanda serta membagikan pesan apresiasi.

Fungsi Tari Beskalan

Semacam telah dipaparkan di atas kalau awal mulanya tari beskalan difungsikan selaku tari ritual ritus tanah. Ritual tersebut dicoba dikala warga membuka lahan baru. Ritual ritus tanah dimaksudkan selaku wujud penghormatan kepada perwujudan tanah yang sudah membagikan rezeki melimpah.

Terdapat sebagian sesi yang wajib dilewati saat sebelum tari beskalan ditarikan semacam memulai penggalian tanah dengan diadakan upacara penanaman tumbal yang umumnya berbentuk kepala kerbau selaku kurban. Tari beskalan selaku simbol yang sama dengan Cok Bakal yang berarti simbol dari seluruh kehidupan.

Bersamaan dengan pertumbuhan era, guna tari beskalan telah tidak digunakan selaku tarian ritual melainkan digunakan selaku tarian buat menyongsong tamu.

Read More

Festival Malang Tempoe Doeloe : Edukasi Sejarah Lewat Festival

Pernah nggak, kalian penasaran benda-benda atau hal-hal apa saja yang pernah populer di zaman dahulu? Seperti apa yang orang zaman dulu lakukan untuk menghibur diri sebelum adanya teknologi canggih masa kini. Atau makanan-makanan khas Malang yang mereka makan. 

Di Festival Malang Tempoe Doeloe, kita punya kesempatan untuk menyicipi kuliner jadul, menonton pertunjukan wayang dan musik tradisional, maupun pernak-pernik khas jaman dulu! Festival ini diadakan oleh Pemerintah Kota Malang yang bekerja sama dengan Yayasan Inggil. Tujuan diadakannya festival ini adalah untuk merawat dan melestarikan budaya asli Malang sekaligus menarik minat para pemuda dan pemudi untuk merawat sejarah.

Festival Malang Tempoe Doeloe ini biasanya diadakan setiap bulan Mei tiap tahunnya. Ia merupakan bagian dari serangkaian acara peringatan HUT Kota Malang. 

Di festival ini kamu bisa menemukan banyak kegiatan dan pameran yang seru buat dikunjungi. Festival Malang Tempoe Doeloe biasa diadakan di sepanjang Ijen Boulevard dan tentu saja kunjungan ke museum Brawijaya juga menjadi salah satu atraksi menarik dari festival ini. 

Di festival kamu bisa mendapatkan pengalaman layaknya kembali ke zaman dahulu melalui visualisasi foto tempo doeloe, ejaan tempo doeloe, alat angkut tempo doeloe, gambar replika tempo doeloe, replika bangunan tempo doeloe, busana tempo doeloe, teknologi tempo doeloe, kuliner tempo doeloe, dan kesenian tempo doeloe.
Tidak hanya itu, setiap malam akan ada pementasan wayang serta musik-musik tradisional khas Malangan. Tidak ketinggalan makanan tradisional khas tempo dulu yang dijual di festival ini, seperti cenil, ketan, gatot jagung, gulali, arbanat, roti moho, kacang godok, arumanis, dan krupuk miler. 

Namun, yang membuat lebih terasa tempoe doeloenya adalah dekorasi stan toko yang terbuat dari bambu dan jerami serta dresscode wajib pengunjung adalah pakaian-pakaian jadul. Tidak sedikit pengunjung yang datang dengan berkebaya dan jarit. Terdengar meriah dan asyik, kan?

Jika kalian sedang berkunjung ke Malang ketika festival ini diadakan, jangan lupa pamer ke teman-teman di sosial media kalau kamu sedang kembali ke masa lampau.

Read More