Monthly Archives: May 2010

H A K I K A T S E N I – Membaca Kembali Prasasti Sukawana, Bali Tahun 891

oleh Sugi Lanus|Sastra Bali|Universitas Udayana Sukawana adalah sebuah desa dalam jajaran desa-desa tua di pegunungan Bali. Pura Penulisan dan Pura Balingkang mengapitnya. Sebuah kawasan yang bertutur banyak ketika seseorang hendak merunut perjalanan kebudayaan Bali. Kawasan arkeologis abad-abad awal masa keberaksaraan

H A K I K A T S E N I – Membaca Kembali Prasasti Sukawana, Bali Tahun 891

oleh Sugi Lanus|Sastra Bali|Universitas Udayana Sukawana adalah sebuah desa dalam jajaran desa-desa tua di pegunungan Bali. Pura Penulisan dan Pura Balingkang mengapitnya. Sebuah kawasan yang bertutur banyak ketika seseorang hendak merunut perjalanan kebudayaan Bali. Kawasan arkeologis abad-abad awal masa keberaksaraan

PRASASTI BALI 1011 & SANG HYANG CATUR DANU

Gerakan Penyelamatan Simpul-simpul Air oleh Sugi LANUS JIKA India diberkahi Sang Pencipta dengan berkembangnya tradisi suci di sepanjang aliran sungai Gangga, maka Bali diberkahi Sang Pencipta dengan berkembangnya tradisi pertanian dan berbagai upakara (tradisi suci) yang berpusat di pinggir Sang

PRASASTI BALI 1011 & SANG HYANG CATUR DANU

Gerakan Penyelamatan Simpul-simpul Air oleh Sugi LANUS JIKA India diberkahi Sang Pencipta dengan berkembangnya tradisi suci di sepanjang aliran sungai Gangga, maka Bali diberkahi Sang Pencipta dengan berkembangnya tradisi pertanian dan berbagai upakara (tradisi suci) yang berpusat di pinggir Sang

PUH, KAPUPUHAN dan PUPUH

PUH, KAPUPUHAN & PUPUH Sugi Lanus | Sarjana Sastra Bali Apakah kesedihan menjadi pokok persoalan atau pokok (pohon) tumbuhnya kemajuan renungan manusia? Dalam Bahasa Jawa Kuna, kata PUH dalam Bahasa Jawa Kuna berarti: “Patah, putus, retak, remuk, hancur, patah hati,

PUH, KAPUPUHAN dan PUPUH

PUH, KAPUPUHAN & PUPUH Sugi Lanus | Sarjana Sastra Bali Apakah kesedihan menjadi pokok persoalan atau pokok (pohon) tumbuhnya kemajuan renungan manusia? Dalam Bahasa Jawa Kuna, kata PUH dalam Bahasa Jawa Kuna berarti: “Patah, putus, retak, remuk, hancur, patah hati,

Hari Galungan: Perayaan Eling (Ingat) Melawan Lupeng (Lupa) ©SL

Sugi Lanus|Sarjana Sastra Bali Geguritan Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), mengatakan bahwa tradisi Galungan ditegakkan oleh Dalem Sri Aji Jayasunu. Tidak disebutkan Raja Jaya Sunu

Hari Galungan: Perayaan Eling (Ingat) Melawan Lupeng (Lupa) ©SL

Sugi Lanus|Sarjana Sastra Bali Geguritan Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), mengatakan bahwa tradisi Galungan ditegakkan oleh Dalem Sri Aji Jayasunu. Tidak disebutkan Raja Jaya Sunu

MEMBESUK KISAH-KISAH MAYADANAWA

Merayakan Galungan Bersama Raja Berkepala Binatang (2) oleh Sugi Lanus Apakah Mayadanawa merupakan tokoh sejarah atau fiksi? Terkaitkah Galungan dengan kisah Mayadanawa? Apa yang bisa dikatakan sudah jelas, sampai saat ini belum ditemukan prasasti (bukti sejarah berupa keluaran resmi raja)

MEMBESUK KISAH-KISAH MAYADANAWA

Merayakan Galungan Bersama Raja Berkepala Binatang (2) oleh Sugi Lanus Apakah Mayadanawa merupakan tokoh sejarah atau fiksi? Terkaitkah Galungan dengan kisah Mayadanawa? Apa yang bisa dikatakan sudah jelas, sampai saat ini belum ditemukan prasasti (bukti sejarah berupa keluaran resmi raja)

GAJAH MADA, KACANG PANJANG DAN ETIKA PERJAMUAN RAJA BEDAHULU ©SL

Orang tua saya mengajari saya “etika makan Raja Bedahulu”. Bunyinya kurang lebih seperti ini: Jangan mendongakkan wajah saat menyuap makanan, dan jangan mengeluarkan suara capluk-capluk saat mengunyah. [Capluk-capluk adalah suara mulut babi saat makan]. Etika makan tersebut disertai sebuah kisah,

GAJAH MADA, KACANG PANJANG DAN ETIKA PERJAMUAN RAJA BEDAHULU ©SL

Orang tua saya mengajari saya “etika makan Raja Bedahulu”. Bunyinya kurang lebih seperti ini: Jangan mendongakkan wajah saat menyuap makanan, dan jangan mengeluarkan suara capluk-capluk saat mengunyah. [Capluk-capluk adalah suara mulut babi saat makan]. Etika makan tersebut disertai sebuah kisah,

REKOMENDASI BUDAYA SANUR

REKOMENDASI BUDAYA SANUR* Para peserta Dialog Sastra, Filsafat dan Kebudayaan, yang bertema: “Humanisme dan Etos Kreatifitas”, dalam rangka Sanur Village Festival 2009, setelah menimbang dan mendiskusikan berbagai persoalan kebudayaan Bali, bersepakat untuk merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Denpasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan

REKOMENDASI BUDAYA SANUR

REKOMENDASI BUDAYA SANUR* Para peserta Dialog Sastra, Filsafat dan Kebudayaan, yang bertema: “Humanisme dan Etos Kreatifitas”, dalam rangka Sanur Village Festival 2009, setelah menimbang dan mendiskusikan berbagai persoalan kebudayaan Bali, bersepakat untuk merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Denpasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan

UNDANGAN NONTON WAYANG

MediaHindu|Edisi 77|Juli 2010 oleh Sugi LANUS Dalam pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yg bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum. 1. Tualen, dia

UNDANGAN NONTON WAYANG

MediaHindu|Edisi 77|Juli 2010 oleh Sugi LANUS Dalam pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yg bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum. 1. Tualen, dia

Seven Years in Tibet, Kontrak Politik Pilkada Denpasar, dan lain-lain

Kurang lebih settingnya seperti ini: Seorang pendaki gunung datang, lalu bertanya pada penduduk lokal, “Adakah penduduk di sini yang sudah sampai puncak Everest?” “Buat apa?”, penduduk lokal menjawab. “Kami datang dari Eropa untuk mendaki dan menundukkan puncak-puncak tertinggi itu,” kata

Seven Years in Tibet, Kontrak Politik Pilkada Denpasar, dan lain-lain

Kurang lebih settingnya seperti ini: Seorang pendaki gunung datang, lalu bertanya pada penduduk lokal, “Adakah penduduk di sini yang sudah sampai puncak Everest?” “Buat apa?”, penduduk lokal menjawab. “Kami datang dari Eropa untuk mendaki dan menundukkan puncak-puncak tertinggi itu,” kata